Kisah sepasang sepatu

Para shahabat pernah menanyakan makna ikhlas kepada Nabi Muhammad SAW. Nabi menjawab: Saya (pernah) bertanya kepada Malaikat Jibril, apakah ikhlas itu? Malaikat Jibril berkata; saya bertanya kepada Tuhan, apakah ikhlas itu? Maka Tuhan pun menjawab: “ikhlas ialah rahasia dari rahasia-Ku, yang Aku titipkan pada hati orang yang Aku cintai di antara hamba-hamba-Ku”. (H.R Al-Qazwini)

ikhlas

Tiba saat dimana keihlasanku di uji..

Pukul 19.30 wib malam, Selasa, 18 Januari 2011
Sepatu Ardiles putih hilang. Anehnya, hanya satu pasang yang hilang. Satu pasang lagi, tetap bertengger di teras rumah. Sepatu busuk itu tak bergerak dari tempatnya. Rupanya pencuri tahu merk juga. Ia tinggalkan sepatu tak mahal, tapi ia sikat sepatu berkilat. Aku thowaf mencari sepatu Ardiles itu di segala penjuru. Di rumah, di kamar, di jalan, di atap seng, bahkan di tempat yang tak mungkin ia ada. Di dalam galon air, di kotak soft lensa, di lemari baju hingga di dalam tas. Kutanyai setiap orang yang lewat di depan rumah. Tak juga kutemukan. Kalau sepatu itu milikku, tak mengapa. Aku bisa sedikit santai mencarinya. Tapi sepatu itu milik adikku. Sungguh, adikku itu cerewet minta ampun. Habislah aku direpetinya jika ia tahu sepatunya hilang dicuri orang. Sebab sore itu, aku berada di rumah. Pasti tuduhannya, akulah yang bertanggungjawab atas hilangnya sepatu.

Pukul 22.30 wib hampir tengah malam
Geram betul aku dengan pencuri tak beretika itu. Habis ia ku sumpah serapah meski tak ada di depan mata. Susah aku tidur dibuatnya. Tengah malam, kupikir-pikirkan jawaban yang akan kuberikan nanti jika adikku bertanya dimana sepatu Ardiles nya. Jadilah aku seperti siswa yang latihan mengarang pada pelajaran bahasa indonesia. Untung saja adikku menginap di kantornya –adikku jurnalis di salah satu media online—jadi aku bisa merangkai kata dan mereka-reka alasan. Jujur saja, belum bisa aku ihklas dengan kehilangan itu.

Pukul 09.00 wib pagi, Rabu 19 January 2011
Masih judul yang sama, yaitu aku tetap memikirkan hilangnya sepatu. Kuambil wudhu’, kulaksanakan shalat duha seperti biasa. Aku menangis dalam diam. Senyap-senyap, sembunyi-sembunyi. Selesai duha, aku berpikir, betapa kerdilnya aku ini. hanya karena hilangnya sepatu membuatku cemas dan tak bisa tidur. Bagaimana ketika sholat wajib kulaksanakan di penghujung waktu, bahkan pernah lewat, kenapa aku tak resah, gelisah dan merasa bersalah? Padahal begitu banyaknya rezeki dan karunia yang Allah beri, hingga aku bernafas hari ini. miskin sekali cintaku padaNya. Ku lafadz istighfar, kusebut namaNya, kuucap doa:
Allah, aku ikhlas dengan kehilangan itu. ikhlas se ikhlas-ikhlasnya. Tak menuntut harap sepatu itu kembali. Tak meminta diberi pengganti. Aku sudah mencarinya, tapi jika memang sepatu itu tak ketemu juga, langkah terbaik adalah dengan mengikhlaskannya. Semoga tak putus rezeki dari Mu padaku, juga pada si pengambil sepatu. Allah, maaf jika cintaku masih tunduk pada duniaMu. Maaf, jika cintaku berbatas hingga membuatMu cemburu. Allah, maaf, hanya karena sepatu aku nyaris menghilangkan sukurku padaMu”.

Pukul 11.00 wib hampir siang
“assalamu’alaikum…” seorang wanita mengucap salam dari luar.

“wa’alaikum salam, ada apa kak?” tanyaku.

“kak, maaf, mau mengembalikan sepatu” ucapnya terbata. Kulihat wajahnya pias, pucat menahan malu. “Adik ipar saya yang mengambil sepatu kakak tadi malam. Tadi pagi, saya nampak sepatunya di atas lemari. Maaf ya kak. Adik saya memang nakal, dia sudah gak sekolah, umurnya 13 tahun. Tapi dia memang suka nyolong..”.

“ya sudah kak.. gak apa. Saya sudah maafkan sebelumnya. terimakasih, sudah mengembalikan sepatu saya..” ucapku. kakak tersebut pun berlalu meninggalkan aku, yang terpaku, malu..

Allah.. betapa malunya aku menghadapkan wajah padaMu. Betapa miskinnya iman dan cintaku padaMu. Betapa serakahnya aku menginginkan dunia. Allah.. maafkan hamba yang hanif ini. Terimakasih atas cinta, kasih dan karuniaMu yang tak terhingga..

sahabat, mari belajar ikhlas..

Satu pemikiran pada “Kisah sepasang sepatu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s