Maka diamlah

Ketika ‘tak sengaja’ marah pada seseorang, saya malah dihantui perasaan bersalah.

Meski orang yang saya marahi memang berbuat salah hingga memaksa saya marah. Setelah marah, saya menjadi sedih sendiri. Menyesali kemarahan dalam hati seraya merutuki diri. Tak jarang saya menangis saat mengingat-ingat korban kemarahan saya. Membayangkan dan bertanya-tanya bagaimana perasaannya setelah saya marahi. Apakah ia ikut marah, sedih, bahkan menjadi terluka. Luka akibat kemarahan yang saya torehkan. Sebab luka oleh kata-kata, amat sangat perih dan menyakitkan daripada luka karena sabetan senjata.

Apakah berkata-kata dengan intonasi tinggi juga diklasifikasikan dalam kemarahan? Jawabnya, iya, bagi saya. Bicara dengan nada tinggi adalah sudah marah. Bahkan, lebih pedas dan membekas ketimbang mengeluarkan kata-kata kasar. Nada tinggi yang sering digunakan ketika marah adalah nada La, Si, dan Do. Saking marahnya, urat-urat leher bermunculan, wajah memerah, jantung berdebar-debar serta bibir bergetar.

Namun apapun ceritanya, apapun masalahnya, tak sepantasnya saya marah. Apalagi hingga mengeluarkan kata-kata kasar , membawa-bawa nama kebun binatang, dan menyebut-nyebut penghuni dalam celana. Suatu sikap tidak elok, tak layak dipublikasikan, dan wajib sensor. Marah, bukan karena saya takut kehilangan teman, rekan atau sahabat, apatah lagi takut di beri label galak, seram dan pemarah. Sebab meski tak marah, saya ini juga galak, seram dan suka marah meski tak pemarah. Tanya saja keluarga dan teman dekat saya. Malah ayah menyebut saya handal. Dalam bahasa Melayu, handal merupakan penyebutan bagi orang yang galak, garang, serta sedikit angkuh. Begitulah penggambaran ayah tentang saya. Padahal sisi terdalam diri saya yang tak bisa dan tak hendak saya pamer-pamerkan adalah peduli, low profil, dan penyayang. Setidaknya menurut saya..

Sebagian orang mengatakan, jika mereka yang tidak sekolah boleh dan pantas marah. Sedangkan mereka yang sekolah, tidak boleh dan tidak pantas marah. Cukup sering pernyataan ini saya dengar. Alasan mereka, orang tidak sekolah merupakan orang yang tidak berpendidikan, tak mendapat ajaran, tak pernah menerima bab etika, moral dan norma. Sedangkan orang yang sekolah, karena sudah mendapatkan pendidikan, moral dan etika, jadi, harus tidak marah, paling tidak menahan amarah. Akhirnya telah saya pikir-pikirkan, apa lah hubungan marah dan sekolah. Padahal, Nabi Muhammad saja tak pernah sekolah, tapi selalu berusaha menahan marah, kerap menasehatkan umatnya agar tak pemarah. Semoga pernyataan tak bertanggungjawab tersebut segera musnah.

Hingga menulis cerita ini, Saya sedang belajar dan berusaha mengatur emosi ketika ada sesuatu dan seseorang memaksa saya marah. Saya tahu itu sangat sulit. Namun saya harus berusaha agar kemarahan tidak mengendalikan saya, tapi sayalah yang mengendalikan kemarahan. Akan terus saya coba, sebab mencoba tak membuat saya rugi. Selain itu, agar tak hadir penyesalan-penyesalan yang kerap membuat saya menepuk jidat, meminta waktu diulang untuk menambal kekhilafan dan kesalahan. Diam, adalah cara saya mengendalikan amarah, agar luka tak tertadah, agar perang tak pecah, agar tangis penyesalan tak membuncah. Well, jika marah, maka diamlah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s