Mereka ber-Afiliasi untuk mengakuisisi

Jika mereka tidak menggangguku, aku tidak akan membenci juga tidak akan melenyapkan nyawa mereka satu-satu. Ini, mereka sudah merusak kenyamananku. Bukannya sekali, tapi berkali-kali. Sebenarnya aku tidak tega dan tak sampai hati. Tapi mau bagaimana lagi, kemarahanku naik ke ubun-ubun, sangat emosi.

Kau tahu kan, aku ini pencinta kopi. Tiap hari aku minum kopi. Kopi yang biasa kuminum itu, coffemix dicampur milo, atau kadang-kadang aku minum caffucino yang kucampur dengan susu kental manis. Aku menikmati sekali minum kopi. Aku juga hafal gayaku saat minum kopi. Begini: ‘kuangkat gelas kopi yang masih panas hingga setinggi hidung, lalu kuhirup aromanya, kemudian kuseruput perlahan. Setelah itu, kopi kupandang-pandangi, kubisikkan dalam hati kalimat-kalimat takjub berupa sebait doa, segenggam mimpi dan sekumpulan imajinasi. Kubiarkan kopi tinggal separuh. Rencananya, agar kembali kopi kunikmati beberapa menit lagi atau beberapa jam lagi’.

Detik demi detik peristiwa itu kusebut dengan kenikmatan yang begitu mempesonakan. Selanjutnya, kopi yang tinggal separuh dalam gelas, kuletakkan di atas meja. Tak lama, dalam hitungan 5 menit, datanglah gerombolan semut. Mereka datang mengendap-endap, beramai-ramai mengakuisisi kopi ku. Alhasil, kopiku dipenuhi semut-semut kecil yang menjijikkan! Sumpah, saking ramainya, membuatku mual dan nyaris muntah. Seperti kata ungkapan ‘dibuang sayang’ yang sering kudengar dan terkadang kupraktekkan, tapi untuk hal ini, terang saja aku abaikan ungkapan itu. Kopi yang masih separuh tadi kusingkirkan ke kamar mandi. Gelasnya kusiram hingga gerombolan semut berakhir ke lubang saluran pembuangan. Rasakan…!

Namun tak berhenti sampai disitu, rupa-rupanya semut-semut tadi balas dendam padaku. Keesokan harinya, mereka datang lagi. Lebih ramai dari sebelumnya. Kopiku dihantam, dirampas, dan dilumat. Bahkan semut-semut kecil itu berafiliasi dengan semut besar , mereka berenang-renang di dalamnya. Lalu, seperti cerita dari bangsa Yahudi yang mengaku di Holocaust oleh Hitler, maka ku Holocaust-kan juga semut-semut itu, kusiram gelas kopi dengan air panas sampai rombongan semut tewas, tak ada yang tersisa. Ternyata, niat plus serangkaian praktek genocide benar-benar ada ketika kau berkuasa. Kemudian mereka kubuang ke teras rumah, tertimpa oleh terik matahari, pada akhirnya kering kerontang layaknya keripik bawang. Dan aku? Senang…!

Kali ini, kopi kusembunyikan di bawah meja. Tak kusangka, semut-semut menyebalkan itu kembali datang menantang. Kusimpan di atas lemari, mereka mengikuti. Kutaruh di atas galon air, mereka masih saja hadir di dalam gelas kopi. Tak pernah putus asa dan berhenti. Terus saja begitu. Dimanapun kopi kuletakkan, mereka berduyun-duyun masuk ke dalam gelas kopiku. Aku merutuk kesal, merepet panjang, dan mencaci maki semut-semut yang kerap datang menyerang. “campur saja kopinya dengan minyak lampu” ujar adikku Aman seraya tertawa girang. Tak tahunya, ia juga senasib denganku. Kopinya dihuni pasukan semut merah kecil dan semut merah besar yang tergelak-gelak senang mendapati dua gelas berisi kopi separuh isi dengan Gratis…!

Nelangsa… kopi tak lagi kunikmati. Begitu kubuat, seketika itu juga kuhabiskan agar tak ada lagi bagi semut-semut itu kesempatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s