Filosopi Kopi dan Puisi Yang Nyaris Mati

Filosopi Kopi dan Puisi Yang Nyaris Mati
tulisan ini ditulis pd:

February, 21st 2008
Thursday, 04:10 am.

(kl tidak salah, pernah di muat di surat kabar lokal. maklum, saya semakin oon dan pelupa..)

Puisi, mampu membangkitkan gairah imajinasi. Menciptakan ruang kontemplasi. Membiarkan pikiran dirasuki seribu pertanyaan. Berkelana mencari makna. Menghadirkan fantasi-fantasi liar dan bebas.
Puisi tak sekedar kumpulan kata. Tak hanya mengandung rengekan, jeritan, teriakan, dan caci-maki kosong! Bukan kumpulan kalimat serabutan. Juga bukan penggalan bait-bait ‘diam’.
Puisi memang bukan bentuk nyata. Tapi, ia mampu menyampaikan rasa.
Puisi ibarat ‘hantu-hantu gentayangan’ dari ‘reinkarnasi’ imajinatif sang penyair.
Dengan kata-kata, penyair melayat kematian dan menafasi kemanusiaan yang mati untuk bangkit dari kuburnya.

Dengan kata-kata, diam-diam penyair merayapi relung-relung kumuh, hiruk-pikuk, keangkuhan, pilu, tawa-duka, udik-unik, hingga sunyi-sepi.
Dengan bahasa, penyair mampu menyusuri jalan-jalan, gang-gang sempit dan buntu.
Dengan bahasa, penyair menyelam laut, merenangi sungai, dan menyusuri selokan-selokan kotor dan busuk, tersumbat sampah-sampah yang tak pernah habis.
Dengan bahasa pula, penyair bisa sampai dengan leluasa ke Istana. Mangacuhkan ketatnya pengawalan, cekalan, dan hambatan. Mengupas borok-borok yang telah sekian lama mengapal. Mengoyak tabir arogansi.

Mampir di ‘Kedai Kopi’ Reza Idria

Kala itu, rajin saya ‘kambuh’. Kurapikan buku-buku dan arsip-arsip yang tergeletak begitu saja ‘di tempatnya’. Rupanya, banyak arsip yang tersisip dan buku-buku yang terselip. Begitu juga dengan puisi yang ditulis oleh Reza Idria. Saya temukan tak sengaja di halaman pertama ‘Serambi’, buku sinopsis film dokumenter tentang Tsunami:

‘Kedai Kopi’

Hirup-hiruplah uap lekat yang mengabut
seruput takut biar tenggelam di perut
ini ruang rindu, resah keluh di sini mengadu
tentang hidup yang kerap murung
tentang dendam yang dihembus dari gunung
tentang maut yang dihempas dari laut
tentang anak-anak yang tak lagi menyambut
tentang ranjang yang sepi setelah isteri dilamar tsunami
Hirup-hiruplah aroma yang menggantung
kurung di busung dada biar tak lepas lekas

Saya ingat, pernah membacanya pada pagelaran seni di Universitasku. Tahun 2005, pasca Tsunami. Kami mencoba berempati dengan mengadakan ‘acara renungan’ atas bencana maha dahsyat itu.
Saya suka ‘Kedai Kopi’ Reza. Sampai-sampai, saya masih hafal isinya. Padahal, sudah lebih 2 tahun pagelaran itu berlalu. Sama halnya, dengan Tsunami yang tak lekang dari ingatan, ‘Kedai Kopi’ Reza membekas dan tertanam begitu sempurna dalam pikiran. Impresif!

Saya tak banyak mengenal Reza. Apatah lagi bertemu. Setahuku, Reza yang penikmat musik underground itu, aktif di komunitas ‘Tikar Pandan’, tempat para mahasiswa yang ingin belajar menulis sastra. Sekali lagi, impresif!

Filosofi Kopi

Menurutku, ‘Kedai Kopi’ Reza menyuguhkan rasa yang berbeda. Diracik dengan bahan khusus oleh barista yang sudah terlatih. Tak asal jadi! Hirup-hiruplah uap lekat yang mengabut/seruput takut biar tenggelam di perut. Kesedihan, duka, luka, semangat dan ketegaran bercampur di sana. tentang hidup yang kerap murung/tentang dendam yang dihembus dari gunung/tentang maut yang dihempas dari laut/tentang anak-anak yang tak lagi menyambut/tentang ranjang yang sepi setelah isteri dilamar tsunami. Mewakili setiap inci perasaan anak manusia. Tangisan dan senyuman ‘pasrah’ tumpah ruah.

Seperti filosofi kopi. Kopi yang nikmat, bila diminum tak langsung habis sekali teguk. Tapi, dimulai dengan menghirup aromanya, menyeruput dan merasakan tiap mili-nya masuk, mengalir membasahi kerongkongan. Maka dapatlah lezatnya. Hingga bisa dijelaskan ‘kenikmatan rasa’ dalam kopi tadi.
Hendaknya, begitulah jika ‘melahirkan’ puisi. Berani memainkan bermacam-macam ‘gaya’, dicampur dengan bumbu-bumbu estetika namun tak keluar dari etika. Pembaca pun betah berlama-lama menekuri kata demi kata dan bait demi bait puisi yang tercipta.

