sejak fidel punya pacar dan mengapa ayah menangis

Sejak Fidel punya pacar, dia jarang pulang ke rumah. Tak pernah lagi bermanja-manja denganku. Tak nyaman dibelai, digendong dan dipangku. Jika dipanggil, dia tak segera datang. Hanya menoleh ke arahku kemudian berlalu. Fidel akan berlari mengejar jika dia merasa lapar. Fidel mengeong keras jika diluar tak dia temukan sesuatu untuk dimakan.

Biasanya, ketika aku pulang dari kerja, dia sudah menungguku di depan pintu. Tak jarang saat ia melihatku dari kejauhan, ia mengeong dan mendekat ke arahku. Berlari seperti singa yang hendak menerkam mangsa. Dulu, kami sering tidur bersama dan menghabiskan waktu berdua. Bercengkrama hingga mata mengajak lena. Keesokan paginya, aku mendapati Fidel tidur terkulai disampingku. Terkadang, Fidel juga menungguiku sholat. Hanya karena dia ingin bercerita dan mengadu. Apa saja. Tentang kucing tetangga yang kerap mengajaknya adu ponco hingga gulat, tentang kucing hitam yang coba-coba mengganggu gadis pujaannya, tentang nenek Sugeng yang galak minta ampun hingga Fidel pernah dilemparnya pakai sepatu, tentang dia yang berebut dengan tukang butut di tempat pembuangan sampah demi seekor tulang ikan, dan banyak hal lagi yang dia ceritakan padaku.

Kini, hal itu tak kujumpai. Fidel pulang ke rumah jika dia merasa lapar. Kalau tidak, seharipun aku tak kan smelihat kumis kasarnya. Fidel seakan-akan menjauh. Seringkali dia pulang pagi. Tak pernah tidur di rumah lagi. Ketika pagi hari aku terbangun, Fidel sudah tak ada. Mungkin dia tidur di rumah kucing tetangga dan bercinta. Tiba-tiba sepi menyelinap ke dalam relung hati. Rupa-rupanya sosokku sudah terganti. Memang, Fidel sudah beranjak dewasa. Umurnya sudah 2 tahun lebih. Bisa disebut cukup matanglah dalam dunia per-kucingan. Wajar saja jika dia mencoba mandiri dan mencari jati diri. Tapi aku merasa kehilangan. Aku sedih. Mau tak mau hal ini harus kuhadapi. Karena Fidel tak selamanya menjadi anak kecil. Dia berhak menikmati hidupnya. Berhak merasakan perubahan-perubahan zaman. Mengikuti perkembangan hormon dimana nafsu bercinta mendesak-desak keluar dari ruang sempitnya. Juga, berhak pergi dan meninggalkanku bersama istrinya untuk memasuki hidup baru, menapakinya bersama.
Seperti ayahku, saat dimana kami sedang mencabut rumput, dimulailah cerita itu.

“kalau nanti nana menikah, nana mau dengan orang mana?” tanya ayah suatu hari padaku. Kami membersihkan halaman depan rumah. Mencabut rumput halaman yang sudah tumbuh tinggi.
“sama orang luar negeri Ayah. Nana mau orang bule. Kalau bisa orang Francis atau Jerman. Karena mereka cerdas, berpandangan terbuka, berwawasan luas. Lagipula, keturunannya kan bisa lagak”. Dalam bahasa melayu, lagak artinya molek, cantik atau ganteng. Biasa digunakan untuk laki-laki dan perempuan. Cerocosku sambil mencabuti rumput-rumput liar.

“jauh ya.. Nana pasti meninggalkan ayah dan ikut dengan suami Nana” jawab ayah yang semula berhadapan denganku, jadi beralih posisi membelakangiku. Samar kudengar Ayah terisak. Aku yakin lelaki berwatak keras dan berhati lembut itu sedih. Namun berusaha ia alihkan reaksi itu, dengan berpura-pura serius membersihkan halaman dari rumput liar yang mengganggu. Aku yakin lelaki yang kusayangi itu sudah meneteskan airmata. Namun segera ia sembunyikan demi mempertahankan harga diri, bahwa ia sanggup ditinggal pergi.

“Tapi kan Nana bisa pulang kapan saja Ayah.. Atau Nana akan tinggal disini bersama ayah. Nana akan menjaga Ayah”. Aku tak bisa menahan airmata. Kulingkarkan tangan kanan ke bahu Ayah. Kupeluk ia erat dari biasanya. “Nana juga sedih ayah. Nana juga ingin tetap bersama ayah. Berdiskusi dengan ayah. Tertawa bersama ayah. Jalan-jalan bersama ayah. Menghabiskan waktu bersama ayah. Ayah masih ingat kan, kalau kita masih punya rencana ingin melihat laut”. Aku berceloteh. Tujuanku satu, ingin membuat suasana tak kelabu, tak diselimuti mendung dan didekap hujan.

Ayah suka laut. Laut biru yang hangat menyapa hingga membuat berkeringat. Laut biru yang luas membentang. Kita bias bermain dengan ombak yang tinggi hingga tangannya menampar wajah. Memandangi sekawanan burung camar yang terbang lalu lalang di langit sana. Merasakan angin yang datangnya membawa sejuta makna. Membisikkan berbagai nama dan peristiwa, menyingkap jilid demi jilid nostalgia.

“tapi kalau itu pilihan Nana, tak apa. Karena Ayah tak berhak memaksa Nana harus tinggal bersama ayah”. Tutur Ayah. Kemudian Ia mengambil keranjang sampah, memunguti sisa-sisa rumput yang telah kami cabut. Kesunyian hadir 10 menit diantara aku dan Ayah. “jadi, kapan kita melihat laut?” tanya ayah kali ini berbalik melihatku.

“Nana sayang Ayah” jawabku seraya berazam agar suamiku kelak, siapapun yang Allah pilihkan, tidak membawaku pergi jauh dari Ayah.

Disini, aku cukup merasakan kesedihan saat sering ditinggal Fidel. Padahal masih ada Kimmy. Meski Fidel seekor kucing, kedekatanku dengannya membuatku bisa memahami tingahlakunya, memahami arti saat mendengar dia mengeong. Dan sejak Fidel punya pacar, baru aku mengerti mengapa Ayah sedih ketika berbicara tentang pernikahan anaknya. Baru aku paham mengapa ada kabut di matanya saat mendengar Ia akan ditinggalkan. Kemudian, ‘hari itu’ harus ia hadapi dengan wibawa. Meskipun ‘hari itu’, aku juga tak tahu kapan.

2 pemikiran pada “sejak fidel punya pacar dan mengapa ayah menangis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s