mereka ada di teras muka

Rumah kontrakanku yang baru tidak begitu lebar. Cuma punya 1 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 kamar mandi+toilet yang ruangnya kecil, dan teras yang luasnya 3×1 m. Mungil, tapi cukup nyamanlah untuk didiami orang-orang yang masih single dan punya dua hewan peliharaan.

Meski mungil, aku jarang menyapu rumah. Bukan karena gak ada waktu. Karena waktu selalu tersedia 24 jam jika aku mau. Jika pintar me-manage, semua pekerjaan akan selesai dengan baik. Tapi, aku ini agak malas dan sering menunda-nunda pekerjaan. Otomatis, rumahku selalu berdebu. Saat-saat paling rajin bagiku adalah hari minggu. Semua ruangan akan kubersihkan, sampah-sampah kusatukan dan kubungkus dalam kantongan plastik, dan baju-baju kotor akan kucuci.

Sebenarnya aku termasuk tipikal perempuan berhasil baik dalam karir dan rumah tangga. Aku senang bergelut dengan pekerjaan yang kusukai, begitu juga aku senang membersihkan rumah dan perabotannya. Namun ada pengecualian. Aku gak suka mencuci. Mencuci membuat pinggangku sakit, tanganku kasar, perutku tertekan dan kemudian tak berhenti sampai disitu, aku harus pula menjemur pakaian yang kucuci tadi. Ohh… kegiatan mencuci ini merupakan pekerjaan ganda dengan satu pemain.

Sodara-sodara, dirumahku tak menyediakan celah dan ruang untuk menjemur pakaian. Yang tersisa hanya teras muka. Kalau yang kujemur itu pakaian seperti t-shirt, kemeja, jeans, dan tank top, tak jadi soal. Tapi masalahnya, sebagai perempuan normal, aku juga mempunyai underwear. Dimana aku harus menjemur pakaian-pakaian itu?

Kujemurlah underwear-underwear itu di teras. Rame! Ada 15 potong, persis seperti obralan celana dalam bekas. Aku malah ditegur ibu RT. “Hati-hati dipelet. Sekarang lagi musim pelet celana dalam”, begitu katanya suatu ketika. Tapi aku santai saja. Underwear tetap kujemur di teras muka. Sebab tak mungkin celana dalam tersebut kusinggahkan ke laundry atau kugantung basah-basah dalam lemari.

Buatku, menjemur underwear adalah sebuah dilema. Dijemur di kamar, pasti keringnya berhari-hari. Juga akan ditumbuhi jamur dan bau. Dijemur diluar, malangnya, tak hanya perempuan yang mendiami komplek rumahku. Tapi juga ada banyak laki-laki. Mereka pasti menoleh ke barisan underwear ku walaupun aku bisa berbohong bahwa underwear itu bukan milikku. Karena aku menjemurnya diam-diam, saat pagi buta dan ketika malam menjelang. Tak seorangpun akan memperhatikan. Tapi tetap saja aku malu. Percayalah, aku masih punya etika. Oleh sebab itu, underwear tadi kulapisi dengan kerudung hitam tipis. Hasilnya, lihat saja gambarnya…

*sorry, dibarisan underwearku tidak akan kalian temukan G-string.

9 pemikiran pada “mereka ada di teras muka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s