selamat jalan philip

Akhirnya, kebersamaanku dan Philip hanya sehari saja. Setelah di suatu malam dingin dimana seorang anak kecil menjatuhkan Philip ke tanganku, kemudian dengan waktu yang amat cepat ia dijemput sang pemilik takdir menuju tempat baru. Meski pertemuan itu beberapa saat, hanya 24 jam, tapi merupakan suatu hal menyedihkan jika kau tak lagi bisa melihat orang yang kau sayangi. Dan itu, untuk selamanya.

Masih ingat dengan tulisanku tentang semut itu kan? Hewan yang sangat aku benci, menyebalkan serta hewan tidak sopan yang kerap mengakuisisi kopi? Nah, makhluk memuakkan itu yang melakukannya.

Kira-kira pukul delapan malam, Philip yang kutempatkan di dalam kotak bersama sepiring susu dan bubur roti, rupanya sudah dikerumuni semut kecil. Lalu segera kubersihkan seluruh tubuhnya dari semut-semut tadi. Kubalut ia dengan kain kecil agar tak kedinginan. Setelah itu Philip kumasukkan ke sangkar burung murai. Maksudku, supaya ia bisa bergerak nyaman dan leluasa. Karena sangkar burung murai itu cukup lebar dan tinggi.

Sebenarnya, hati nurani mengatakan bahwa keadaan Philip tidak akan aman bila ditinggal sendirian. Tapi, aku ini hampir selalu mengabaikan hati nurani. Aku sering tidak mempercayainya, padahal pada kenyataannya, jika hati nurani berfatwa, seringkali betul ada kejadiannya.

Nah, kepergian Philip ini cukup menyedihkan bagiku. Orang lain mungkin menganggapku lebay. Baru satu hari memiliki, tiba kehilangan, sudah nyelenehnya demikian. Ah, peduli amat. Aku memang mudah menaruh simpati, empati dan rasa kasihan terhadap sesama makhluk, tak terkecuali pada hewan. Apalagi Philip sudah mengerti dan mengenal orang yang mengasuhnya. Seperti ketika aku mengelusnya, matanya tertutup seperti tertidur. Philip juga mau minum susu dan bubur roti dari tanganku. Aku sayang Philip. Begitulah, sifat alamiah memang tak bisa disembunyikan. Tapi satu yang pasti, kesedihan karena kehilangan Philip masih bisa kuatasi dengan mengingat, bahwa ia kembali ke tempat Tuhan, tempat yang lebih baik dari tempatku tentunya.

Dua jam kemudian, aku pulang ke rumah dan menyempatkan diri mengintip Philip di sangkar burung murai. Kuperhatikan, kuamati, tapi Philip diam. Sangkar murai yang tergantung di besi kanopi kuturunkan. Dan Philip, telah berakhir di tangan semut-semut bangsat itu. Keadaannya menyedihkan, laksana mutilasi. Bulunya rontok, matanya bolong dan kaki mungilnya putus…

Tengah malam itu juga Philip kubersihkan. Kubungkus ia dengan koran bekas. Kuletakkan di teras samping rumah. Aku ingin proses ‘ritua’ terhadap Philip terjadi secara normal dan wajar. Coba pikirkan. Tak ada orang yang melakukan ritual terhadap jenazah pada tengah malam kan? Tak seorangpun yang ingin itu terjadi. Kecuali bandit atau penjahat yang berbuat tindak kriminal.

Keesokan paginya, aku bergegas menuju teras samping rumah untuk menjalankan prosesi. Namun Philip hilang. Ia tak ada lagi…

2 pemikiran pada “selamat jalan philip

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s