imajinasi episode I

Bahwa saya suka berkhayal *bahasa halusnya imajinasi* sebelum tidur, itu betul. Cukup selalu namun tidak kelewat sering. Karena, saya ini bukan tipikal wanita (kenapa saya sebut wanita, karena ketika saya tak sengaja melihat teman laki-laki tidur, mereka dengan mudahnya memejamkan mata kemudian tertidur. Jika pendapat saya salah, saya kira itu tidak masalah, sebab saya bukan pengamat, bukan pula malaikat) yang mudah tertidur begitu saja. Sedangkan saya butuh kira-kira 30 menit berkewan dengan khayal, barulah bisa lena. Sekalipun berton-ton pemberat sudah bertengger di kelopak mata.

Yang saya khayalkan sederhana saja, namun (saya pikir) tetap berguna buat saya.

Kali ini cerita khayalan saya tentang anak. Bukan anak tetangga, anak sodara, bukan anak sahabat, juga bukan anak siapa-siapa. Ini tentang anak saya (kelak). *^_^*

Terpikir, jika nanti saya punya anak *saya berharap perempuan, tapi jika Allah beri lelaki pun tak apa, yang penting sehat jiwa raga*, bagaimana saya akan mengontrol/mengawasi anak saya di tengah-tengah dunia nan fatamorgana, di lingkaran hawa hedonis dan kapitalis, dimana Tuhan hanya menjadi hiasan? Mampukah saya mengarahkannya bersujud pada kekasih saya, Allah Swt dengan ilmu ke-Islaman saya yang amat jauh dari sempurna? Sabarkah saya menghadapinya dengan saya yang cukup cerewet dan sedikit keras ini? Bagaimana cara saya mendidiknya kelak?

apakah akan jadi seperti ini? (perempuan islam nan perkasa)

ataukah akan seperti ini? (perempuan Islam namun ia selebritis)

semoga tidaklah menjadi seperti dua orang di bawah ini, ataupun sejenisnya maupun kawan-kawannya. *amit-amit.. na’udzubillah summa na’udzubillah..*

Teringat saya akan sebuah hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم :مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ. فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُشَرِّكَانِهِ.

“Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang musyrik.”

Jika dihitung-hitung, bulan depan usia saya 26, sudah seperempat abad. Kapan (lagi) saya menikah dan punya anak? Oke kalau menikah nanti segera punya anak, kalau tidak? Oke kalau punya anak (kelak) saya masih diberi kesehatan oleh Allah hingga bisa ‘tumbuh’ bersama anak saya.. Kalau tidak..?

Allah.. Sungguh mengerikan ketika membayangkan perkembangan dunia kedepan ketika saya berkaca pada dunia hari ini…

Sekian dulu imajinasi saya malam ini sahabat.

Wassalam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s