Saya siap, insyaAllah..!

Iya! Benar! Dulu, saya ogah menikah. Saya risih ketika mendengar kata menikah. Padahal orang yang menikah, saya kok marah-marah. Aneh juga saya kala itu.

Dulu, ketika ada lelaki yang menanyakan tentang nikah, langsung saya keluarkan cibiran “kerja dulu, punya modal dulu, siap dulu, belajar dulu”. intinya, saya tolak mereka..!

Dulu, ketika ada undangan pernikahan, saya orang pertama yang lenyap dari peredaran. Tak betah.

Dulu, ketika orangtua saya menyinggung tentang nikah, saya ngeloyor pergi, rasanya kesal sekali.

Saya takut. Takut kalau tidak bisa aktif sana-sini atau kehilangan eksistensi ketika sudah menikah, takut berlebih body ketika akan punya anak, takut kehilangan fans (hahaaa,,…), takut kalau gak bisa sekolah (lagi), takut susah, takut miskin, takut jelek dan tua karena masalah rumah tangga, dan terakhir (ini yang benar-benar saya takutkan, sumpah dehh..), saya takut jika menikah nanti, suami saya selingkuh alias mencari wanita lain lagi (selain saya).

Mungkin ini disebut paranoid ya. Karena banyak permasalahan keluarga terjadi di depan saya.Seperti suami-istri yang memutuskan berpisah atau cerai begitu saja. Atau memilih poligami. Bahkan juga menjalin hubungan perselingkuhan dengan alasan yang sungguh tidak bisa saya benarkan dan terima. Semua permasalahan itu terjadi di hadapan saya, di telinga saya, juga di mata saya. Jujur saja, saya perempuan pencemburu. Cemburu jika suami saya (nantinya) terlalu dekat dengan wanita lain, jika ia berinteraksi (terlalu sering) dengan perempuan lain, dan pokoknya, jangan terlalu dekat-dekat wanita lah. *saya kok bisa berkomentar begini..?* karena sudah saya bayang-bayangkan betapa horornya.

Jadi, saya ini dulu, menganggap bahwa nikah itu membawa masalah, tidak begitu penting, dan bisa dilaksanakan di penghujung usia. Saya ini dulu, seorang wanita manis yang tendensius mendengar kata ‘pernikahan’.

Tapi, seiring berjalannya waktu, bertambahnya wawasan dan pemikiran, kini, saya adalah seorang perempuan sangat manis, yang malu-malu (tapi mau) menguping disaat mereka bercerita tentang indahnya menyegerakan (menghalalkan) kenikmatan. Duduk bersila sembari melipat tangan serius menyimak ketika mereka bercakap-cakap begitu serunya menjadi emak-emak.

Saya rasa, saya pikir, saya yakin, saya lah perempuan yang dulunya alergi dengan pernikahan, kini, saat ini, suka dengan kalimat sahdu itu. teringat pula saya dengan pernyataan sodara saya, ”cantik dan manisnya perempuan itu ketika sudah menikah. jadi, kalau belum nikah, jangan ngaku-ngaku cantik deh” sebutnya kala kami duduk bercerita di anak tangga ketiga.

Jadi, bagaimana dengan segala paranoid saya itu? saya redam-redam saja dulu, kemudian biarkan berlalu. Sebab saya amat sangat percaya pada Allah, dengan cinta dan sayangNya, akan memberi sebaik-baik rezeki pada hambaNya. Amin..

Ini cerita saya, saya tuliskan apa yang ada di dalam hati dan pikiran saya: saya siap menikah, InsyaAllah..! ^_^

3 pemikiran pada “Saya siap, insyaAllah..!

  1. assalamualaikum, sobat… senang sekali membaca posting ini. Menikah, adalah sesuatu yang selalu saya sarankan pada teman-taman yang sedang kasmaran.”Segerakanlah… akan genap agamamu karena itu, saudaraku…”bujuk saya. Dan biasanya jawabannya persis seperti penggal atas postingan sobat: ..KERJA DULU, CARI DUIT..Sesungguhnya sering kali kita “berpikir” sendiri tanpa melibatkan elemen penting dari porsi pengambilan keputusan dalam hidup kita “Sang Pencipta”. Ketika panggilan usia datang, kita menetapkan berbagai macam parameter untuk menyelesaikan masalah tersebut tapi lupa berkonsultasi pada aturan2 Sang Pencipta. Jadilah kita terjebak pada kesimpulan sempit khas manusia… sayang sekali. Sesungguhnya pengalaman hidup memang membuat kita menyimpulkan seperti yg sobat tuliskan di bagian awal. Tapi itu tidak cukup untuk membuat kesimpulan akhir bagi institusi pernikahan. Maka jika hari ini sobat menyatakan “SIAP”, mungkin sobat juga perlu telaah kembali kesiapan itu. Kesiapan macam apa? Adakah kesiapan itu didasari akan pengertian terhadap misi sebuah pernikahan atau sekadar kesadaran psikologis akibat usia? saran saya, banyaklah berkontemplasi utnuk benar-benar menyimpulkan kesiapan sobat. Syukur kalau belum ada calon, artinya kesiapan itu bisa dibuat berdasarkan pengertian yg tepat. Sobat, menikah adalah tugas, misi hidup, sekaligus perintah sehingga berbentuk kewajiban. Semoga sobat mendapatka laki-laki yg tidak sekedar sayang dan tidak selingkuh tapi seorang laki2 yg membawa sobat bahagia dunia dan akhirat semoga… dan itu bermula dari diri sobat sendiri…! Doa saya bagi kebahagiaan sobat, insyaallah amiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s