Tawaran Gayus

Tidur tak hanya merebahkan badan kemudian terlelap. Namun juga, ikut merebahkan pikiran dan berpetualang bersamanya melalui mimpi. Menjelajah dunia yang memperantarai dua alam, fenomena dan abstrak.

Menurut sahabat lawas saya, Sigmund Freud, mimpi adalah ekspresi yang terdistorsi atau yang sebenarnya dari keinginan-keinginan terlarang yang diungkapkan dalam keadaan terjaga. Menurutnya lagi, mimpi sebagai hambatan aktivitas mental tak sadar dalam mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan individu, beriringan dengan tindakan psikis yang salah, selip bicara (keprucut), maupun lelucon.

sigmund freud

Saya pikir-pikir, ada benarnya juga orang Moravia-Austria itu. Tak sia-sia rasanya saya membaca buku Psikoanalisa yang ia titipkan dulu. Bukunya masih ada kini Mate. Kalau kau hendak membacanya, tanyakan dulu izinnya pada si Freud di alam kubur sana. Tak sanggup? Tak apa, kau bisa membelinya di toko buku, terutama di toko-toko besar. Cari di bagian rak buku Psikologi. Terus saja, usah belokkan mata ke kanan – ke kiri. Nanti tergiur pula kau mengintip tulisan penulis-penulis sastra kelamin nan berlendir dan berdarah-darah itu, gagal lah kau berkenalan dengan si sinting, Freud. Tapi, jika membeli pun kau tak sanggup, sahabat saya bang Google bisa membantumu.

Begini Mate, saya bermimpi kemarin lalu. Tentang gayus dalam mimpi yang jayus. Hebat bukan buatan mimpi saya itu. Mimpi yang mengguncangkan iman. Gayus datang sendiri saja. Tak dengan bawahan suruhan, ataupun ajudan. (maaf mate, tak ada atasan disini. Gayus lah atasan dari segala atasan. Ia penguasanya).

Sebelumnya, kami telpon-telponan untuk men-deal-kan janji. Perlu saya jelaskan, ketika Gayus menelpon saya, di layar telepon genggam keluaran Malaysia itu, tak muncul angka. Hanya tertulis ‘private number’. Jadi, tak perlu kau tanyakan nomor telepon si Gayus.
Akhirnya, bertemu lah kami –saya dan Gayus—di suatu ruangan rahasia berukuran 7×6 m. Seperti ruang bawah tanah. Hanya ada 1 meja dan 2 kursi. Diterangi cahaya kuning keemasan lampu kristal.

“bagaimana mbak, bersedia?”

Saya diam membisu. Tepatnya, ragu, bingung memilih kata dan kalimat apa yang harus saya keluarkan untuk menjawab pertanyaan dari tuan berbatik coklat ini.

“mbak nggak perlu susah-susah mikirnya, tinggal tandatangan saja, beres” desaknya setengah memelas namun dengan mimik serius. “saya bukan ingin menjerat mbak dengan tawaran ini. Lagipula, jika cecunguk itu mengusik-usik saya, rahasia kita tak akan terbongkar. Saya garansi..!”

Cecunguk yang dimaksudkannya itu, pastilah Komite Pemberantasan Korupsi bentukan Pemerintah yang ditugaskan sesuai namanya, yaitu untuk memberantas korupsi.

“saya tak akan terdekap meski terjamah. Orang-orang besar bersama saya. Karena saya menyimpan semua rahasia mereka. Tak ada yang bisa membongkar kasus saya, kecuali Tuhan. Kecuali Gusti Allah. Gusti Allah ora sare..”. Sebutnya dengan bahasa jawa yang tak medok sebab ia bermarga Tambunan, suku batak. Sambil membuang pandang kosong ke pintu depan, kalimat itu ia sebutkan.

Kau dengar itu? Gayus menyebut Tuhan, Mate. Selain itu, tahu-tahuan pula ia menyebut Gusti ora sare.

Memang, saya tak punya hak memonopoli Tuhan. Tuhan bebas disebut-sebut semua orang bahkan ketika berada dalam ancaman. Bebas pula dilupakan semua orang ketika merasa sudah aman dan merasa Tuhan tak lagi dibutuhkan. Tapi, apakah Gayus juga menyebut Tuhan ketika menipu rakyat? Tuhan yang katanya ora sare alias tidak tidur?

“mbak Dinna?” tanyanya sambil menaikkan kedua alis. Ia bingung melihat saya mematung.

