Cukuplah ‘waktu’ itu

Sulit bagiku untuk bangkit ketika telah dan sedang terhimpit. Sulit bagiku sembuh dari luka, saat dimana aku telah kecewa. Bukan tidak bisa, tapi aku butuh waktu yang lama. Sebab, parut luka itu meninggalkan trauma. Mebekas pada ingatan yang sulit aku hilangkan. Sampai detik aku menulis ini, ingatanku masih tertuju pada suatu waktu dua tahun lalu. Ketika (tak sengaja) mengingatnya, luka lama kembali menganga. Lagi, aku menangis dalam diam. Tersedu-sedu atas hal yang seharusnya tidak perlu.

Bagaimana caranya menghilangkan luka, aku selalu punya cara. Tak perlu memberiku kalimat-kalimat ajaib, aroma penyegar, apalagi kata-kata menggurui. Aku tidak ingin dimengerti, karena aku memang tak mudah untuk dimengerti. Dan kerap aku juga tak mengerti dengan keadaanku, apa yang sedang terjadi padaku, mengapa aku berlaku tidak sesuai dengan apa yang telah kupikir-pikirkan, dan mengapa pula aku selalu membohongi perasaan. Misalnya, mengapa disaat berada di tengah-tengah kegembiraan, bisa-bisanya aku terdiam dan mengeluarkan tangisan. Mengapa ditengah-tengah keramaian, seringkali aku merasa kesepian. Perkara yang sukar untuk aku jelaskan. Maaf, tapi aku tak begitu membutuhkan nasehat. Sebab sejatinya aku tahu bagaimana keadaanku dan tahu pula mengatasi masalahku. Aku juga punya segudang kata-kata mutiara yang telah aku cipta, dan sering kugunakan ketika aku menginginkannya. Didepanku, usah berlagak baik, dewasa dan bijaksana. Karena itu akan membuatku menertawaimu dengan tega. Cukuplah diam dan dengarkan. Aku sangat hargai, dan sangat nyaman dengan itu. Atau mungkin ingin melawak dan membuat guyonan? Terimakasih, aku cukup terhibur.

Bagiku, sekali hati terpahat, susah untuk ia kembali rekat. Aku tahu itu salah, aku tahu itu tak baik diteruskan. Itu sebab aku ingin sembuh secepatnya, seperti sedia kala dimana aku bisa dengan leluasa bercanda tanpa ada jeda untuk aku meneteskan airmata. Namun aku tidak dendam. Karena memang penyakit itu tak pernah singgah padaku. Aku bisa memaafkan meskipun aku terluka dalam. Tapi itu tadi, aku rela menderita sendirian karena berusaha membalut luka terus menerus, dari waktu ke waktu. Dan untuk orang itu, aku doakan yang terbaik padamu. Aku yakin kebenaran akan menemukan jalannya. Seperti yakinnya aku dengan bisikan Leo Tolstoy beberapa tahun lalu ‘Tuhan tahu, tapi menunggu’. Selebihnya, aku tidak ingin bertemu. Cukuplah ‘waktu’ itu dimana akhirnya aku tersadar bahwa rupa-rupanya aku tak saja ditipu, tapi juga dikecewakan. Sulit memang dua kata itu dipisahkan. Karena antara ditipu dan dikecewakan amat tipis bukan?

Selanjutnya pada orang-orang terdekatku, aku sangat tak ingin apa yang berlaku padaku, berlaku pula pada kalian. Oleh karena itu saat tengah berdoa, aku selipkan nama kalian satu-persatu, agar kelak bahagia bersama orang yang tepat, yang bisa membuat kalian menangisi kebahagiaan dan menertawai kesedihan. Amin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s