Philip, bertahanlah…

Malam itu, seorang anak membawa seekor burung kecil berwarna hitam di tangannya. Burung super mini, matanya belum terbuka dan belum bisa terbang pula.

“bukan kuambil dari sarangnya kak. Burung ini aku temukan di pinggir jalan, mungkin terjatuh dari pohon” ujarnya agak cemburut saat ia kuinterogasi tentang burung tersebut. Kemudian ia pun berlalu sambil menyodorkan burung kecil itu ke tanganku, “nih, untuk kakak saja”.

Syahdan, burung itupun menjadi milikku (sementara). Suaranya riuh dan kencang. Kubelai perlahan dengan tanganku yang cukup kasar. Kasihan sekali, bulunya belum tumbuh betul, tubuh mungilnya masih lemah dan ia kedinginan. Pasti Philip butuh belaian dan dekapan ibunya. Lalu kumasukkan ia ke dalam sangkar burung murai milik ayah. Kututupi dengan rumput gajah varigata, biar ia merasa hangat. Untungnya, mereka bisa hidup harmonis.

Oya, aku menamainya Philip, meski sampai sekarang aku belum tahu ordo dan jenis kelamin burung tersebut. Nama Philip kuambil dari dari nama His Royal Highness The Duke of Cambridge, William Philip Louis. Beliau adalah raja Inggris yang diinginkan oleh rakyatnya. Menurut sejumlah survey yang dilaksanakan jauh sebelum pernikahan William, telah menempatkannya menjadi calon raja yang diinginkan rakyat Inggris. Jadi bila besar nanti, si Philip bisa seperti Raja Inggris yang dicintai seluruh makhluk dunia. Dicintai dan dikasihi, bisa terbang bebas kemanapun ia mau, tanpa gangguan dari tangan-tangan usil penghuni bumi.

Tapi, Philip juga punya nama yang sama dengan merk bohlamp, dengan slogannya yang terkenal ‘terus terang Philip terang terus’. Semoga begitu juga dengan nasib si Philip.

Pagi ini, Philip aku tempatkan di dalam kotak bekas minuman ringan nutri jeruk. Jadilah ia punya rumah baru. Sebelumnya, kotak itu kulapisi dengan koran dan lebih banyak rumput gajah verigata. Kucoba membuatnya lebih nyaman agar ia bertahan.

Karena aku tidak tahu persis makanan baby bird, kuberi saja Philip minum susu dan bubur roti. Senangnya, Philip mau meminum susu serta mengunyah bubur roti tadi dari jari telunjukku. Mungkin terpaksa kali ya… Makanya ia ‘ngoceh’ terus. Atau apa kelakuan baby bird memang begitu?

Ohh…, sayang sekali di kota kecil ini tidak ada Dokter Hewan. Seandainya ada, segera Philip kutitipkan di klinik agar terawat dengan baik. Setidaknya Dokter hewan mengerti mimik muka, suara dan gerak tubuh hewan. Malangnya, mereka, Dokter Hewan itu, tidak begitu diperlukan oleh penduduk kampung kami. Penduduk disini memiliki sifat kanibal dan tak kenal mengasihani sesama makhluk. Sudah sering kuperhatikan penduduk kampungku menyiksa hewan. Seperti menendang kucing kecil, memakan ayam peliharaan sendiri, membiarkan ikan mas koki hidup tersiksa di aquarium yang airnya berlumut, mengikat kaki kumbang kelapa dan menerbangkannya bak layang-layang, juga membunuh kepik dan mengubur belalang hidup-hidup.

Tuhan, tolong jaga Philip ya. Jika Philip mulai besar, sehat, dan semakin kuat, ia akan kulepas ke alam bebas.

Satu pemikiran pada “Philip, bertahanlah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s