jodoh: be careful wif what you said

Bincang-bincang petang bersama abang saya dengan judul ngalor ngidul, akhirnya berujung pada topik jodoh. Awalnya kami (saya, lily dan abang saya Minggus) bercerita sambil nonton tv. Kemudian listrik mati untuk ke lima kali dalam sehari, saat itulah bincang-bincang tentang jodoh dimulai.

Salah seorang tetangga kami, sebut saja namanya Mira, sebelum menikah ia pernah bilang seperti ini: “soal jodohku, siapa pasanganku nanti, aku gak mau macam-macam. Aku Cuma ingin lelaki yang baik. Tak perlu kaya, tampan, atau keren, yang penting dia lelaki yang baik. Cukup”.

Beberapa bulan tak terlihat, tadi malam ia muncul di depan kami. Suaminya jelek (maaf, tapi aku jujur), anaknya juga mirip ayahnya, sebelas-dua belas (ini juga jujur). Padahal, Mira cukup manis lah dibanding suaminya. “lumayan” kata lily. Dan memang, sesuai pintanya sebelum menikah, Mira mendapatkan suami baik hati.

Selanjutnya cerita tentang temanku, Eka (nama samaran). Sebelum nikah ia berkata: “aku mau jodohku lelaki tampan dan keren. Kan gak malu-maluin. Bisa dibawa kemana-mana. Begitu kata Eka suatu hari lalu. Singkat kata singkat cerita, Eka pun menikah dengan lelaki tampan, keren, keturunan India. Bisa dibilang Sweet couple lah. Serasi. Keinginannya dulu dikabulkan Tuhan. Namun apa yang terjadi? Eka kerap dimarahi dan dipukul suaminya. Eka mengalami KDRT, kekerasan dalam rumah tangga.

Kalau dipikir-pikir seram juga ya. Kalau yang kita ucapkan hal-hal baik, sukur alhamdulillah bila jadi kenyataan. Tapi, kalau kita spontan bicara yang buruk, bisa bahaya.

Nah, mendengar cerita ini, Minggus langsung bicara sambil berdoa (atau berdoa sambil bicara ya?) “abang mau jodoh abang tuh, perempuan cantik, baek hati, dan soleha. Materi gak perlu”.

Kemudian kutanya mengapa kriteria nya harus cantik? Ini jawabnya:
“Karena sudah cantik, gak perlu banyak perawatan yang memakan biaya dan waktu lama. Kalo jelek, abang kan musti siapkan biaya besar untuk operasi plastik. Lagipun dosa juga”.

Kutanyakan lagi mengapa harus baek hati? Ia bilang, moral lebih penting untuk membangun keluarga beradab, sakinah-mawaddah-warrohmah.

Sarat sederhana, namun cukup sulit mendapatkannya pada episode dunia fatamorgana. Semoga saja abangku itu mendapatkan jodoh sesuai dengan pintanya, Amiinn..

Kalau begitu, hati-hati dengan ucapan. Pikirkan sebelum dikatakan agar tak menambah daftar penyesalan.

“Perkataan adalah doa, oleh sebab itu, berkatalah yang baik-baik”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s