Bambang bukan Bank

Sejatinya pernikahan adalah untuk memuliakan, untuk dimuliakan dan untuk mendapat kemuliaan. Tapi yang terjadi sekarang ini, makna suci pernikahan sudah bertransformasi menjadi bisnis dan identik dengan pesta hura-hura.

Kamis malam. Tetangga saya, Bambang, mengeluhkan tentang perempuannya yang mendesak mengajak nikah. Bambang mengatakan, ia memang siap menikah, namun belum punya uang untuk pernikahan yang pastinya mengeluarkan biaya tidak kecil. Namun, perempuannya menolak jika pernikahan dengan mahar murah, seadanya dan tidak ada pesta meriah.

Masalahnya, Bambang bukan Bank dimana ia bisa mengeluarkan uang sesuai dengan jumlah permintaan. Bukan pula bank dimana bisa meminjamkan uang sesuai besarnya jumlah agunan.

Ketika Bambang memutuskan mengakhiri hubungan, menyerah karena tak sanggup melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan, perempuannya merajuk, menangis tersingguk-singguk.

Apa yang bisa saya komentari? Rasanya tak pantas saya beropini tentang kisah Bambang. Sebab bukan kapasitas saya memberi nasehat pernikahan padanya. Belum berpengalaman. Lagipula, saya juga belum tahu jika menikah nanti ingin bagaimana, ingin seperti apa, ingin ada pesta mewah, atau hanya undangan pihak keluarga. Sesungguhnya, uang memang penting, dan sangat penting.

Namun, niat dan hajat baik musti dilaksanakan, dan yang halal harus disegerakan, bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s