cantik tak harus imitasi

Hello March..
Wellcome to my life and thank you for growing with me and this site

Setiap perempuan pasti ingin terlihat cantik. Tujuannya beragam. Ingin dipuji pasangan, ingin mendapat gelar ratu kecantikan, ingin jadi pusat perhatian, ada pula karena paksaan lingkungan.

Beragam cara dilakukan, seperti memakai make up ketebalan, ber-high heels ketinggian, berpakaian di luar kebiasaan, adapula yang menggunakan suntik botox hingga operasi pelastik.

Sama halnya dengan perempuan-perempuan di luar sana, saya pun ingin cantik juga. Memakai make-up, high heels, berpakaian up to date mengikuti perkembangan fashion masa kini, bertransformasi menjadi ladys bin feminis, meski sebenarnya saya tidak terlalu senang bergaya seperti itu. Tidak terbiasa dengan high heels alias sepatu ber-hak tinggi. Tidak familiar dengan gaun atau longdress. Tapi karena tuntutan lingkungan, terpaksa saya lakukan.

Jika yang akrab mengenal saya, pasti paham bagaimana style saya sebenarnya. Agak tomboy, sedikit lelaki, cukup macho dan sangat keren. Tapi, jika baru tahu tentang saya, mungkin akan menyebut saya feminim, lentur gemulai, dan gadis.

Ada suatu kisah cukup mengusik kesadaran dan menyentuh saraf peka saya. Saya selipkan di halaman ini, untuk menjadi ingatan agar tak terulang lagi kesalahan di lain hari.

Ketika itu, tepatnya senja. Saya meeting dengan 2 orang lelaki, fungsionaris DPD PDIP Sumatera Utara, di salah satu café cukup beken di Medan. Rupanya, sudah 30 menit mereka menunggu saya.

Singkat cerita, seorang lelaki yang baru saya kenal 1 bulan itu angkat bicara seusai meeting dimana saya tegak beranjak hendak berlalu, “kalau memang tak nyaman dengan yang kamu pakai, untuk apa dipaksakan. Kamu sudah cantik dengan kecerdasan, ketegasan dan karakter yang kuat”. Saya terhenti seraya membalik muka, menoleh kebelakang. Padahal sudah 2 meter jarak saya tinggalkan, antara posisi saya berdiri dan tempat kedua orang itu duduk mengamati. Saya miringkan kepala ke kanan, menautkan kedua alis, antara sikap ingin marah dan meminta penjelasan.

“Cantik, tidak harus menjadi orang lain. Malah kamu kelihatan norak. Make up, High heels, cardigan sempit, dan jeans pasha ungu tidak bisa menyamarkan jiwa kamu yang sebenarnya. Tidak hanya saya, sebagian besar orang akan berpikir hal yang sama, kamu gagah dengan kemeja dan sepatu lepas (maksudnya flat shoes).”

Perlahan, kepala saya bergerak ke tempat aslinya, tegak sempurna. Alis menuju posisi normal dan kedua tangan bersidekap ke dada. Pertanda bergantinya amarah menjadi resah. Resah mendengar kata berikutnya dari lelaki batak itu.

“dulunya kamu tomboy kan? Dan itu masih terlihat sampai saat ini”. Lanjutnya sambil berlalu meninggalkan saya terpaku dan malu.

Akhirnya, saya berusaha memupuk kepercayaan diri bahwa tak semestinya saya memakai kawat gigi. Karena gigi tak rapi dan sedikit maju ini membuat senyum saya manis dan penuh arti. Tak pelu saya suntik putih. Sebab kulit kuning langsat dan malah lebih dekat warna coklat, membuat saya riasan make-up saya indah melekat. Pun tak perlu operasi bentuk hidung. Sebab hidung setengah mancung menjadikan jarak sujud saya pas, tak terhantuk ke lantai. ^_^

Cantik tak musti menyakiti, cantik tak harus imitasi.

Cantik? Ya, itu saya. Cantik dengan kesederhanaan saya. Semakin cantik karena rasa sukur saya padaNya.Cantik bukan untuk siapa-siapa, tapi cantik karena anjuranNya.

Luv
DF. Norris

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s