Bukan tak tergiur saya dengan uang besar itu. Bayangkan Mate, uang dengan nominal 12 digit..! 100 milyar..! Uang 100 milyar akan berpindah ke tangan saya hanya dengan tandatangan saja. Uang yang hendak dititipkan gayus pada saya, yang katanya untuk mengamankan uang kecil ‘sisa hasil usaha’, yang katanya tak mungkin terendus cecunguk, yang katanya aman dan tak haram..!

“mbak boleh pakai 10 digit dari uang titipan ini”. katanya lagi. Sempat pula saya menghitung dalam kepala berapa banyak 10 digit itu. Kau tahu? 1 milyar boleh saya gunakan. Free alias tak perlu diganti..! Kata Gayus sebagai uang jasa atau imbalan penitipan.

“enghh.. apa ini aman? Bagaimana kalau KPK berhasil menyelidiki uang ini?” Tanya saya ragu.

“KPK tak mungkin bisa menyenter uang ini. Uang ini aman karena mereka lebih dulu saya amankan. Percayalah mbak. Hanya mbak yang bisa menolong saya”

“maksud saya..,”

“kenapa?” potongnya.

“mbak, kita sudah sama-sama paham alur politik itu bagaimana. Karena mbak dinna juga pernah aktif di partai politik kan? Jadi, mengertilah persoalan uang. Darimana hilir dan hulunya, dan kemana pula uang itu bermuara”.

Sungguh..! Manis sekali cara Gayus meyakinkan saya. Memperdaya..! Benar-benar ular cobra. Cantik, memikat, namun bisa membuat mati sekarat.

Sebagai rakyat Indonesia asli, saya sangat butuh 1 milyar itu. Amat banyak kegunaannya. Untuk biaya S2, tambahan uang kuliah adik saya, untuk modal mendirikan café dan bisnis-bisnis keluarga saya, dan, bisa pula saya belikan Kijang Toyota. Manis sekali kedengarannya 1 milyar itu, Mate. Membayangkannya saja hampir menetes air liur saya karena saking lamanya menganga.

“mbak hanya tandatangan di kertas ini”. Gayus mengulurkan pulpen dan selembar surat yang diketik pada kertas HVS A4. Agak mengejutkan karena 1 milyar itu masih saya bayang-bayangkan. “tak ada yang tahu. saya datang sendiri. Begitu juga dengan mbak dinna. Hanya kita berdua di ruangan ini”.

Saya meraih pena, gemetar, namun saya tandatangani juga.

Kemudian ia tertawa sekeras-kerasnya. Tawanya membahana di ruangan, memantul-mantul dari sudut ke sudut, menampar wajah saya, dan memaksa saya keluar.
Masih dengan tawanya, Gayus berteriak, “KITA SAMA MBAK DINNAAA…. SAMA-SAMA PEMAKAN UANG RAKYAT…!! GUSTI ORA SAREEE..!!”

Saya lari pontang panting dari tempat sesat itu. Meninggalkan Gayus dengan tawanya yang masih terdengar meski saya telah berlari jauh. Membuat kepala sebelah kanan saya sakit. Amat sakit. Saya yakin ini bukan migrain dan bukan pula karena tawa Gayus. Seperti ada benda menghimpit. Saya jauhkan benda itu.

“Brakkhh…!!” suara keras benda jatuh menyadarkan saya. Tapi kepala saya tak lagi sakit. Ternyata, Netbook sony vaio saya yang masih menyala terjatuh akibat saya dorong. Netbook inilah yang menghimpit kepala.

Segera saya cari-cari kertas yang sudah di tandatangani tadi. Ingin saya robek..! Namun tak ada dimana-mana. Barulah saya mafhum bahwa rupanya saya bermimpi tentang uang 1 milyar dari gayus.

“Tuhan…” gumam saya dalam hati.

Saya angkat netbook yang masih menyala itu. Terbaca petikan judul di salah satu media online: “Gayus membacakan pledoi di pengadilan”.

Gayus di Jakarta, ia masih tahanan kejaksaan. Memakai kemeja batik coklat, ia membacakan pledoinya. Gayus ingin agar kejaksaan memanggil yang lain seperti dirinya. Ia ingin mantan Direktur Ekonomi Khusus Mabes Polri, Brigjen Edmon Ilyas, juga dijadikan tersangka. Katanya, “Gusti Allah ora sare..”

Ps:
Mate : teman atau kawan.

Sambil beristighfar dan geleng-geleng kepala saya baca lagi cerita mimpi ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s