‘oshima’ tidak ada dalam kamus pengusaha

Sebelum bekerja, aku melakukan ritual warisan kakek moyang, yakni minum kopi. Sebungkus caffucino dicampur satu sachet susu indomilk. Mantaph…!

Well, sekarang senin ya. Begitu cepat hari berlalu. Rasanya baru kemarin libur. Tapi entah mengapa, sebagian besar teman-temanku yang orang gajian, tidak menyukai hari senin. Alasan mereka, karena senin adalah hari pertama kerja, dan itu berarti menuju weekend masih lima hari lagi. Makanya dalam kamus golongan ini terdapat kata O S H I M A alias Oh Shit Its Monday.

Kasian juga hari senin. Selalu dikambinghitam-kan oleh orang-orang yang tak berperasaan. Andai saja hari pertama kerja diganti jadi selasa, rabu, kamis, atau hari lainnya, maka tetap saja, mereka pasti akan memaki dan mengeluh juga. Karena hari senin sebagai hari pertama kerja kan hanya masalah penamaan saja. Solusinya sih gampang. Kalau tidak mau kerja, malas ber-senin ria, makanya jangan mau jadi orang gajian. Jadi orang gajian itu pahit sodara-sodara. Capek-capek kerja banting tulang agar hidup bisa menyenangkan, tapi masih saja dibayangi pemecatan, potongan gaji, fitnah dari teman-teman kantor yang penjilat dan selalu cari muka sama atasan, diatur waktu, disuruh-suruh, diperintah ini-itu, pulang kantor bukannya bawa uang tapi malah bawa beban, besok harus mikir kerjaan, dan banyak lagi permasalahan yang membuat pegal hati.

Cukup? Tidak ternyata. Seperti bulan ini, hari liburnya bertambah. Seharusnya cuma kamis, sebab di kalender ada tanggal merah untuk memperingati kenaikan Yesus bagi sahabat yang beragama kristen. Tapi rupanya pemerintah menambah libur lagi dengan mengeluarkan pengumunan hari libur bersama dari kamis hingga sabtu. Otomatis, semua pegawai ber-plat merah merasa girang bukan kepalang. Harusnya bekerja rutin sesuai aturan dan jadwal, jadi bisa bersantai dan berpelesir panjang. Namun, libur terlalu lama tersebut ada efeknya. Bisa membuat pekerja tidak produktif, terlena dengan libur hingga bolos, datang terlambat, dan juga, bagi yang tak terbiasa bekerja ala pengusaha (yang mayoritas bisa santai karena mengatur waktu sendiri), badanpun terkaget-kaget menghadapi hari senin ternyata sudah di depan mata. Ingin izin, tak tahu buat alasan apa. Ingin bolos, sudah sering. Bingung? Terpaksalah masuk kerja dengan wajah dibuat-buat ceria namun hati merana, jiwa nelangsa. Tapi buat sebagian orang hidup seperti itu sangat mengasikkan. Karena ada gaji tetap, dapat tunjangan, plus uang pensiuan atau jaminan hari tua. Inilah yang disebut dengan golongan ‘soft player’.

Kalau jadi pengusaha, meski skala kecil, masih jauh lebih nikmat dan asik. Memang sih, tantangannya lebih banyak. Karena mereka ini disebut dengan golongan ‘hard player’. Jadi dituntut untuk lebih aktif dan kreatif agar usaha berkembang alias tidak mandeg pandito. Harus garang, tangguh, dan bersikap elegant di zona persaingan usaha. Penjualan menurun? Bangkrut? Bayangan itu pasti ada. Namanya hidup, pasti ada pasang surut. Namanya roda, pasti berputar juga. Kiatnya ya itu tadi. Musti lebih jeli melihat pasar, harus visioner, fighter, dan selalu keren meski hari ini penjualan tak sebesar kemarin.

Tapi keuntungannya banyak. Gajian tiap hari, menjadi atasan atau pemimpin, punya anak buah, mengatur waktu sendiri, bisa weekend kapan saja meski tak selalu berada di kantor, punya banyak relasi, gak dicaci maki karena gak pernah mempersulit masyarakat saat buat KTP, KK atau ngurus surat miskin, lebih membantu banyak orang dengan membuka lapangan kerja, boleh berpakaian sesuka hati, dan tentunya lebih bebas…! Menurutku, jadi pengusaha itu bisa disebut dengan sudah menggenggam setengah dunia! Lagipula, dalam kamus hidup mereka tidak ada kata Oshima.

Haahh… Dinna F. Norris, seorang pengusaha muda yang sukses. Membayangkannya saja sangat indah, apalagi jika terwujud. Jadi pengusaha atau pebisnis, itu cita-citaku. Tuhan, kabulkan ya.. Karena aku pernah bersumpah, aku ingin kaya tapi tidak ingin menjadi orang gajian..!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s