harus repot! (?)

Menikah, ternyata tak semudah yang pernah kupikirkan dan tak seringkas yang sempat kubayangkan. Semula, aku menganggap menikah adalah suatu hal sederhana saja. Bahasa kerennya, gampang! Saat adat nikah atau ijab qabul hendak dilaksanakan, siap-siaplah duduk santun, bersikaplah seformal mungkin dan pasang wajah teduh, jangan banyak pergerakan geser sana-sini, meskipun sudah kesemutan akibat duduk terlalu lama dengan posisi bersimpuh. Setelah prosesi selesai, ditandai dengan penyerahan buku nikah dan sedikit tausyah, bereslah sudah. Pengantin boleh meninggalkan area dan melancong ke tempat lain untuk suatu project penting.

Rupanya realita di lapangan tak se-sederhana itu. Setelah ijab qabul, pengantin masih harus duduk sungkeman sama keluarga, tangis-tangisan, kemudian menunggui tamu, salam-salaman, foto-foto, makan-makan, cerita-cerita sambil tersenyum-senyum geli. Setelah itu, apakah sudah bisa beraksi? Belum juga. Kau masih harus di luar, bersama keluarga yang menginap di rumahmu, mendengarkan pengalaman mereka yang sudah pernah menikah. Saking serunya bercerita, kau harus melirik suamimu hanya untuk mengatakan: ‘sabar’. Menyunggingkan senyum, pertanda malam ini belum bisa kita nikmati.

Sungguh, menikah itu benar-benar merepotkan. Padahal hanya untuk me-sah-kan suatu hubungan, tapi malah menjadi beban. Pertama-tama, masih harus memikirkan berapa jumlah tamu undangan, porsi cathering yang sediakan mencukupi atau kurang, enak atau tidak.Kemudian piring, sendok, dan gelas juga harus dipastikan sesuai dengan jumlah undangan. Misalnya, jika tamu undangan berjumlah 500 orang, maka setidak-tidaknya harus disiapkan plus 250 untuk antisipasi membludaknya jumlah tamu karena membawa anak, mertua, ponakan serta cucu.

Selanjutnya, masih harus memikirkan baju pengantin, sudah up to date atau malah jadul yang berakibat munculnya ‘bisik-bisik tetangga’, di lain kesempatan, sesekali musti membetulkan riasan atau make-up, sudah rapi atau ketebalan. Terakhir, biaya pesta. Apakah pas atau malah ngutang.

Ribet ya… padahal setahuku, rukun nikah itu ada lima yaitu, adanya calon suami, adanya calon istri, shighat (Ijab dan Qabul), Wali perempuan, dan 2 orang saksi dalam pernikahan. Habis perkara. Tak ada pula kubaca dalam buku fiqh manapun yang mengatakan rukun nikah harus ada pesta mewah. Benar-benar merepotkan. tapi di kalangan masyarakat, ‘pesta’ dalam pernikahan merupakan kewajiban meski ngutang.

Bagaimana denganku? Ya.. di lain session lah kita bahas soal itu.

Kulihat di sudut ruang tamu yang dijadikan sebagai tempat acara sakral ijab qabul, kak Noni masih sibuk membetulkan riasan make-up di wajahnya. Ia keringatan karena dibalut pakaian pengantin berbahan baldu warna ijo, kain kebaya sempit yang hanya bisa digunakan untuk duduk bersimpuh bukan bersila, serta ditambah sanggul setinggi 10 senti. Kasihan aku melihatnya.

“panas ya kak?” tanyaku basa-basi.

“iyalah. Panas kali pun ini ku rasa. Kapan habis tamu yang datang ni ya?!!” tanyanya dengan nada marah dan memelas.

“kenapa? Gak sabar ya segera bulan madu” aku menggodanya sambil mengulum senyum.

“apa? Bulan madu? Cemana mau bulan madu. Aku lagi M ini!!” kak Noni memonyong-monyongkan bibirnya, berusaha menahan kesal dan letih yang sejak acara ia derita. Tapi ia tetap melayani tamu-tamu, yang entah sampai kapan aku pun tak tahu. Untung saja rumahku pas di sebelah rumahnya. Aku langsung pamit buru-buru, menghindar secepat mungkin sebab aku sudah mengantuk.
Pukul 12.10 am.

“kak, selamat nikah dan selamat berkutat dengan buku hutang” ujarku bercanda kemudian lari agar tidak ditimpuknya dengan tepak sirih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s