Pertemuan Muhammad Nazarruddin, Mark Zuckerberg, dan Melinda Dee di Griya Kenanga Setia Budi

Kami melakukan shakehand, sembari menyebutkan nama masing-masing.

“Putri” ucapnya.

Agak lama aku menjawab, mempertimbangkan nama apa yang akan kupakai untuk memperkenalkan diri. Karena dalam masalah nama ini, aku bukan pengikut William Shakespiere, yang begitu populer dengan ungkapannya ‘apalah arti sebuah nama’. Bagiku, nama sangat penting. Nama adalah sebuah doa. Nama bisa mewakili karakter si pemiliknya. Nama mampu menjadi daya tarik serta daya jual jika si pemiliknya ingin mempromosikan diri. Nama akan membawa si pemiliknya ke mana-mana. Melekat erat. Demikian juga, nama dapat menuai celaka jika si pemiliknya tak benar-benar menjaga. Dalam hal ini contohnya kasus Muhammad Nazaruddin, Wakil Bendahara Partai Demokrat yang konon melarikan diri ke Singapura. Jika ditafsirkan secara harfiah, nama Muhammad Nazarruddin (MN) berarti terpuji dan beragama bagus. Akan tetapi, kontras dengan namanya, MN malah menjadi tersangka kasus korupsi penggelapan dana asrama atlit di Palembang. Dan kabarnya, masih disertai kasus-kasus lain yang belum terungkap dan diungkap.
Selain itu, nama bisa menjadi palsu alias samaran ataupun sengaja disamarkan. Untuk kasus terakhir ini, aku objeknya. Karena bekerja sebagai crew di sebuah tabloid remaja, aku sengaja menyamarkan nama. Bukan untuk mencari sensasi seperti para selebriti, hanya saja, pada saat bergabung menjadi kuli tinta, entah mengapa mulutku tak sengaja mengucap sebuah nama yang jelas bukan nama asliku, bukan nama kecilku, juga bukan nama panggilanku. Rupanya di kemudian hari, baru aku menyadari bahwa penyamaran nama ini membawa manfaat baik sekali. Tapi manfaat itu akan kukisahkan di lain sesi.

“Nai” jawabku agak lama, sambil tersenyum tentunya. Beruntung, nama ‘Nai’ tak sulit diucapkan. Bahkan ketika kau mengucapkan nama itu, hampir selalu kau harus mengakhirinya dengan senyum. Oleh sebab huruf di belakang nama ‘Nai’ adalah huruf ‘I’, itu akan memaksamu memamerkan gigi.

Setelah itu, aku dan Putri duduk ke tempat dimana kami bekerja. Posisi mejaku membelakangi jendela dan kamar mandi, serta menghadap ke ruang tamu. Sedang Putri, mejanya membelakangi dapur, gudang sempit nan pengap, serta menghadap ke kamar mandi. Tapi aku dan Putri bisa saling bertatapan. Tak ada penghalang apapun di antara kami. Sejatinya, aku dan Putri bisa melihat apapun di sekitar kami hanya dengan memutar kepala. Tak usah heran, sebab ruang kerja kami sebenarnya adalah ruang tamu, kemudian disulap se-kreatif mungkin menjadi ‘ruang operasional’ dimana terdiri dari 3 buah meja persegi yang disusun memanjang menyerupai meja besar. Di atas meja terdapat 3 buah komputer, 1 buah printer berikut botol tinta merah, biru, kuning dan hitam, 1 buah scanner dan 1 buah telepon tanpa fax.

“kakak punya facebook?” tanya Putri padaku. Facebook adalah situs jejaring sosial hasil ‘iseng-iseng’ Mark Zuckerberg, pemuda aneh yang besar di pinggiran New York, Dobbs Fery, dan bersekolah di Phillips Exeter Academy di New Hampshire.

