Sepenggal cerita pada satu senja di Little India

Litle India, Singapura
“Hidup tak harus berhenti karena kegagalan masa lalu. Begitu juga dengan cinta, tak harus ikut mati jika cinta itu tak lagi di dalam hati. Dan aku, selalu berhasil dengan manis melaluinya.” Ujarku pada Helena Mirza, sahabat Pakistani yang cukup sering kutemui. Kami bercengkrama di seputaran Litle India, kawasan kegemaran Aku dan Helena. Masih sama seperti Litle India sewaktu aku kunjungi setahun lalu. Warna-warna yang begitu vibrant di sepanjang jalan baik dari warna-warna cat gedung pertokoan, kain sari bergelantungan, aneka assesoris gelang-gelang cantik India nan begitu manis, eksotis dan menyala, sampai jejeran warna-warna bumbu dan rempah berbagai bentuk dan rupa membuat mata tak hendak berkedip sekejap saja. belum lagi musik dari oroginal soundtrack film-film Bollywood dari klasik, melankolik, hingga energik, hampir selalu berkumandang di sepanjang jalan.

“apa kau tidak merasa kecewa atau tidak merasa ada sesuatu yang hilang?” tanyamu sambil memandang hampa ke kerumunan orang yang sedang belanja di toko perhiasan. Sebelum menjawab, ku seruput kopi tarik setelah lebih dulu menghirup dalam aromanya.

“tentu saja ada. Malah sakit dan terluka. Tapi, apa aku harus hidup selamanya dengan sakit dan luka? Apa harus menetap dan berkawan dengan masa lalu? Setiap yang kita miliki, hakikatnya akan pergi. Tak peduli bagaimana caranya, apakah menyisakan perih atau bahagia. Kau percaya?” Tanyaku sedikit memaksamu menggunakan pikiran agar memahami maksud kata-kataku. Karena kulihat, sejak masalah cinta itu menghinggapimu dua tahun lalu, tak pernah sedikitpun kau berikan pikiranmu rileks melihat apalagi merencanakan masa depan.

“iya” jawabmu singkat.

“Helena..” kutatap lekat bola mata indah itu. Berwana coklat, menunjukkan iris dengan banyak kandungan melanin. Sayang jika dihiasi duka terlalu lama. “yang lalu, biarlah berlalu. yang telah pergi, biarkan ia pergi. Naif rasanya jika kau memilih jalan untuk sendiri karena patah hati. Sampai kapan? Sudah dua tahun, sejak peristiwa dimana si bodoh itu meninggalkanmu saat pesta pernikahan akan diadakan tiga hari lagi, kau masih saja berteman sepi. Ini namanya menyiksa diri Hel.. Kau tahu, kita akan segera menua. Apa kau ingin terus sendiri? Apa kau betah dengan sepi? Apa kau tidak ingin punya keluarga? Apa hatimu tidak merasa terpanggil ketika melihat anak kecil? Hanya gara-gara si bodoh itu kau jadikan hidupmu tumbal kesedihan, korban putus asa”.

Kau balas dengan senyuman getir. Itu malah membuatku khawatir. Sebenarnya aku turut sedih. Ingin menangis mendengar kisahmu. Tapi aku harus menguatkan diri agar tak membuatmu menangis lagi. Setidaknya untuk hari ini. Karena aku tahu, kau selalu menangis diam-diam, baik di dalam hati maupun di luar hati.

“sulit juga. Karena waktu itu, undangan sudah di sebar. Aku malu”. Ucapmu sambil menekuri jari-jari kaki. Entah untuk apa. Mungkin, ini caramu agar tak memperlihatkan airmata.

“melupakan memang sulit Hel. Tidak semudah mengucapkan. Tapi, hidup ini pilihan. Kau harus memilih, menjadikannya sulit atau mudah. Ubahlah hal sulit agar ia indah. Harus kau mulai sekarang. Ini soal hidup Hel. Jangan main-main. Jangan buat Tuhan marah dengan caramu menyia-nyiakan hidup. Padahal Ia menganugerahimu banyak keistimewaan.

Kau menatapku. Lama, tapi aku suka. Karena ada semangat terlintas di sana. Aku tak salah. Itu adalah semangat dari seorang Helena yang pernah aku temui sewaktu kita bercengkrama kali pertama.
“Hel, kau harus bangkit. Sambutlah hari ini, gunakan ia untuk merancang esok hari. Hidup itu singkat, buat ia lebih berarti. Hidup hanya sementara, untuk apa menangis jika kau bisa bahagia”.
Kembali kau tersenyum. Tapi kali ini tidak lagi getir. Hangat, sehangat merahnya senja di Litle India, Singapura.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s