langit hitam

“Langit tak lagi hitam, kak” ucapmu dengan suara ditekan supaya meyamarkan kesedihan.

“lantas?”

“Hmm…”

“apa sekarang kau menyukai langit biru marine, lazuardi, aqua, tosqha, atau biru tua?” aku tanyakan dengan menyebutkan biru-biru pilihan.

“apa saja, selain hitam..!” sambarmu cepat.

Jawaban tidak jujurmu memaksaku tersenyum. Geli rasanya ketika kau mendapati seseorang membohongi dirinya sendiri, akan tetapi disaat yang sama kau bisa melihat efek tidak jujur itu di wajahnya. “Tapi hitam itu bagus menurutku” mulailah aku menggodamu. “Warnanya netral. Kau bisa memadu-madankan warna apa saja padanya. Bahkan ketika langit mulai gelap, menghitam, kau akan jelas melihat bentuk bintang, menatap rupa bulan, dan memandang-mandangi semburan kilaunya. Pasti,

“pokoknya aku tidak suka langit hitam, baik disaat mendung tiba ataupun disaat malam menjelma..!! titik..!”.

Berang, kau memangkas ucapanku yang belum selesai. Padahal dulu kau begitu memuja langit hitam. Tak pernah kau lewatkan pesonanya. Sekarang, warna langit berubah. Memudar atau boleh juga kusebut luntur. Kau memaksa langit selalu biru, abu-abu, ataupun kuning, yang penting asal tidak hitam. Kau benci setiap malam tiba. Kau kunci pintu rapat-rapat, kau tutup jendela, kau tambal celah yang sedikit menganga, agar langit hitam tak tampak oleh mata.

Tak heran aku dengan perangaimu itu. Sebab, begitulah jika yang dicinta tak membalas cinta. Apa yang tadinya dipandang indah, menjadi memuakkan, buruk bukan buatan. Memang, cinta dapat merubah segala. Bahkan kudengar-dengar, karena cinta, ada yang sampai pindah agama. Apalah kawin lari, sudah cerita biasa. Ini, pindah agama kawan. Namun, ada pula sampai bunuh diri. Tak terbayangkan olehku. Aihh.., pengaruh cinta ternyata mengerikan.

Aku tahu, kau masih kecewa bahkan hingga detik aku menulis cerita ini. Menurutku, sejak kau mengenal rasa cinta, orang itulah hinggap di hatimu kali pertama. Dan selama ini pula, satu sosok itu saja yang mengisi harimu. Pastilah cukup sulit untuk melupakan. Masih terasa perih nan tak tertanggungkan itu, menggeletar sepanjang waktu.
Ketika kutanyakan apa sudah pernah menjalin hubungan, jawabmu, satu rasa pun belum terwujudkan. “tapi aku selalu rindu dia” ucapmu pelan. “si lelaki itu juga sudah tahu perasaanku meski belum ku ungkapkan” belamu sengit.

Entah masalah apa ini disebut, aku pun tak mengerti. Awalnya kau hanya kagum dengan lelaki bergelar langit hitam itu. Lelaki berprofesi sebagai dosen honor di kampusmu. Ia cerdas, cool, dan sederhana. Katamu lagi, langit hitam itu mempesona. Kemudian, kekaguman menjelma menjadi keinginan berkepanjangan. Hingga suatu ketika lelaki itu pergi sekolah ke luar negeri, kau masih menaruh hati. Tak pernah lelah merindu, berharap bisa bersatu. Pernah kau merasa sakit dan menangis, pernah juga kau merasa bahagia. Namun terkadang kau terdiam, kemudian tersenyum sendirian. Sungguh, telah ku pikir-pikirkan masalah ini, tapi tak kutemukan jawaban penyakit apa yang sedang bersarang di tubuhmu. Marah, menangis, bahagia, untuk alasan yang kau sendiri pun sebenarnya tak mengerti. Apalagi aku, yang hanya mendengar keluh kesah mu saja.

“Langit, baik hitam atau biru, sama saja indahnya. Tergantung caramu menikmatinya. Jika dulu kau menikmati hitam, sekarang setelah kau kecewa, teruslah mengikuti irama warnanya. Jangan kau paksa langit selalu biru karena kau tak lagi menyukai hitamnya. Itu sama saja kau meminta agar cepat kiamat. Aku tak setuju. Sebab aku masih punya banyak rencana sebelum Isrofil meniup sangkakala sebagai pertanda kiamat di depan mata. Salah satunya, menikah. Sebab aku tak sanggup jika sendirian, menjadi seperti Rabiatul Adawiyah. Kau tentu paham maksudku, oh tidak, kalimatnya adalah kau harus paham maksudku..!”

“Tak perlu kau padam-padamkan rindu itu!” jawabku ketika melihat kau akan membuka mulut untuk beretorika tanpa konsideran melawan bicaraku. “kau pasti mampu. Hanya saja, kau terlalu sentimentil menghadapi masalah hidup. Kalau terus seperti ini, hidup akan menabrakmu. Tapi kau bisa memilih, berhenti disini atau melangkah kembali”

langit hitam

Kau tersenyum getir. Aku tahu, kau masih belum bisa untuk tidak mengingatnya. Sebab langit hanya berwarna hitam buatmu. Dan pemikiran itu membekas lama sekalipun kita pernah bertengkar gara-gara pengamatan yang kuungkapkan padamu, bahwa ketika hujan turun menghujam, tak selamanya langit harus hitam.

Tak apa. Semua akan baik-baik saja. Aku yakin, kelak, kau akan mulai menyukai langit biru. Atau, ku rekomendasikan kau agar bermain dengan langit senja, kau akan melihat semburat merah bercampur keemasan, begitu melenakan. Kupikir, lebih garang dari langit hitam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s