Ketika Bangun tidur kutemui bias gender

Dalam tidur, persoalan bangun-membangunkan tidak perlu membeda-bedakan gender alias jenis kelamin. Tak musti membuat paradigma, jikalau bangun tidur, perempuan harus bangun lebih dulu, tidak boleh kesiangan. Sedangkan lelaki, bangun terlambat dimaklumi, sebab bangun kesiangan adalah hal wajar.

Mengapa harus mengatas namakan gender? Mengapa harus membawa-bawa pemikiran patrilineal? Menurutku itu pemikiran purba. Tidak akan pernah maju jika selalu mendefinisikan bahwa lelaki lebih super dari perempuan. Bahwa lelaki bisa segalanya, sedang perempuan harus dibatasi norma dan etika. Apalagi sistem pemikiran patrilineal ini dipaksakan pada persoalan bangun membangunkan.

Ceritanya pagi tadi, saya telpon-telponan dengan seorang teman. Saat ia tahu saya bangun kesiangan, teman manis saya itu angkat bicara lebih tepatnya protes, “seharusnya, laki-laki yang bangun kesiangan. Perempuan tuh harus bangun cepat dan membangunkan laki-laki”. Jujur saja saya marah mendengar ocehannya. Sekarang kita bahas isu gender ke lingkup rumah tangga. Bagaimana jika bias gender dibawa dalam hubungan suami istri? Disaat istri ingin dilayani, apakah ia harus menunggu ‘nafsu’ suami? Atau disaat istri tak tahan lagi dengan sikap kasar suami dan minta cerai, apakah ia harus menelan bulat-bulat kekerasan, sambil menunggu suami menceraikan?

Rasanya ingin saya ucapkan pertanyaan itu padanya. Karena saya benar-benar tersinggung dan marah. Meski marah saya adalah diam, tak dibahasakan. Meski saya bukan sang feminist yang berkoar-koar membela hak kaum wanita, meminta paksa kesetaraan. Tapi tetap saja ini mengganggu pagi saya. Padahal, jawabannya sangat sederhana. Sangat salah dan tidak baik jika bangun kesiangan dilakukan oleh lelaki dan perempuan. Titik!

Sampai kapan kita akan dibelenggu dengan pemikiran membeda-bedakan gender? Parahnya, persoalan macam ini juga melanda peristiwa bangun tidur. Cukuplah gender itu dipersoalkan sangat alot pada saat pemilihan presiden. Jangan ditambah-tambahi, jangan dipaksakan masuk kedalam ruang kecil, dan dibuat seakan-akan pemikiran patrilineal sangat penting dan wajib mengakar mengurat dalam setiap sel kehidupan.

Buat kamu, maaf jika ini saya tuliskan. Tapi identitas tetap saya rahasiakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s