ternyata memang keren

lapangan bola senayan, jkt.Hidup saya ini keren dengan berbagai keunikan di dalamnya. Sebenarnya, saya selalu mendefenisikan keunikan hidup saya ini dengan kata: great, sweet, atau cool. Agar nampak hebat agaknya. Yang penting, tujuannya sampai, yaitu: menunjukkan bahwa saya sosok gadis normal, luar biasa, dan menakjubkan. Begitu pikir saya kala itu. Namun, penyebutan ternyata penting pada akhirnya. Bak nampak benar-benar menakjubkan, tentu saja. Lagipula, penyebutan untuk pendefenisian diri itu sugesti. Jadi, harus menggunakan kata yang benar dan tepat. Saya pikir juga, tak ada salahnya jika saya menggunakan kata keren, agar nampak meng-Indonesia. Sebab, jadi Indonesia itu juga keren walau dengan segala permasalahan dari skala kecil, menengah, hingga yang benar-benar komplit ada padanya.

Nah, suatu hari, saya (tidak sengaja) menemukan dan menyapa salah seorang rekan maya (facebook), namanya Binhad Nurrohmat. Dari beliau inilah saya temukan kata keren tadi. Meski bukan beliau mencipta kata itu, tapi, beliau kerap memakai kata keren dalam berbagai status dan tulisannya yang pada kenyataannya benar-benar keren. (dalam kasus ini, saya tidak perlu bayar royalti ^_^).

Bagi saya, untuk terlihat keren tidak harus repot-repot, mewah dan menghabiskan biaya. Seperti ketika ada masalah memancing amarah, saya berusaha sabar, santai dan senyum (meski aneh kelihatannya), itu adalah keren. Ketika godaan pesta pora, alkoholic, dan hedonis melanda, saya tetap berdiri pada prinsip hidup seperti yang di ajarkan ayah (meski saat itu saya di sebut kampungan dan ketinggalan zaman), itu adalah keren. Ketika saya hanya berjalan kaki, berpakaian biasa serta tidak mahal, hidup sebagai rakyat Indonesia sejati (pejuang, optimis, gigih) dengan mengandalkan segala skill dan kemampuan berjuang untuk tidak melarat agar menjadi hebat (meski saat itu di sekitar saya rame manusia ber-mobil lux, berpakaian impor nan mahal pula), saya tetap merasa keren. Ketika banyak orang bisa dengan mudahnya sekolah tanpa memikirkan biaya, sedangkan saya harus jatuh-bangun mencari beasiswa, saya masih tetap saja keren. Ketika makhluk di dunia saya kongkow-kongkow, berpelesir tanpa khawatir bangkrut, sedangkan saya hanya bisa berpelesir jika ada kegiatan organisasi, atau undangan seminar sebagai pemateri, atau juga ongkos gratis dari teman yang baik hati, saya masih saja merasa keren.

Saya akui, saya memang keren..

Selanjutnya, ketika di usia 15 tahun saya sudah ke Mekkah untuk melaksanakan rukun Islam ke 5, sedangkan banyak rakyat di negeri saya menunggu berhaji bahkan saking lamanya, meninggal dunia pula, saya merasa semakin keren. Ketika usia 23 tahun, saya sudah telah pernah menduduki kekuasaan tinggi pada partai politik bergengsi untuk bagian Provinsi Sumatera Utara, sedangkan gadis-gadis seusia saya masih berkutat dengan dunia cinta, shoping, serta menghabiskan waktu untuk menggosip ria, saya dengan pastinya merasa semakin keren. Begitu pula ketika saya mengikuti pemilihan calon Legislatif untuk tingkat Provinsi Sumut pada daerah pemilihan IV (meski tidak lulus), berkampanye dan bersosialisasi kesana kemari, sedangkan perempuan seumuran saya berlenggak-lenggok di catwalk atau berwara-wiri di depan kamera untuk di foto, wow, lagi-lagi merasa keren amat saya. Ketika saya sukses melaksanakan sholat 5 waktu + dhuha + tahajjud, sedangkan rekan-rekan di luar sana dhuha dan tahajjudnya lewat, saya semakin bertambah keren. Ketika masalah silih berganti datang dan pergi, saya berusaha keras agar bahagia, dan berhasil dengan manis melaluinya, yeah.., saya tetap keren. Ketika saya di fitnah dengan berita menjijikkan dan mengiris hati, saya tetap tegar berdiri, maka saya masih juga merasa keren.

Sekali lagi saya akui, keren sekali saya ini..

Banyak lagi ke-keren-an yang segan saya utarakan, dan terlalu banyak pula lembar untuk di tuliskan. Tapi ada kalanya ke-keren-an saya menurun ketika melakukan kesalahan karena ke-tidak sengajaan yang hampir selalu saya lakukan. Seperti marah, tidak sabar, sok manis, sok pintar, egois, arogant, malas, menunda-nunda kerja terlebih lagi berleha-leha ketika waktu sholat tiba. Dan pernah pula, karena ke-keren-an yang berlebihan tersebut menyebabkan saya terlihat norak, memalukan, dan separuh oon.

Kemudian, ketika seharian saya tak berhenti menulis hingga lupa makan, itu namanya bukan keren. Tapi norak ^_^.

Ketika saya berdandan hingga bertambah manis 20% diikuti mengangkat kepala serta dagu setinggi 5 centi, itu di sebut narsis bin arogant. Bukan keren.

Pernah pula saya sibuk ber-BBM sendiri sedangkan teman-teman saya asik bercerita. Sikap cuek dan tidak peduli seperti ini disebut autis, bukan keren.

Tapi saya juga menyadari, banyak yang lebih keren dari saya, keren dengan gaya dan pemikirannya sendiri. Ragam cara untuk menjadi keren dan lebih keren. Usah pusing memikirkannya, nanti sodara-sodara bisa mati gaya, dan boleh jadi bisa mati selamanya. Pun, tak perlu juga ikut-ikutan keren yang berhujung pada norak dan memalukan. Yang jelas, banyak-banyaklah bersukur pada Sang Pencipta. Sebab, untuk terlihat keren itu saratnya musti pandai bersukur. Bersukur dengan hidup dan keadaan. Tak lupa juga terus mengasah kemampuan dan memperbaiki diri.

Last but not last, tetap saja dan tak lupa mengucap terimakasih yang sebesar-besarnya pada Allah Subhanahu wata’ala atas segala berkah dan karunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s