“oh, iya. Punya”. Pertanyaan begini sudah biasa kudengar. Setiap berkenalan dengan seseorang, baik kenalan lama yang baru bertemu maupun kenalan baru yang benar-benar baru pertama kali bertemu, selalu mereka menanyakan alamat facebook untuk lebih mengenal seseorang. Padahal, fakta nyata dunia maya adalah lebih banyak mengedepankan kebohongan daripada kejujuran, lebih sering mengumbar ‘pesona’ daripada mengungkap realita. Meskipun begitu, tak ada yang peduli. Rule game-nya, ‘sudah tahu sama tahu’ bahwa facebook hanyalah sebuah permainan. Maka, bijak-bijaklah jika ingin menggunakan. Tapi seiring waktu berjalan, korban facebook pun mulai berjatuhan. Mulai dari korban penipuan, pemerkosaan dan berbagai kasus kriminalitas lainnya. Sebagian besar bangsa ini tak siap dengan keadaan zaman. Tak lebih bijak dari artis lawas Roy Marten, yang gara-gara narkoba ia terpaksa menginap di hotel prodeo untuk kali kedua. Jatuh di kesalahan yang sama. Tapi menurutku, bangsa ini senang berbohong terlebih lagi suka dibohongi. Itu sebab lebih cenderung menyelami facebook untuk mengenal seseorang, daripada duduk bertatapan seraya berbincang-bincang.

Kuberikan alamat akun facebookku pada Putri. Dalam sekejap kami sudah menjadi ‘teman’ maya. Baru aku tahu, nama panjang temanku itu adalah PUTRI DHAYANTHEE. Meski gaya penulisannya aneh, tapi nama belakangnya tetap saja dibaca ‘dayanti’. Aku yakin, nama yang tertera di akta kelahirannya adalah PUTRI DAYANTI. Begitulah dunia maya, kau bisa mengolah data dan berita apapun sesuai keinginanmu. Santai saja, tak ada hak bagi orang lain untuk marah atau pula mempidanakan. Yang penting kau tahu rule game-nya. Tak terkecuali aku, kawan.

Putri adalah admint baru pengganti Aii. Kulitnya putih, kurus dan tidak tinggi, berkacamata, berkerudung, dan memakai kawat gigi. Sehari-dua aku berteman dengannya, Putri sedap dipandang. Namun, jangan tanya aku tentang cantik. Membahas itu jelas aku sangat tidak tertarik. Sebab perkara cantik dan jelek tak pernah kulihat dari pisik. Buatku, standar ‘cantik’ kutempatkan di atas menara langit, di bawah Arasy, dibingkai dengan keimanan dan ketaqwaan. Jika ia baik, rapi, bersih, rajin, sederhana, pintar dan peduli, menurutku ia cantik. Tambah lagi, Putri rajin sholat! Bagiku itu prioritas. Maka dihadapanku ia menjadi sangat cantik!

Sementara pendapat orang lain tentang cantik jauh berbeda denganku. Multi tafsir. Mungkin bagi mereka Selena Gomez, Luna Maya, Lady Gaga, dan perempuan berkulit putih berbody sexy adalah cantik. Jadi, biar lebih aman, perkara cantik, kita letakkan saja pada kedua sisinya tanda petik. Biarkan orang lain mendefenisikan ‘cantik’ menurut versi mereka masing-masing.

Kini, aku dan Putri menjadi teman se-pekerjaan. Mungkin hampir pasti, kami berbeda visi dan misi. Berseberangan dalam menentukan cita-cita dan tujuan. Tak soal. Yang penting, kami tak saling mengusik. Tahu batas-batas privasi, serta saling memahami etika dan tupoksi, alias tugas pokok dan fungsi.

Namun di sudut hati yang paling dalam, aku berharap tak ada lagi kejadian seperti mana hadir dalam ungkapan, ‘datang tampak muka, pulang tampak belakang’. Hendaknya kami bisa saling menghargai. Hingga bilamana suatu hari nanti di antara kami akan pergi, maka ada terhantar sepatah kata, serta peluk dan jabat erat pertanda tak lagi menjadi ‘penghuni’ perusahaan.

“kak Nai, pulang duluan ya” ucap Putri menghentikan tatapanku pada satu berita di layar komputer, ‘Payudara Melinda Dee, before-after’.

2 pemikiran pada “Pertemuan Muhammad Nazarruddin, Mark Zuckerberg, dan Melinda Dee di Griya Kenanga Setia Budi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s