Maafkan Aku, Elena (kisah cinta seorang gay)

Entah, tapi beginilah…

Pasrah? Tak tahu. Tapi aku akan tetap bertahan. Sebab ini jalanku, pilihan hidupku. Cest’ La Vie.

“sampai kapan?” Tanya Reno memelas. Ia memegang tanganku erat. Sangat erat. Aku bisa membaca tabiatnya yang seperti ini. Sudah seringkali, terlebih saat dimana aku berbicara pada Elena melalui telpon. Reno tersinggung dan memegang tanganku. Lebih tepat, ia meremasnya. Tak ingin aku pergi meski sedetikpun. Ia melingkarkan tangannya, memelukku dari belakang. “kamu tahu kan, kalo aku cinta mati sama kamu. Kalo kamu ninggalin aku, hal buruk akan terjadi. Aku nekat melakukan apapun” bisiknya lirih. Reno adalah kekasihku. Seperti ia, aku juga mencintainya. He’s my femme.

Akhir-akhir ini aku sering bertemu Reno. Kalau tidak di Hotel pinggiran kota, di tempat pemandian arah Sibolangit, juga di kos-kosan Reno. Kalau Reno dan aku tidak ada kegiatan, kami menghabiskan malam berduaan. Kami sengaja memilih tempat yang jauh dari pusat kota agar cukup aman. Kau tahulah apa yang terjadi kemudian.

Aku mengelus kepala Reno, berusaha menenangkannya sekaligus agar ia tak mengungkit soal Elena lagi. Selain itu agar kami tak ribut. Capek rasanya tiap hari bertengkar dengan Reno, ditambah lagi menghadapi suasana perang dingin dengan keluargaku. Rasanya kepalaku mau pecah terjebak dalam situasi ini. Di satu sisi, aku tidak bisa meninggalkan keluargaku, di sisi lain, aku tidak bisa jauh dari Reno. Im addicted to him. Actually im gay. Aku baru menyadari hal ini. Itupun setelah dekat dengan Reno.

Bagaimana dengan Elena? Jujur, aku sangat mencintai Elena. Gadis manis berkulit kuning langsat yang satu kampus denganku. Elena sangat menggemaskan, lincah, dan sederhana. Meski memakai make-up seadanya, hal itu malah membuatnya istimewa. Tak sedikit yang tertarik dengan juniorku itu. Tapi entah mengapa Elena memilihku.

“aku suka kak Adit. Serius, waktu pertama ketemu, aku exited sama kak Adit” ujarnya suatu hari saat aku main basket di halaman basket fakultas. Elena mendatangiku. Kala itu, hanya ada kami berdua. “kakak cool, gak norak, gak sok cakep, beda sama yang lain” Kulihat pancaran kejujuran di wajah imutnya. Aku terdiam. Ungkapan perasaan Elena hanya menyakitiku. “kakak belum punya pacar kan? Aku tahu itu. Karena aku lihat kakak gak pernah dekat sama cewek, gak pernah jalan berdua, dan pokoknya, gak ada tanda-tanda kalo kak Adit dah punya pacar” senyum jenaka Elena mengajakku larut bersamanya. Elena memang menakjubkan. Setiap canda dan tawa renyahnya, menjadikan ia sangat menawan. Namun cintaku pada Elena, tidak seperti cinta yang diperuntukkan oleh seorang kekasih pada gadisnya. Tidak! Aku mencintai Elena hanya sebagai adik. Tak lebih. Aku ingin melindungi dan menjaganya. Aku tak ingin ia diganggu siapapun, tak ingin ia menangis apalagi sampai keceriaannya sirna.

“tindakanmu itu malah akan menyakitinya, Adit sayang! Please… aku gak bisa kalo gini terus. Aku gak suka kalo dia dekat-dekat kamu, sok care dan manja-manja gak jelas gitu” ucap Reno serentak dengan ia melepaskan pelukannya dariku. Kali ini suara Reno meninggi.

“Ren, tolong jangan ngomong gitu tentang Elena. Aku dekat dengan Elena karena aku sayang sama dia. Ini gak ada hubungannya sama kamu” jawabku juga dengan suara meninggi.

“ya jelaslah ada hubungannya. Kamu kan pacar aku Dit. Bukan Elena!”

“aku ngerti Ren. Tapi tolong, ngertiin aku juga. Aku sekarang musti musti berpura-pura dan menjaga statusku di depan semua orang terlebih Elena. Dan lagipula,”

“Elena datang lebih dulu dari aku, gitu?!!” Reno memotong bicaraku sambil melempar bantal ke arahku. Ia terduduk, menyandarkan kepalanya ke dinding kamar Hotel.

