di balik kerudung

Akhir-akhir ini aku intens berkerudung. Sebelumnya sudah pernah, tapi kembali kukenakan karena satu alasan primer: sudah diperingatkan Allah dalam Al-quran. Dan alasan-alasan sekundernya, merupakan karanganku saja, meski banyak kegunaannya.

Setiap sholat, selalu kurangkai pinta dalam doa: agar berkekalan lah kerudung ini menutupi kepalaku, semoga aku menjadi anak yang sholeha bagi orangtua, istri yang soleha bagi suami, pemimpin yang berima bagi umat, semoga hati hanya mengharap ampun dan tunduk pada ilahi, semoga diberi kekuatan dalam mengarungi kehidupan, semoga direndahkan hati menjadi pengusaha kaya, semoga tidak sirik, hasad dan dengki pada tetangga, keluarga, kerabat dan kolega, dan banyak lagi.

Namun, tak hanya sibuk menyusun pinta, aku juga selalu berusaha memperbaiki sikap dan tingkah laku. Agar selaras dengan jilbab yang kukenakan. Belajar agar semakin beriman, mencoba untuk tidak pemarah dan garang lagi, belajar sabar dan ikhlas, dan banyak lagi yang harus kupelajari. Aku gak ingin kerudung ini berakhir pada simbol sahaja, hingga orang menyebutnya ‘penutup kepala’.

Namun, jangan pernah berpikir, mudah untuk tetap konsisten berkerudung. Tidak sekedar menutupi kepala dan tubuh saja, tapi juga musti membingkai hati agar tak terkotori. Selaras from inside and outside. Ada banyak godaan di luar sana. Misalnya, ketika ada model baju lucu, pasti tergoda untuk mencobanya. Saat dunia marak dengan pesta, juga pingin ikut nyoba (lagi). Padahal, kalau sudah berkedung, harus ngerti melangkankan kaki. Mau kemana, sama siapa dan ngapain.. Selain itu, berkerudung juga sedikit repot kalau tak terbiasa. Musti pintar mix n’ match agar tak mati gaya. Harus gak tembus pandang dan gak ngetat agar tak menampakkan aurat. Harus rapi dan modis agar tak terkesan tua, urban, dan norak. Jadi, dituntut untuk lebih kreatif.

Oya, efek setelah berjilbab juga banyak. Aku panen cibiran dari orang jauh, bahkan orang yang pernah dekat. Cobaan untuk berbuat baik itu banyak ya. Pernah loh aku dipanggil ibu sama orang. “mau wirid dimana buk?’ idihh… oon kali itu orang.
Parahnya lagi, mereka dengan tatapan aneh melihatku dengan ekspresi seakan ingin mengatakan ‘nih orang kayak ninja ya..’.

Meski begitu, aku ingin mempertahankannya dimanapun dan kapanpun. Karena hidupku berasal dari Allah dan akan kembali pada Allah. Aku tinggal di bumiNya dan memakan rezekiNya. Itu sebab, aku takut mengecewakanNya. Pasti ada alasan mengapa Allah mewajibkan hambaNya menutup aurat. Salahsatu yang aku tahu, demi harga diri, kehormatan dan kebaikan.

Di dunia nan fatamorgana, dimana langka orang-orang menutup aurat tapi malah menampakkan urat, aku ini (berkerudung) disebut aneh. Orang-orang sibuk menuntut dunia keartisan, aku malah menuntut pelajaran menghapal baca AlQuran. Saat orang-orang keranjingan dengan hot pants dan bikini, aku malah rela berkeringat memakai baju panjang, berikut kerudung. Di luar sana lebih banyak orang clubbing, aku malah mengetatkan jadwal sholat yang kemudian ‘mereka’ sebut nungging. Sangat bertolak belakang.

Well, biar Allah sajalah yang menjagaku dengan semua ujian. Berharap aku sanggup melewatinya dengan selamat. Aku mau masuk syorga bersama calon suamiku dan seluruh keluarga. Amin..

2 pemikiran pada “di balik kerudung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s