rumah kontrakan part 1

Hari begitu cepat berlalu ya. Tak terasa sudah mendekati bulan puasa. Tak terasa juga sudah hampir 10 bulan aku dan ke-3 adikku = kami, menempati rumah kontrakan di jalan Johor ini. Itu tandanya, 1 minggu lagi kami harus pindah rumah. Bukan karena tidak betah dan hubungan dengan tetangga bermasalah. Kami orang baik kok. Tidak pernah mencampuri urusan orang lain, tidak pernah ikut bergosip dan juga tidak pernah minta sayur atau numpang makan di rumah tetangga. Hanya saja, uang rumah kontrakan yang kami tempati dinaikkan pemiliknya 1 juta mejadi 4 juta rupiah/tahun. Jelas saja kami belum punya uang se-sikit itu.

Buat kami, sebenarnya uang 4 juta itu mudah didapatkan. Karena kami semua sudah punya penghasilan meski masih jadi orang gajian. Tapi, waktu kepindahan itu sangat mepet dan begitu mendadak. Kami belum sempat menyiapkan apapun. Ditambah lagi, pengeluaran kami amat banyak bulan ini. Tapi tetap saja harus pindah mencari rumah yang lebih murah. Budget-nya musti di bawah 3 juta. Kalau bisa, 2 juta/tahun. Jadi, jika ditambah biaya kepindahan, misalkan saja 500 ribu untuk biaya angkut barang, totalnya hanya 2 juta 500 ribu rupiah. Hemat kan. Kalau di atas itu, untuk apa kami pindah rumah. Sama saja dengan buang-buang uang dan tenaga.

Sekarang, semua serba mahal. Cari rumah mewah tapi murah amat susah. Kenapa? Heran? Namanya pembeli, pasti ingin harga semurah-murahnya dengan kualitas layak huni versi Chelsi Olivia dalam film Dia Anakku. Kalian nonton film itu kan? Itu loh, si Atika dan keluarganya. Mereka tinggal di rumah sederhana yang kata ibunya rumah mereka itu miskin dan menyedihkan. Padahal, rumah mereka keramik, apik dan cantik. Ya begitu itu yang aku mau. Apalagi kalau harganya murah sesuai dengan yang kuperkirakan tadi. Ada yang mau protes? Monggo… (sambil menunggu kalian menyiapkan diri untuk unjuk gigi, aku ke dapur dulu).

Well, aku lanjut ya. Tadi aku ke dapur bikin kopi.
. Maklumlah, di kantorku yang baru ini, tidak ada Office Boy. Kalau mau minum, ambil sendiri. Mau minum kopi, beli kopi, susu dan gula sendiri. Setelah itu, gelasnya juga harus dicuci sendiri. Di kantor ini, kami diajarkan untuk tidak manja seperti kantor tempat dimana sodara-sodaraku bekerja. Benar-benar mandiri lah kayak di rumah. Otomatis, juga menghemat pengeluaran kantor. Seperti meeting seminggu lalu, selesai meeting, kami bersih-bersih kantor. Mulai dari ngangkat barang-barang di gudang, menyapu, mengepel dan nyuci piring. Keren ya style kantorku. Dan aku, selalu punya alasan untuk menghindar dari pekerjaan ‘menyenangkan’ itu.

Soal kantorku, di lain session aku beberkan. Kita kembali ke topik rumah kontrakan. Lagipula, aku dan ke-3 adikku jarang di rumah. Kami selalu menghabiskan waktu mencari objekan di luar. Maksudku, jika kerjaan di kantor beres, kami akan mencari kegiatan lain dan mengisi waktu dengan hal berguna yang dapat menambah ilmu dan uang saku. Misalnya ke toko buku bekas, Gramedia, bergabung di organisasi, menghadiri event demi event, menjadi MC atau moderator di berbagai acara, kemudian jika jenuh, kami mencari tempat sepi untuk menyendiri. Saat malam tiba, kira-kira pukul 8 – 9 malam, baru kami sampai di rumah. Bisa disimpulkan, kegiatan kami di rumah hanya mandi, nyuci, tidur, plus numpang barang. Jadi, untuk apa rumah besar.

Kami juga bersedia jika tinggal di rumah bus. Seperti di film-film Hollywood itu. Dengan status masih single fighter begini, kami cukup pantas tinggal di rumah bus. Barang-barang kami juga sedikit. Yang bikin penuh sesak hanya tumpukan buku-buku. Kalau tidak salah ada 5 kardus besar buku. Begitulah sosok orang cerdas dan berpengetahuan, ya bukunya harus banyak. Apa sudah dibaca semua? Soal buku, ada session tanya jawabnya. Nanti kuberitahu.

Namun bukan berarti kami anti rumah besar lo. Asal tahu saja, aku selalu mengidamkan rumah yang terbuat dari kayu jati dan mahoni dengan luas pekarangan 1 hektar. Itu baru gambaran tentang design rumah dan luas pekarangannya. Kalau untuk diwujudkan, pastinya lebih dari yang digambarkan.

Bagaimana jika ada sosok baik hati yang meng-gratiskan rumahnya untuk kami tinggali, dengan alasan daripada kosong tak berpenghuni? No way…! Terhadap orang baik, kami selalu berhati-hati. DI dunia ini, sudah langka orang baik. Ada juga sih yang baik, tapi mungkin tidak tulus dan tidak peduli. Antara baik, tulus dan peduli, tentu sangat berbeda. Mau tahu bedanya apa? Di lain session juga aku ceritakan. Makanya, tetap tongkrongin blog-ku ya.

11 pemikiran pada “rumah kontrakan part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s