Agar puisi, tak sekedar onggokan kata usang yang berakhir pada lembaran kertas, tak sengaja ‘dilego’ ke tukang butut, singgah di pasar sembako, atau jadi penyumbat bagian ujung dalam sepatu…

Dewasa ini, puisi kian menjamur bak cendawan tumbuh di musim penghujan. Mengesampingkan makna dan tujuan. Hanya berupa tumpukan kata-kata ‘aneh’, lalu dibumbui dengan kiasan-kiasan meskipun tak pernah sinkron dengan tema puisi yang diusungnya. Kemudian, menambalnya dengan benda-benda alam seperti bintang, matahari, embun, hujan, senja, pelangi dan lain-lain. Berharap agar puisinya indah seperti bulan purnama di malam hari, atau seperti semburan cahaya matahari terbenam di kala senja. Terlalu banyak kata-kata mubazzir di sana. Entahpun si penyair juga tak mengerti maksud dari puisi yang ia tulis.

Akibatnya, pembaca gerah dan malas meluangkan waktu membaca puisi semacam ini. Jangankan membaca, ditengokpun tidak.

Tapi, siapapun bebas dan berhak menilai puisi. Hendak diangkat ke puncak gunung tertinggi atau bahkan di campakkan ke lembah jurang terdalam sekalipun. Sebab, banyak kepala, tentulah banyak pendapat berbeda. Lagipun, puisi adalah bagian dari sastra di mana ranah penilaiannya amat luas dan ‘abu-abu’. Ranah yang tidak memiliki standarisasi penilaian baku. Yah, ini memang soal selera. Tak perlu bermerah-merah muka memperdebatkannya. Tapi, jika ingin ‘permanent’, teruslah mengasah kemampuan bagaimana menulis puisi yang nyastra dan sarat makna. Bukan sebuah puisi asal jadi, gara-gara ingin mengejar honor (walaupun kecil tapi tetap dibutuhkan) atau mendapat predikat ‘Produktif’.
Karena, berkarya tak sama seperti mengayunkan tongkat dan mengucapkan ‘sim salabim’.

Yang ‘Ber-Arti’, Yang Nyaris Mati

Di tahun 1814, ketika puisi Lord George Byron “The Corsair” dipublikasikan untuk pertama kali, 30.000 copy terjual hanya dalam waktu sehari. Bayangkan! Terjual 30.000 copy dalam waktu sehari.
Itu terjadi 194 tahun yang lalu. Mungkinkah kala itu, orang lebih ‘berperadaban’ dalam menghargai sebuah karya?
Semakin hari, wajah puisi sulit dikenali. Sangat sedikit orang yang mau berteman dengan puisi. Juga, tak banyak orang yang mau menerima sajian puisi. Begitupun dengan perusahaan media. Kebijaksanaan ‘stake-holders’ perusahaan/industri media yang (tak bisa disalahkan?) lebih mengedepankan informasi, berita, dan iklan. Puisi tak laku. Kalah dari ‘kerabat-kerabatnya’: cerpen atau novel. Media hanya memberi ruang sempit di pojok halaman. Sekedar penghias atau menuhi-menuhi kolom. Dari pada kosong. Puisi pun kian termarjinalkan..

Media yang diharapkan perannya dalam mendongkrak sastra ‘pinggiran’ ini, tak bisa menampung luapan kreatifitas para penyair. Sama halnya dengan perusahaan penerbitan. Sangat sedikit perusahaan penerbitan yang mau menerima puisi. Puisi masih dilihat sebelah mata. Tak punya nilai jual. Kalaupun berupa ‘antologi’, puisi masih harus melewati tahap ‘nego’, belum A1, (siap cetak).

Akibatnya, banyak penyair tenggelam karena karyanya tak ‘sempat’ menyentuh ruang publik. Mereka ‘surut’ dari ketidakberdayaan dihantam permainan ‘kapital’. Perlahan, berubah haluan. Penyair-penyair ini diam-diam bunuh diri. Bunuh diri diam-diam. Segelintir dari mereka tetap berjalan, meskipun tertatih. Berusaha mengibarkan panji puisi yang nyaris mati.

Ps:
Untuk Reza Idria, ‘Kedai Kopi’ nya bagus. Saya suka. Tapi, izinkan saya menebak, baris ke 8: tentang ranjang yang sepi setelah isteri dilamar tsunami, selain terinspirasi dari korban-korban tsunami, apa terinspirasi dari pengalaman pribadi juga ya? Mungkinkah ada ‘sebelah hati’ yang hilang? ‘Dia’, yang ‘berpusara di lengkung pelangi’ itu?
Semoga, kamu bisa merekat hati yang sempat terbelah. Membangkitkan ‘Dia’ yang lain, dari pusaranya, di lengkung pelangi.

Dinna F. Norris

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s