Antara buku dan Air Soft Gun

Saya rindu emak. Rindu yang menggebu-gebu. Jika sudah begitu, potretnya saja saya pandang-pandang. Ingin mencium dan memeluk, sangat tidak mungkin sebab emak saya sudah pergi, dipanggil Allah 11 tahun lalu. *beruntunglah bagi tamu-tamu saya yang masih punya emak*.

emak

Ketika berbicara tentang emak, hati saya selalu pilu. Bukan berarti saya tidak ikhlas dengan kepergiannya. Hanya saja, sedih masih terasa, pedih bermain-main dalam dada hingga ke perut bermuara. Tapi saya benar-benar rindu. Emak saya itu paling baik sedunia. Tak pernah marah apalagi memukul. Kalau sudah letih menghadapi tingkah polah ke 7 anak-anaknya, emak tersenyum dan geleng-geleng kepala. Itu pertanda bahwa ia sudah marah. Hanya begitu saja. Jauh berbeda dengan ayah saya yang seram, garang, kasar, tapi amboii.. amat baik hatinya.

Emaklah yang mengajarkan saya mengenal tulis baca kali pertama. Emaklah yang mengenalkan saya dengan buku dan diary. Emaklah yang menyemangati saya untuk selalu menulis. Jadi saya ini, tahu menulis dan membaca sudah sejak usia ke 5. Mantap kan emak saya. *iya dunk..!* Emak pula yang mengajarkan saya mengenal Allah, Nabi-nabi, Rasul dan tentang Islam. *emak saya sekolah pendidikan agama dan juga guru Agama. Terimakasih, Mak..*.

Sewaktu ulang tahun, hadiah emak saya tuh gak jauh-jauh dari buku bacaan dan diary. Tapi bukan berarti saya sering menulis dan membaca. Saya lebih suka main tembak-tembakan *bahasa gaulnya Air Soft Gun atau pistol-pitolan ya*, hadiah dari Ayah.
Oya, kalau ayah saya, beliau selalu mengenalkan kami dengan detektiv-detektivan seperti Mac Giver, James Bond, atau CowBoy nya Sean Connery, atau juga Kung Fu nya Bruce Lee, Michelle Yeoh, Chang pei pei *entah sapa lagi, saya lupa saking bayaknya*, atau juga tentang politiknya Soekarno, John F. Kennedy, Fidel Castro, Ben Gurion *tentang politik, juga lebih banyak lagi*. Intinya, ayah selalu mengajarkan kami tentang politik terutama perang. Makanya setiap ulang tahun, saya, abang dan adik-adik saya, selalu dapat hadiah pistol, pisau, serta peralatan Rambo. *tau film Rambonya Silvester Stallone kan?*.

Mungkin ayah lupa kalau ke tujuh anaknya itu, hanya ada dua lelaki dan selebihnya perempuan. Maka, jadilah kami perempuan bersenjata yang garang, gahar, dan jago berkelahi *sebenarnya lebih tepat dikatakan preman*. Terimakasih Ayah.. Anakmu ini jadi galak, garang, suka gertak, hobi berkelahi dan bersuara besar.

ayah

Eh, saya disini sebenarnya mau menceritakan bahwa saya rindu emak. ^_^. Whatever, saya rindu keduanya. saya rindu si pemberi buku dan Air Soft Gun. saya rindu emak, juga rindu ayah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s