hanya di ujung lidah

Nak, Rupanya cinta tak sesederhana yang kukira, tak semudah yang dibayangkan, tak seindah yang kurasa. Keanggunan cinta hanya ada dalam tulisan dan cerita.

Semestinyalah dalam cinta tak ada kedua, ketiga atau berikutnya. namun kenyataan tak serupa dengan keinginan.

Ingatkah kau ketika ayahmu, atau kusebut saja bekas ayahmu, meninggalkan kau dan aku demi perempuan jalang itu? Tahukah kau jika bekas ayahmu benar-benar melupakan kau dan aku? Tidakkah kau lihat bekas ayahmu menggendong anaknya, anak perempuan itu, dimana seharusnya kau lah yang ada di gendongannya? Masihkah kau harap agar ia menjadi pahlawanmu apalagi menjadi wali nikahmu?
Masihkah kau bermimpi agar ia membelikanmu susu?

Nak, usahlah berpikir menjadi Juliet, kekasih Romeo dalam cerita di kota Verona, dimana Romeo mengorbankan diri demi cintanya kepada Juliet. Jangan pula berharap seperti kisah Shah Jahan dan Arjumand Bann Begum pada abad ke17, India. karena kesedihan akibat istri tercintanya meninggal dunia pada umur 39 saat melahirkan anak 14 mereka, ia menugaskan para bawahannya untuk membangun taj mahal agar sang istri dapat selalu dikenangnya.

Manis bukan buatan. Tapi Nak, cinta bukan demikian. Sebab cinta yang indah hanya ada di ujung lidah.

(Kepada seseorang kisah ini aku tuliskan, agar menjadi ingatan di masa depan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s