Panti kucing

Sewaktu adik ke 6 ku, Farida, membicarakan impiannya untuk mendirikan Panti Kucing, sungguh, akulah orang pertama menentang ide nya, unjuk gigi menyatakan tidak setuju. Pikirkan, ia ingin menampung kucing-kucing sengsara dari berbagai desa, kota dan negara. Kucing-kucing yang kehilangan orang tua, ditinggal suami, diselingkuhi pasangan dan diabaikan keluarga karena sakit dan bertambah usia. Sekarang bayangkan, panti kucing yang pastinya ditinggali lebih dari 50 ekor kucing berbagai rupa, warna, dan tabiat. Bayangkan juga, bagaimana memelihara dan merawatnya mulai dari memandikan, memotong kuku, menyikat gigi, memberi makan dan membuang kotoran. Berhenti pada kalimat ini! Usah lagi membayangkan bagaimana jika kucing-kucing ini kawin, baik itu kawin siri atau poligami. Kemudian mereka berkeluarga, beranak pinak, bercucu cicit, hingga sulit membedakan mana ibu, mana istri, mana anak dari istri pertama, kedua ketiga, dan seterusnya. Mana cucu dan mana cicit. Mana pula kucing peliharaan tetangga.

Benar-benar pemikiran sakit jiwa. Terkadang kupikir, adikku itu sudah melangkah terlalu jauh dalam imajinasinya. Sebab, pernah kulihat ia tersenyum-senyum sendiri setelah meng-orasikan gagasannya tentang panti kucing.

Tapi, semua orang berhak punya mimpi, berhak pula mengejar dan mewujudkan impian. Meski sinting sekalipun.

Hingga pada akhirnya, aku sepakat dengan gagasan sinting ini. Kenapa bisa? Nanti akan kuceritakan mengapa bisa aku tertular pada ia punya gagasan.

Kucing. Aku sangat familiar dengan hewan lucu berkaki empat itu. Orang pertama yang mengenalkan kami (aku dan sodara-sodaraku) pada kucing adalah emak. Dua ekor kucing, jantan dan betina bersilaturahmi ke rumah kami. Emak memberi mereka makan. Tak tanggung-tanggung, emak juga memberi mereka nama, manis dan belang. Itu artinya, mereka sah menjadi anggota keluarga Noris meski belum mendapat izin dari ayah. Padahal beliau sudah memiliki 7 orang anak yang luar biasa kerennya, namun ia ikhlas mengasuh 2 anggota lagi dari jenis hewan. Emakku sungguh pengasih, bukan?

Jadi, sejak kecil kami sudah mempunyai adik hewan. Maksudku, terbiasa dengan kucing. Berawal dari 2 ekor , kemudian tidak sengaja bertambah menjadi 18 ekor. Benar-benar mengejutkan! Kami sangat peduli dan sayang dengan kucing (terkecuali ayah dan brader Minggus). Kucing membuat kami tertawa dan menangis. Membuat kami berkelahi namun juga mengakrabkan kami kembali.

Sekarang, kami punya 2 ekor kucing jantan, namanya Fidel dan Kimmy. Love both of them so crazy! Setiap bertemu 2 adek kecil ini, mereka meneriaki, mengejar, menyeruduk dengan kepala dan menggelayut manja. Sangat mengharukan bila melihat cara kami berkomunikasi. Meski kami bukan Nabi Sulaiman yang memiliki mukjizat pandai bahasa binatang, tapi kami mengerti lewat pandangan mata dan bicara dari hati ke hati. Bisa menertibkan dan mengajari mereka bergaul dengan makhluk beda bangsa. Tak jarang kami juga tidur bersama dan curhat tentang apa saja dengan kucing keren ini. Bahkan, hampir semua orang di lingkungan kami mengacungi kami 4 jempol, jempol tangan dan kaki melihat kehebatan kami memahami kucing. Mereka terkagum-kagum membuat kami sedikit menyombong sambil tersenyum-senyum. Jangankan mereka, kami saja pun salut dengan kelebihan kami yang pantang dipandang sebelah mata.

Atas dasar inilah ketidaksetujuanku akan panti kucing memudar, berganti dengan senyum penerimaan dan pikiran terbuka tentang ide mendirikan panti kucing. Panti kucing ini harus segera terealisasi. Agar kucing-kucing yang ditinggalkan orang tuanya tertolong dan dapat ditangani dengan baik. Lagipula, bukankah sangat indah ketika mendapati mereka berjingkrak-jingkrak sambil mengeong keras seakan-akan mengelu-elukan tuannya? Seperti memiliki negara kecil dengan kucing sebagai rakyatnya. Dijamin, sistem pemerintahan monarkhi awet disini, tak kan ada suksesi apalagi pemilu yang kerap menipu.

Sepertinya aku harus menghubungi organisasi penyayang binatang, PETA (People for the Ethical Treatment of Animals Foundation) untuk mendanai kami mewujudkan mimpi ini. Menandai MoU atau nota kesepakatan bersama, melindungi kucing dengan mendirikan rumahnya.

Ah, sungguh menakjubkan jika kau bisa berbagi sayang dan kepedulian dengan makhluk yang asing dalam hidupmu.

2 pemikiran pada “Panti kucing

  1. Wah ini udah terealisasi?
    Jadi penasaran pengen liat gimana pantinya hehe
    Soalnya kepikiran mau bikin panti juga, tp nanti lg nunggu rejekinya ada hehehe
    Sukses ya buat pantinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s