“of course Ren. Tapi aku mencintaimu lebih dari apapun. Believe me…” kurendahkan nada suaraku. Kemudian aku mendatangi Reno, kudekap ia. “I love you ever after till death us apart, beb”

Bergegas aku masuk ke kamar mandi. Kubiarkan air dari kran berwarna merah mengguyur kepalaku. Hangat. Lumayan, bisa melonggarkan pikiranku yang seperti terhimpit beban jutaan ton pemberat. Kemudian kukenakan kemeja dan celana jeans yang sudah kupersiapkan semalam sebelum berangkat. Ruteku hari ini, ke kampus, latihan bersama band ku di studio, main basket untuk persiapan pekan olah raga mahasiswa, dan pulang ke rumah. Elena? Aku masih memikirkan 2 cara. Pertama, bagaimana aku harus menghindarinya. Kedua, menceritakan tentangku yang sebenarnya.

“aku langsung ke kampus sayang”, kukecup kening Reno dengan penuh cinta. “kamu nginap disini sehari lagi ato gimana?” tanyaku menuju pintu depan kamar hotel. Ingin segera aku keluar dari kepenatan ini.

“ngapain juga nginap disini kalo kamu gak ada” jawabnya ketus sambil membuang pandang ke jendela.

“iya sih. Aku banyak kerjaan. Belum tau kita bisa ketemu ato nggak hari ini. Kalo gak, nginapnya kamu perpanjang aja. Ntar aku usahain deh ke hotel ini lagi”

“jangan kamu pikir itu membuatku senang Dit. Aku Cuma mau kamu utuh. Titik!” Awal aku berkenalan dengannya, Reno memang terlihat keras kepala dan posesif. Sikap posesifnya itu membuat kami sering ribut.

“aku harus apa sayang?” tanyaku masih berusaha menenangkannya.

“segera temui Elena, dan katakan padanya kalau kamu hanya mencintai aku. Aku mau kamu ngelakuinnya hari ini. Gak ada tawar-menawar lagi. Atau, biar aku yang melakukannya!”

Aku hanya tersenyum. Kalau kubalas, perbincangan ini hanya akan berhujung pertengkaran. Tapi aku juga harus mengakhiri sandiwaraku di depan Elena. Bagaimanapun, cepat atau lambat gadis itu pasti akan tahu.

***

Sore ini, lapangan basket kampus ramai sekali. Banyak mahasiswa menggunakan lapangan ini sebgai tempat latihan. Selain dekat, lapangan ini juga luas. Disini bisa bermain 2 team sekaligus.
Dari kejauhan, kulihat Elena menenteng gelas minum yang biasa ia berikan padaku. Perih rasanya melihat gadis manis ini, juga menerima kebaikannya.

“kak Adit” teriaknya sambil mengacungkan gelas minum berwarna orange ke udara.

Elena mendekat ke arahku. Dengan cepat aku menarik lengannya menuju tempat duduk di pinggir lapangan.

“Elena” panggilku.

“ya kak…?”

“kamu masih ingat dengan lelaki yang bersamaku kemarin lalu? Rambut tipis, putih bersih dan memakai kaos hitam lengan panjang?”

“iya. Kenapa kak?”

“kakak sayang dia”

“maksudnya, dia sodara kakak?”

“lebih tepatnya, dia pacar kakak. Kakak mencintainya”

Elena membisu. Matanya memerah. Sejurus kemudian kulihat bulir airmata jatuh di pipinya. Ia memandangiku penuh arti. Berharap perkataan yang kuucapkan barusan salah. Tapi ini kenyataan. Jika saja aku tidak gay, aku akan mencintainya tanpa ia minta.

Aku harus segera meninggalkan Elena yang masih terpaku. Aku tak tahan melihat isak tangisnya. Jika lebih lama lagi berada di tempat ini, dalam sekejap aku bisa hancur luruh.
“maaf Elena…” aku berbalik membelakanginya. “Kakak,” ucapku tertahan, “gay”.

Akupun berlalu. Samar kudengar tangisnya pecah di tengah-tengah keramaian mahasiswa yang bermain di lapangan. Maaf Elena. Aku juga tak ingin seperti ini. Aku tak tahu apa yang kulakukan. Aku juga tak mengerti apa yang kucari. Biarlah aku menjalani hidup seperti ini. Esok? Ceritanya lain lagi. Sebab akupun tak tahu pasti. Gumamku dalam hati.

23 pemikiran pada “Maafkan Aku, Elena (kisah cinta seorang gay)

  1. Hmm sebenernya udah bagus apalagi dengan waktu penulisan hanya 1jam. Tapi saran gue, mendingan bersabar, biar deh ngorbanin waktu berjam-jam atau bahkan harian. Gue ada tulisan juga. Mau share?

  2. terharu denger kisah sprti ni,,u tau kan mencintai sesama jenis to gak kan bertahan lama…u mski jauh kan prasaan itu sblum terlambat

  3. Q salut dgn keberanianmu. Jgn spt aq yg bgt ga tega menyakiti wanita yg mencintai aq dgn tulus. Pd akhrx kmi menikah dan sejauh ini hati q masih hambar…
    Krn pd dasarx q mmg mencintai sesorang dgn sepenuh hati sampai detik ini, dan bkn istri q. Hidup dlm sandiwara mmg menyakitkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s