rumah tangga tetanggaku

Tidak semudah yang dipikirkan, ternyata berumah tangga itu cukup sulit. bukan hanya mengumbar kata-kata cinta dan bertingkah-tingkah manja, tapi Musti pintar meramu dan menakar, agar tak hambar. Harus pandai melebur perbedaan, bijak bicara, menekan ego dan melerai gengsi. Sebab, ada dua kepala yang hendak bicara, masing-masing membawa dasar pijaknya. Jika tak saling mengerti dan memahami, bisa-bisa saling terkam, runtuhlah ikatan keluarga, pecahlah bahtera rumahtangga, pupuslah ikan janji setia. Kalau sudah begitu, anak yang jadi korban.

Tadi siang, tetanggaku datang mengadu. Katanya, suaminya marah-marah karena mendapati anaknya bekerja di salah satu toko hamburger. Suaminya tak terima. Alasannya, suaminya tak ingin sekolah anaknya berantakan, apalagi anak perempuannya masih duduk di kelas III SMP.

Kujawab dengan senyum “bagus tuh kak” serta anggukan kepala.

Ternyata, tak sesederhana itu. Katanya lagi, suaminya berteriak-teriak, marah sejadi-jadinya, dan menyemburkan makian yang sangat tak pantas di dengar siapapun. Suaminya meminta –memaksa—agar anaknya berhenti bekerja. Alasan selanjutnya, ia tak ingin memberi kebebasan pada anaknya meski bekerja. Karena nanti, akibat kebebasan itu, anaknya bisa menjadi –maaf—lonte . Kemudian, menurut suaminya lagi, ia masih sanggup cari makan.

Mendengar cerita tetanggaku, membuatku ingin marah pada suaminya. Ditengah himpitan ekonomi yang semakin memusingkan kepala dan menyesakkan dada, ada pula seorang ayah yang melarang anaknya bekerja, walaupun anak tersebut tetap bersekolah. Aneh juga, bukannya bangga dengan kegigihan anak membantu meringankan beban ekonomi orangtua.

Padahal penghasilan lelaki itu tak mencukupi kehidupan mereka. Sama sekali tak mencukupi dimana ia hanya seorang buruh bangunan, punya satu istri dan 4 orang anak.
Kuredam-redam amarah, agar tak buruk efeknya. Akhirnya, kujelaskan baik-baik padanya bagaimana menyikapi suaminya. Aku tak bermaksud menggurui, karena aku pun belum menikah, belum punya suami, belum berkeluarga. Kukatakan yang bisa kusampaikan, berpedoman karena Allah semata.

“Bahwa, lemah lembutlah bersikap. Singkirkan amarah, tepiskan ego dan gengsi, agar lebih bijak bicara. Karena, tak semua manusia paham dengan setiap keadaan. Suami istri, adalah tempat berbagi, saling mengingatkan, saling memberi dan menerima, menutupi kekurangan, melebur segala perbedaan. Diam karena gengsi bukan solusi, tapi bicaralah dari hati ke hati. Memang, tak mudah mengubah watak keras manusia, tapi bagaimanapun kerasnya, akan luluh juga jika di ucapkan dengan perkataan sopan lagi menyejukkan. Ibarat batu keras yang ditetesi air berkali-kali, lama kelamaan akan hancur juga.
Bahagialah menjadi perempuan, sebab perempuan adalah tiang negara. Keluarga, boleh juga disebut negara, tepatnya negara kecil. Maka, di tangan perempuanlah letak dan kunci kesuksesan keluarga. Baik-baiklah menjaganya. Pintarlah menggunakan kuncinya. Agar tak jadi sia-sia.

Karena sifat dasar lelaki adalah ego dan merasa super, ia tak ingin direndahkan dan dituding tak bisa cari makan. Kuanjurkan pada tetanggaku, supaya tak ikut marah dan diam menghadapi suaminya. Tak perlu susah hati. Ia beruntung, suaminya masih bertanggungjawab. Hanya saja, suaminya tak pandai meletakkan kata tanggungjawab. Tak bisa ia bermanis-manis mulut dan lembut suara. Tak mampu ia menjalin kata-kata pantas untuk menghadapi keluarga. Kusarankan lagi padanya, agar tetap mesra, bahkan lebih romantis dari biasanya. Melebihi gaya bercinta anak remaja. Ajarilah lelaki itu dengan sikap dan perbuatan santun. Sebab, manusia sering terlupa memakai akalnya jika merasa terhina, bahkan sekalipun ia tak dihina.

Soal rezeki, Allah sudah atur, dimana dan bagaimana kita mendapatkannya. Meski terkadang kesulitan ekonomi menyergap, namun kasih sayang dan keharmonisan keluarga tak boleh lenyap. Lagipula, tidak jarang kekayaan yang banyak malah membuat sebuah rumah tangga DIMISKINKAN oleh keinginan, ambisi dan kedengkian yang meluap-luap.
Perbanyaklah berbincang pada Allah, seringlah membaca dan mengambil ikhtibar dari suatu peristiwa, sebab rumah tangga yang kurang ilmu adalah rumah tangga yang hanya akrab dengan sikap emosi dan jauh dari kearifan”.

Setelah itu, ia menyeka airmatanya, kemudian terseyum dan pamit padaku.

*terkadang sok pintarku kumat. sampai detik ini masih bertanya-tanya, siapa saya hingga membuatnya datang meminta pandangan. Siapa saya hingga membuatnya lega bercerita. Siapa saya hingga membuatnya tersenyum-senyum malu. Siapa saya hingga membuatnya berlalu dengan bahagia. Pun masih bingung, sahdu betul ucapanku itu*

2 pemikiran pada “rumah tangga tetanggaku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s