Citra

Cukup lama aku tidak bertemu Citra. Citra nama seorang teman lelaki. Kami sama-sama bersekolah di Taman Kanak-kanak Islam Al-Ikhlas. Umur kami tak jauh beda, kurang lebih 1 tahun. Saat TK ia berumur 6 tahun, sedang aku 4,5 tahun. Citra sangat tampan, putih bersih, tinggi, lucu dan menyenangkan. Jika ia berkelahi atau membuat onar di sekolah, aku selalu melindunginya. Maklumlah, aku kan pangeran kecil pembuat keributan namun pembela kaum tertindas. Dulu, banyak kaum tertindas di sekolahku. Ciri-ciri mereka, suka kencing di celana, tidak membawa bekal makanan, takut bahkan menangis jika disuruh ibu guru membaca dan mengerjakan soal di depan kelas, dan ciri terakhir, berpakaian seragam tidak lengkap. Ketika mereka dimarahi dan diprotes guru, sang pangeran datang menghunus pencil kecil, berkhotbah yang berisi pembelaan-pembelaan memalukan dan tak masuk akal. Tapi pangeran kecil maju dengan gagah berani menentang tirani. Sungguh adegan mengharukan. Pangeran kecil dielu-elukan oleh kaum tertindas, menjadi pahlawan di tengah-tengah mereka.

Salah seorang yang pernah kubela itu, Citra. Meski ia tampan dan berbadan cukup besar, tapi mentalnya tidak begitu berani menghadapi mata melotot dan mimik marah guru kami. Lelah juga aku mengingatkannya. Ia begitu pendiam dan culun. Yang paling membuatku tidak tahan adalah kulit putih bersihnya itu. Karena, saat ia kunasehatkan (dengan gaya marah) agar jadi lelaki pemberani, wajah, kuping, dan lehernya berubah warna. Semuanya memerah. Tambah lagi karena ia putih bersih, rona merah itu lama hilangnya.

Citra kerap berlindung padaku dari ibu guru dan teman-teman kami yang suka mengganggunya. Seharusnya ia berlindung pada Allah dari godaan setan terkutuk baik dalam bentuk latent maupun manifest. Padahal saat TK, sering kami diajarkan ayat kursi, menghafal bermacam-macam do’a, termasuk doa tolak bala. Tapi Citra lebih mempercayakan keamanannya padaku. Bukan aku suruh, ia sendiri yang mau. Citra juga sering memberiku bunga taik ayam. Itu loh, bunga warna kuning orange, agak keriting dan wanginya aneh. Aku tak tahu entah kenapa bunga itu disebut bunga taik ayam.

Aku jadi suka pada Citra. Ia begitu perhatian. Sayangnya, abang sepupunya suka padaku. Teman kami sekolah TK juga. Oleh karena itu, Citra dan abang sepupunya, Koam, selalu bertengkar. Menurutku ini sangat aneh. Citra begitu gagah jika ribut dengan Koam hanya karena aku. Ia menjelma menjadi Kesatria. Tapi aku mengerti, ini tak ada hubungannya dengan hukum gravitasi. Karena filosofisnya adalah, Jika seseorang sungguh-sungguh ingin melindungi sesuatu yang berhaga baginya, maka dia akan menjadi semakin kuat!. Kupikir, begitulah yang terjadi pada citra.

Lima malam lalu, tak sengaja aku bertemu dengan Citra. Meski kulitnya tak seputih dan tak sebersih dulu, tapi sisa ketampanan masa kecil masih menempel di wajahnya. Aku baru tahu, ternyata Citra sudah menikah dan punya anak 1. Ia mendahului aku, Pangeran Kecilnya dulu.

Kami bercerita dan bercanda walau sedikit kaku. Di penghujung cerita, Citra mengkau jikalau ia duda, baru cerai 6 bulan lalu. Sungguh, aku hampir tak percaya. Namun ketakpercayaan itu berhasil kusembunyikan meski janggal kelihatan. Caranya, aku beri ia permen Mentos. Hitung-hitung sebagai pengganti bunga taik ayam yang dulu pernah ia berikan padaku. Walau tak imbang, sebab permen mentosku wanginya segar.
“lebih enak sendiri, Na”

Perlahan Ia mengupas bungkus Mentos dan mengunyahnya. Aku makan chocolatos. “hidup lebih tenang, tak ada keributan, tidak banyak tuntutan” lanjutnya sambil memandang ke arah bull dan bill. Tapi Bull dan Bill cuek tak peduli. Karena mereka hanya dua ekor ikan mas koki, tak pernah mengerti permasalahan hidup manusia yang senang mencari-cari masalah namun tak pandai menyelesaikan masalah. “menyesal juga, tapi takdirnya begini, harus dijalani”.

Setelah mengutarakan penyesalannya, Citra buru-buru pergi. Mungkin ia malu padaku karena terlanjur mengaku. Tapi aku tak bisa lagi menjadi Pangeran Kecil, membelanya seperti waktu masih TK. Lagipula, aku tak begitu paham apa masalah perceraian Citra dan istrinya. Sulit bagiku bersimpati juga berempati. Aku hanya bisa mendengarkan, paling tidak sebagai sahabat lawas, diam-diam tanpa sepengetahuannya aku berdoa, agar Allah berikan berkah, karunia dan jalan terbaik untuk hidupnya. Amin..

(foto Citra belum aku dapatkan. nanti kalau sempat, aku ambilkan wajah tampannya buat kalian)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s