berimajinasi di kampung nisbi

Menjelajah ke alam imajinasi merupakan hal yang masih saya lakukan dari kecil hingga sekarang. Walaupun sebenarnya, saya juga lebih menikmati menjelajah ke berbagai pelosok atau daerah-daerah asing, unik dan tentunya belum pernah saya kunjungi. Tapi, kalau sedang tidak punya amunisi alias uang, belum ada tawaran gratis berjalan-jalan, atau tak punya waktu luang, berimajinasi adalah alternatif terbaik sambil melatih kecerdasan otak dan keliaran pikiran. Itu menurut saya. Jika kalian berpendapat lain, silakan.

Sahabat saya Albert Eistein pernah berkata bahwa Imajinasi lebih berharga daripada ilmu pengetahuan. Logika akan membawa Anda dari A ke B. Imajinasi akan membawa Anda kemana-mana. Dan itu berarti Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan.

Biasanya, saya berimajinasi di kamar mandi, ketika berangkat tidur, atau setelah sholat dhuha. Hasilnya, banyak bermunculan ide-ide sinting, tak pernah ada dan sedikit nyeleneh. Malah, tak jarang juga ide-ide tersebut membingungkan saya sendiri. Kemudian, efek dari imajinasi ini membuat saya terlihat aneh di mata dan mulut orang lain. Mereka mengatakan saya mengada-ada, tukang khayal, bahkan tak jarang mereka menertawakan saya dan mengatakan saya gila. Oh, mereka pernah pula mengatakan “tidak mungkin” tentang hasil imajinasi saya itu. Lebih hebatnya lagi, mereka juga ikut mengevaluasi pemikiran liar saya dan mengkanvaskannya. Menjadi Tuhan diatas Tuhan.

Padahal jika dipikir-pikir, mereka tak punya hak untuk ambil bagian terhadap hasil pemikiran saya, apalagi menentukan mungkin atau tidak mungkin terjadinya. Karena ketidakmungkinan, hanyalah sugesti yang diciptakan oleh diri sendiri. Ketidakmungkinan adalah suatu sikap pecundang yang dipelihara. Impossible is nothing. Prinsip itu yang saya pegang dan tetap saya percaya.

Tapi, itulah sebagian besar sikap manusia yang harus (dengan terpaksa) saya maklumi. Sebab ketika kita melakukan hal-hal aneh dan tak pernah ada sebelumnya, ramai orang diluar sana mengatai, mencibir dan menisbikan. Akan tetapi, disaat imajinasi tersebut menjadi nyata dan bernilai, banyaklah memuji dan menjadi pengikutnya.

Hanya sikap tegar, sabar dan semangatlah yang saya pelihara ketika menghadapi iklim ketidakmungkinan dan berhadapan dengan bangsa nisbinya. Hanya keyakinan lah yang tetap saya pegang agar satu persatu imajinasi dapat diwujudkan.

Akhirnya, kepada Allah jualah saya meminta agar sikap sabar, tegar dan semangat saya tetap ada. Kepada Allah jualah saya tetap bersukur dengan imajinasi yang tak pernah terhenti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s