akulah Tuhan itu


Suatu dingin yang menyiksa. Melumpuhkan seluruh persendian, menelan nyali keberanian, memaksa bersedekap erat dalam lipatan tangan. Dalam lorong gelap, pemuda itu memberikan bukunya padaku “ambillah, kau boleh membacanya”. Aku bergidik, takut, namun kuambil juga buku usang yang ditulis dalam bahasa sansekerta itu. Rupanya ia melihat reaksiku tadi, meskipun berusaha kusamarkan. “atau sekedar melihat-lihat sampulnya saja. Mungkin, kau akan lebih tertarik setelah itu”, ucapnya.

“kenapa kau memberikan buku ini padaku?”

“agar kau lebih banyak tahu ragam kisah dan pemikiranku”. Alis kanannya terangkat disertai senyum tipis, sama sekali tak ada kesan manis.

“kenapa pula kau menulis cerita ini..??” tanyaku setengah memaksa. Menurutku, wajah pemuda ini cukup angker. Dengan taring runcing di sebelah kiri saja, seperti menyeringai ia. Jambang tipis menghiasi pipinya yang putih kemerahan. Rambut panjang sebahu, begitu berantakan.

Ia mendekat. Kurasakan nafasnya menghantar hawa dingin, menampar wajahku,
“Jika ada Tuhan lain dibelakangNya, maka akulah Tuhan itu. Tuhan dalam pikiranku, Tuhan dalam tulisanku sendiri”.
Ia pergi meninggalkan aku yang termangu, bertanya-tanya dalam hati.

Sayup-sayup kudengar adzan subuh memanggil, lantang tapi merdu. Menyentakku dari tidur panjang dan dingin yang memilukan.

“mimpi yang aneh..!” umpatku seraya bangkit dan berlalu.

(kisah tadi pagi, dalam suatu dingin yang menyiksa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s