tak punya hobi

Dulu, sewaktu kecil, aku selalu berpura-pura punya hobi. hobi ku kerap berganti-ganti. Meskipun aku tak tahu entah apa fungsi dan guna hobi. terkadang hobiku menyanyi, mengumpulkan prangko, menanam bunga, membaca dan bermain guli (kelereng).

Ketika kawan-kawanku menyodorkan buku profil –sejenis buku diary bersama kawan sekolah– atau biodata untuk diisi, yang membuat aku kerap bingung adalah mengisi pertanyaan tentang hobi. Terdiamlah tanganku agak lama untuk mengisi pertanyaan hobi itu. Bingung. Kemudian, kutulis disana hobiku adalah: menyanyi. Agar nampak hebat.

Nah, hobi menyanyi inilah yang menjadi cikal bakal penyebab aku tidak lagi peduli mengisi pertanyaan tentang hobi.

Pernah suatu masa, masa-masa gagah anak SMA (^_^), aku sebagai pradana (ketua atau pemimpin) pramuka penegak bantara, diminta oleh salah seorang kakak pramuka Dewan Kehormatan Cabang (DKC) mengisi lembaran biodata, sebagai sarat awal mengikuti Giat Lomba. Buru-buru kuisi tanpa memikirkan kemana masa depan lembar biodata tersebut. Tibalah saat wawancara. Tiga orang kakak DKC menanyaiku banyak hal tentang pramuka. Kujawab semua pertanyaan dengan tegap dan mantap. Kemudian masuklah pada pertanyaan hobi. Semula aku curiga melihat sikap kakak-kakak pramuka tersenyum-senyum membaca lembar biodataku. Akhirnya, yakinlah aku dengan kecurigaan itu ketika mereka menyuruhku menyanyi.

“saya tidak bisa menyanyi” jawabku kecut. Pada level ini, hilang semua perasaan tegap dan mantap tadi.

“kamu tau dasa dharma pramuka?” tanya seorangnya. Dia laki-laki, agak manis namun tidak lucu.

“tau kak” jawabku sambil tersenyum paksa, membuat wajahku jadi terlihat lucu seperti senyum Musdah Mulia kala terdiam menjawab pertanyaan seorang intelektual dalam debat islam liberal.

“sebutkan dasa dharma pramuka yang ke sembilan”

“bertanggung jawab dan dapat dipercaya”

“dalam lembar biodata, kamu menulis hobi kamu adalah menyanyi. Kamu anak pramuka?” tanyanya dengan wajah ragu. Sungguh mate, ingin rasanya kutinju kakak pramuka itu.

“iya kak. Saya anak pramuka”

“kalau begitu, bertanggungjawab lah dengan tulisan kamu, dan jadilah pramuka yang bisa dipercaya”

“siap kak..!” kataku dengan suara yang di besar-besarkan agar tak menangis.

Rupanya mate, ketika kau dalam keadaan terjepit dan tertekan, kau tak bisa berpikir cerdas dan jernih. Yang keluar dari mulutmu adalah apa yang sudah ada di pikiranmu bukan apa yang akan kau rancang dan rencanakan.

Maka, kunyanyikan lagu yang kuingat saja, lagu burung kakak tua. Tertawalah ketiga makhluk menyebalkan tersebut. Tertawa sejadi-jadinya hingga meneteskan airmata.

Sejak saat itu, aku jera mengisi pertanyaan pada bagian hobi. Kalaupun terpaksa mengisinya, supaya aman, kutulis saja hobiku adalah sekolah. Ya, sekolah. Karena setiap hari kecuali minggu, aku bersekolah. Rutin dan patuh aku bersekolah. Meski hujan, banjir, sakit, aku tetap bersekolah. Harus aktif dilaksanakan. Karena sudah bagian dari hobi.

Begitulah mate.. Dalam hidup ini, tak ada gunanya berpura agar kelihatan hebat dan keren. Jadilah diri apa adanya. Tak perlu meniru-niru gaya orang lain. Jika kau tak punya hobi, katakan sajalah tak punya hobi. Usah imitasi. Jujur lebih baik daripada mati konyol.

“Kejujuran akan memperindah diri seseorang jauh lebih indah dari apapun yang dimilikinya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s