“sudah punya pacar?” – “saya ingin keliling dunia”

Pernah suatu kali aku menceritakan keinginanku bersekolah, berkarir sambil berkeliling dunia pada seseorang. Dia lelaki. Namanya …………….. (di sensor ya.  ). Aku bilang padanya, ingin mengunjungi negara-negara di seluruh dunia, paling tidak, sebagian negara pada tiap benua. Did you know dia jawab apa? “aku tidak mau hidup repot dan rumit mengejar dunia. Yang penting, bisa kerja dan menghasilkan untukku dan keluarga jika aku menikah nantinya. Itu saja cukup. Dunia ini gak kan habis jika dikejar. Akan terus bertambah keinginan-keinginan lain”.

Saat mendengar jawabannya, ekspresi mulutku yang tadinya senyum membentuk huruf ‘u’, langsung mengerucut, merengut seperti ikan cucut. Onde mande.. Rupanya aku salah orang. Salah tempat untuk bercerita. Lelaki itu, nyaris saja mematahkan aku punya cita-cita. Untungnya, curhat cita-cita tersebut hanya kuutarakan via handphone. (kalau face to face, mungkin kepalanya sudah ku tinju).

Akan tetapi (ini serius), si lelaki itu pertama kali menelponku, tanya kabar, tanya kegiatan, tanya sana-sini. Cerita datar berhujung pada pertanyaan, “sudah punya pacar?” Nah, karena pertanyaan datar inilah maka cerita kualihkan dan kujawab saja “saya ingin keliling dunia”.

Padahal dunia ini indah. Penuh dengan keajaiban, menakjubkan, mengagumkan. Ketika melihat dunia, aku merasa kekuasaan Allah semakin hadir di depan mata. Ketika melihat dunia, aku merasa masih banyak kekurangan, dan aku ternyata makhluk kecil yang sangat tidak ada apa-apanya. Ketika melihat dunia, maka keangkuhanku memudar seketika. Selain itu, aku hobi travelling. Efeknya banyak. Bisa belajar fotografi, sumber inspirasi, mengurangi kebosanan, menambah wawasan dan pergaulan.

I know, bukan hal mudah untuk mewujudkan semua mimpi itu. Tapi, tetaplah bermimpi setinggi langit… karena seandainya terjatuh, maka akan terjatuh di antara bintang2.

yeii..🙂

Finally, musti sering-sering aku belajar memahami pemikiran orang lain. Karena beda kepala, tentu saja beda rasa, beda keinginan, beda pilihan, beda pemikiran. Setidaknya, aku bisa memaafkannya dan meredam kecewa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s