dari nge-Blog, chatting, hingga godaan berkuasa

Seseorang protes dengan tulisan saya. Sebut sajalah namanya Mr. Care (sebab ia berwujud lelaki yang peduli). Beliau bilang, tulisan saya asik, polos, lugas dan punya ciri khas, tapi bukan saya. Kami -saya dan dia- yang ketika itu berkomunikasi lewat maya, larut dalam pembicaraan berbentuk tulisan, bukan suara.

“maksudnya, bukan saya bagaimana?” tanya saya dalam maya yang tak mengenal senja.

“saya pernah baca tulisan-tulisan kamu tentang politik. Kalau tak salah tentang Soekarno dan demokrasi. Analisis kamu bagus dan mantap. Maaf, pernah saya kutip tanpa izin lebih dulu. Saya rindu dengan tulisan kamu yang seperti itu”. Kata-katanya muncul dalam yahoo chat room saya.

Teringat saya dengan blog usang yang telah di hack orang. Iya memang, saya pernah menulis artikel-artikel politik sewaktu masih berstatus mahasiswa disana. Tapi blog itu sudah tidak bisa ditemukan lagi. Dan lebih malangnya, arsip-arsip dari artikel yang saya tulis tersebut, tersimpan di dalam disket, sekali lagi disket berbentuk bujur sangkar berukuran kira-kira 5×5 cm, bukan flashdisk. Pun tak sempat saya copy.

“kenapa kamu punya tulisan berubah haluan?” kembali pertanyaannya menghias yahoo chat room saya.

“hmm.. iya. Intensitas saya ke dunia politik mulai berkurang seiring dengan luka yang saya bawa hingga kini. Luka yang disebabkan oleh dunia politik itu sendiri”. Tanpa tanda seru, tapi saya tekan tombol enter cukup keras hingga merusak kuku jari telunjuk.

“ya, saya tahu. Meskipun begitu, kekecewaan pada politik tidak harus membuat tulisan berubah haluan”.

Belum sempat saya me reply, beliau sudah menulis lagi.

“oke, perbincangan kita harus singkat, nanti kita lanjut lagi. Kebetulan saya ada rapat hari ini. Tapi, akan saya tunggu tulisan kamu berikutnya tentang politik”.

Langsung saya balas “sekarang saya sudah jadi pengamat fashion, bukan politisi..!”.

Tak ada balasan, berarti beliau benar-benar pergi.

Membuat saya menghadapi dilema, alias peperangan batin antara beralih profesi menjadi pebisnis sejati atau menekuni dunia politik (kembali). Membuat saya ingin segera sekolah politik (lagi) Pasca Sarjana sekaligus sekolah Doktor nya. Membuat saya rindu berkuasa (lagi). Memacu gelora muda untuk tampil segera. Meskipun hidup di dunia politik tidak membuat saya kaya. Meskipun hidup di dunia politik memaksa saya memakai topeng agar bisa berwajah ganda. Meskipun hidup di dunia politik berarti saya harus (bahkan wajib) menanggalkan baju idealisme. Tapi, toh idealisme juga tak ada gunanya tanpa realisme bukan?

Dan kembali ke dunia politik, berarti saya harus siap dan berhadapan (lagi) dengan luka dan kecewa. Tapi, siapa yang peduli pada luka dan kecewa saya? Dua kata itu tidak berlaku dalam politik saudara-saudara. Taruhlah luka dan kecewa di dalam saku kemeja saja. Maka cukup betahlah berlama-lama di ranah politik. Oh, satu kata lagi yaitu, malu. Tak perlu memelihara malu. Santai saja. Ini politik.

Ahh, Saya masih di depan laptop. Termangu sendiri. Berpikir keras, sebenarnya mau kemana saya ini.

3 pemikiran pada “dari nge-Blog, chatting, hingga godaan berkuasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s