Mendadak resign

Teman kantorku, Aii, sudah tidak lagi bekerja di Tabloid YM. Dia resign dengan alasan yang aku tak tahu apa dan mengapa. Yang jelas, ketika aku datang ke kantor kira-kira pukul 1 siang, aku tak melihatnya. Biasanya ia datang lebih dulu saat crew lain masih di tempat tidur atau lagi ngutang di warung makan. Sebagai admin di kantorku, ia harus datang pukul 10 pagi.

Kini, aku tak pernah melihatnya lagi. Bahkan saat ia memutuskan berhenti, aku tidak ia kabari meskipun sebelum itu ia sempat menelponku, memberitahukan jadwal rapat proyeksi.

“Lama ya angkat telponnya. Kak, datang rapat besok ya, Sabtu pukul 2 siang. Sekalian kakak bawa kue pukis” semburnya lewat telpon. Itu saja. Ia tak memberitahuku cerita apapun selain agenda rapat.

“okey, insyaAllah” jawabku mengiyakan. Aku tak curiga sama sekali bahwa itu kali terakhir kami bercakap-cakap. Aku dan Aii memang dekat. Itu karena awalnya, hanya ada dua orang perempuan yang bekerja di kantor YM. Kedekatan kami biasa saja. Tidak seperti burung jalak dan kerbau yang selalu bersama, bercerita tentang kelangsungan hidup dan masa depan. Hubungan kedua makhluk dari ordo berbeda itu bisa dikatakan menganut system simbiosis mutualisme. Kerbau yang terserang kutu, diselamatkan oleh burung jalak yang suka makan kutu. Sejak itulah Kerbau dan Jalak terus bersama karena hubungan mereka saling menguntungkan. si kerbau senang, si jalak kenyang.

Aku dan Aii tak akrab, meski begitu kami tak pernah beda ‘mazhab’. Pertemanan itu mengalir begitu saja, persis pertemanan saat kau berada dalam angkutan umum. Tak sengaja bincang-bincang sesaat sebelum kau tiba di tempat tujuan. Setelah sampai, kau pun mengucapkan selamat tinggal. Cukup! Mau tak mau, pertemanan kami kusebut ‘sepintas lalu’.

Sesuai dengan agenda meeting yang telah dijadwalkan, aku datang ke kantor. Rupanya kantor amat sepi padahal aku datang pukul 02.30 pm. Telat setengah jam dari jadwal. Namun 20 menit kemudian, aku melihat Bang Dalle, Manajer Iklan di kantorku muncul di depan pintu.

“Aii mana bang? Sepi benar kantor ini” sapaanku yang seperti pertanyaan mengejutkan bang Dalle. Ia memiringkan kepalanya ke kanan, keningnya berkerut, bibirnya maju mengerucut.

“jangan pura-pura nggak tahu deh. Kalian kan dekat. Apa Aii gak cerita?” aku memang benar-benar tidak tahu tentang Aii. Aku baru tahu dari bang Dalle,bahwa Aii sudah resign.

“maksudnya?” aku balik bertanya

“Aii kan sudah resign, dek. Masak gak tau sih”

Aku terpelongo, persis pinguin saat makanannya disambar oleh elang. Butuh waktu 10 menit untuk menyadarkan diriku sendiri bahwa Aii, teman ‘sepintas lalu’ ku itu telah resign tanpa kabar dan pertanda apapun.

“oh… begitu. Aku gak tau bang. Dia gak pernah bilang apapun soal resign itu. Dia Cuma cerita kalo dia suka anjing, dia akan menikah dengan pacarnya, dia sering singgah ke butik baju dan sepatu, tentang sampho, bedak dan lipsticknya, juga berbicara sedikit tentang keluarganya dan keluarga pacarnya”, jelasku panjang lebar.

“dia cerita sebanyak itu, tapi soal resign dia gak ada cerita?”
sambut bang Muchtar, salah seorang kanvaser kantor.

“nggak” sambil menyalakan komputer, acuh tak acuh kujawab pertanyaannya.

“dia juga bilang resign setelah nerima gaji. Makanya abang kaget dan agak kelimpungan cari penggantinya” imbuh bang Dalle.

“sudahlah. Sudah lewat. Yang lalu biarkan berlalu. Kalau dia nggak bilang, itu hak dia. Meski banyak hal lain yang telah sudah dia ceritakan ke aku, bang. Mungkin dia merasa soal resign itu gak penting, sehingga aku gak perlu tahu”.

Gantian, bang Dalle pula terpelongo mendengar penjelasanku. Matanya memandangiku dari atas sampai bawah. Padahal tak ada untungnya. Sebab aku memakai baju lengkap dan berjilbab, bukan telanjang.

“bang, apalagi? lets meeting” sentakku.

Tergopoh-gopoh ia mempersiapkan ‘onderdil’ rapat dan menelpon crew yang belum muncul batang hidungnya. “iya, iya”. Akhirnya, bang Dalle memasukkan 1 point lagi menjadi agenda penting meeting yaitu, membahas serta mencari siapa pengganti Aii.

Dan aku, akan berpikir dua kali untuk menjalin hubungan ‘dekat’ dengan pengganti Aii kelak. Sebab aku agak jera jika suatu hari nanti di mana kami sudah menjadi ‘teman baik’, ia malah pergi tanpa permisi.

2 pemikiran pada “Mendadak resign

  1. mungkin ada sesuatu di kantor (bukan Kakak tapi orang lain) yang sangat menyakiti dia.
    atau ada masalah di luar.
    saya juga pernah resign mendadak. memang sakit rasanya memikirkan teman baik macam Kakak, yang selama ini jadi penyemangat saya di kantor.
    iyus
    =0815 170 833 94=

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s