Selamat hari ibu juga hari ayah sekalian

sudah 11 tahun ditinggal ibuku, tak pernah lagi ia dengar kata rindu. Itu sebab ketika aku mengucapkan kata itu melalui telepon, ia malah menjawab dari seberang sana, “ini nana atau bukan?”. Ayahku itu, hilang sudah rasa romantisnya. Walaupun aku tahu ia seorang penyayang, tapi tak pernah lagi ia tunjukkan rasa itu terang-terang.

Masih ku ingat saat dimana aku menunaikan tugas belajar sebagai mahasiswa yang lulus jatah Pemandu Minat dan Prestasi (PMP) di Universitas negeri, aku berangkat menumpang kereta api dari Tanjungbalai tujuan Medan. Kereta melaju perlahan, ia sa’i, mengantarku hingga berakhir sepenglihatan mata. Berikut nasehat-nasehat pun sempat ia teriakkan di tengah keramaian orang di stasiun kereta yang memang pada saat itu, sangat padat karena masuk awal tahun ajaran baru. “jangan lupa sholat, Nak..! Rajin belajar..! Berjuanglah disana..! Jangan patah semangat..!”.

Cukup udik kelihatannya, karena disitu, hanya aku saja yang begitu. Lagipula, naik kereta api dari Tanjungbalai menuju Medan, hanya memakan waktu perjalanan 5 jam saja. Penumpang tersenyum simpul, pengamen bersiul, pengemis terdiam, masinis tersipu, satpam membeku dan aku, mataku panas, memerah. Aku tahu, sedetik itu pula aku akan menangis, bahkan tanpa sadar air mataku tumpah. Dan ayahku itu, Ia melambaikan tangannya. Masih kulihat ia tersenyum, meski samar. Tak peduli dengan tatapan aneh bercampur takjub orang-orang pengunjungayahku stasiun. Sosok itu mengecil, kemudian menghilang seiring lajunya kereta.

Betapa aku sayang pada orang itu. Betapa aku selalu ingin membuatnya tersenyum bahagia. Sekalipun tak jarang pula aku berselisih paham pemikiran dengannya. Akan tetapi, semakin pula inginku untuk mengejar impian dan cita-cita bersamanya. Betapa aku ingin pula membuatnya merasa hebat dan sedikit membusung dada, mengabarkan bahwa aku, putrinya, berhasil meninju congkak dunia. Entah hukum ilmiah apa ini disebut. Atau ini adalah gaya pegas, semakin di tekan, semakin menonjok ke depan. Ini hanya tafsiranku saja.

Tapi aku, putri ayahku, akan ku tunjukkan padanya bahwa aku akan membuatnya bangga dengan prestasiku kelak. Hingga senyum kebanggaan itu tak pernah padam.

Selamat hari ibu juga hari ayah sekalian. Bukan hari ini saja, tapi setiap detiknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s