lelaki itu

Di tengah riuh kegembiraan, kudengar isak perlahan. Suara tangis perempuan persis di kamar seberang. Tak pernah terpikir bahwa sosok wanita (yang kukenal amat tegar) seperti dia, bisa menangis juga. Yahh memang, airmata milik manusia, siapapun dan berasal dari kasta (Indonesia masih mengenal ‘kasta’ kan) manapun ia. Wanita sekeras baja, yang aku kenal kali pertama di organisasi yang sama, menangis sayup, namun amat memilukan. Ikut aku merasakan isak tangis pedih nan tak tertanggungkan. Airmata tumpah, benteng ketegarannya roboh sekejap saja.

Kau tahu? Batu padas, cadas, nan keras itupun bisa aus jika tersiram air terus menerus. Apalagi seorang wanita yang lembut hati dan jiwa (sekalipun kelihatan ia sekeras baja), pun bisa mengalaminya. Lemah tak berdaya.

“kak…?” panggilku dari balik pintu setengah tak percaya dan masih berharap jika itu bukan dia. Karena tak ada jawaban, aku masuk dan jelas-jelas melihatnya tertunduk, menangis.
“ada masalah?” pertanyaan yang memang tidak meminta jawaban, hanya ingin berempati saja agar ia tak luka sendirian.

Lama, namun akhirnya ia bicara juga meski dengan suara terbata-bata. Kawan, sungguh, aku melihat luka yang benar-benar luka, bahkan di atas luka. “mantan suami kakak besok nikah lagi. Tadi baru dapat kabar via telpon. Soal pernikahan itu, kakak tak begitu ambil pusing, tapi, anak kakak dek.. Aci kan baru 2 tahun. Kakak takut mantan suami kakak gak mau tanggungjawab lagi sama anaknya”.

Lemas persendian lutut ku mendengarnya, ternyata, sungguh perih tak terkira ia punya cerita. Aku tergugup bersama angin yang masuk lewat jendela, sayup.. Hendak menganga dan angkat bicara pun tak sanggup.

Akhirnya, ku berani-beranikan bersuara meski aku haqqul yakin bahwa pernyataanku tak kan membantu mengurangi sedihnya. Dan tak termasuk dalam kategori nasehat pula. “kak, sabar ya. Kakak gak sendiri. Harus tetap semangat..”

Kupikir, sah-sah saja jika menangis. Karena ia manusia, bukan patung lilin. Tapi aku senang akan ketegaran. Karena dari situ aku bisa merasakan pancarannya juga, meski tak selalu, sebab kita jarang bersama. Tapi boleh jadi, jika aku di posisinya, akan menangis lebih parah lagi. Entahlah, aku tak pernah membayangkan kisahnya akan terjadi pada kisahku nantinya.

(Singkat saja cerita ini, karena aku belum ada izin menuliskannya. Cerita yang kutulis pelan-pelan dalam diam).

Teruntuk seseorang yang sudah kuanggap kakak. Aku tuliskan cerita ini, sekelumit kisah yang (mungkin saat ini) tidak indah, tapi akan berganti cerita baru yang (semoga saja) akan bahagia. (amin). Tentang lelaki itu, yang meninggalkan parut di dada, pergi membawa kelemahannya.

2 pemikiran pada “lelaki itu

  1. kok jadi berputar ke moment itu yach, gara – gara baca tulisan dinna nie…
    makasih y dek…🙂

    keep writing!
    (even its not about me again… hehehehe)

  2. heheee.. gak tau kenapa bisa teringat ke moment itu, kala kita sedang tertawa bersama, di ketika itu pula datang berita tentang dia, tentang lelaki itu.

    salam kangen buat mu kak. keep fighting..!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s