Selamat Jadi Guru

guru
Adikku Awi selalu bercerita tentang pelajaran sekolahnya. Kemarin lalu ia diminta guru sekolahnya mencari 50 jenis akar-akaran. Oya, perlu kujelaskan lebih dulu, Awi berumur 6 tahun, dan sekarang duduk di kelas 1 SD plat merah di kota ku. Ketika kutanyakan apa yang dimaksud dengan akar, begini jawabnya: “akar adalah jenis tumbuhan yang berada dalam tanah”. Karena marah bercampur heran mendengar jawabannya, kutanyakan lagi, “apa guru sekolah tidak menjelaskan pengertian akar?” Lantas ia menjawab: “pokoknya kata ibuk guru, tumbuhan itu hidup karena akar. Akar itu ada dalam tanah. Jadi, cari akar apa aja yang tumbuh dalam tanah, sampe 50”.
Masih heran, tapi tetap kucarikan berbagai jenis akar yang ia maksudkan. Dari akar rumput hingga akar pohon jati. Plus nama-nama akar tersebut ditulis pada kertas kecil kemudian di ikatkan ke akar.

Besok lain lagi kasusnya. Awi menunjukkan lembar kegiatan siswa (LKS), berisi soal-soal dengan minim penjelasan. Musti di jawab. Ketika kutanyakan apakah sudah di jelaskan di sekolah, Awi menjawab itu pekerjaan rumah alias pe-er, untuk di kerjakan di rumah. Sudah tahu lah aku maksudnya, karena itu pekerjaan rumah, maka harus dijelaskan oleh orang rumah.

Mungkin, gaya mengajar guru di kotaku berbeda dengan gaya mengajar guru di kota-kota lain. Tapi yang pasti, Guru, sangat berperan penting dalam meningkatkan mutu pendidikan dan kreatifitas siswa. Guru harus kreatif untuk mengembangkan pengetahuan dan pribadinya. Guru yang tidak punya motivasi, yang hanya asal datang dan mengajar lalu pulang, tanpa mau berpikir tentang siswa, kiranya akan menghambat proses pendidikan manusia yang lebih utuh. Apalagi, guru yang tidak memberikan teladan dalam kehidupan, maka semua itu akan merusak proses pendidikan yang ada. Memang, mencari guru yang cerdas dan berdedikasi tinggi untuk membantu siswa tidaklah mudah, terlebih dalam situasi dimana profesi guru yang kurang dihargai secara finansial. Sehingga tenaga pendidik (baik disengaja maupun tidak) melupakan visi utama sebagai pengajar.

Pendidikan sekolah sampai sekarang ini masih terlalu menekankan segi pengetahuan, terlebih masih banyak yang menekankan pencapaian nilai UAN, UAS yang tinggi (dan entah jenis ujian apalagi yang terus berganti nama seiring bergantinya ‘pemimpin’ negeri ini). Padahal tujuan akhir pendidikan adalah pemanusiaan manusia muda.

Dewasa ini sekolah tidak menjamin kecerdasan berpikir, akhlak yang baik (undeviant), kepedulian sosial, serta keberanian menyatakan pendapat dimana nanti akan berimbas pada kepercayaan diri. Aku pikir, mendapatkan pendidikan yang menyangkut seluruh aspek kemanusiaan seperti segi pengetahuan, sosial, moral, religius, emosi dan juga hati adalah barang langka. Memperoleh pendidikan yang mencakup IQ, EQ dan SQ adalah barang mahal ataw lux yang hanya didapatkan oleh orang-orang lux pula.

Pertanyaannya, apa mungkin anekdot ‘logika tanpa logistik, gak akan jalan’, menjadi pemicu utama untuk ‘setengah-setengah’ dalam dunia pendidikan? Maksudnya di sini, kalau tidak di gaji maka tidak akan mengajar; kalau gajinya kecil, maka mengajarnya boleh ‘suka-suka’; kalau gajinya tidak naik-naik, maka jadi guru boleh ‘mogok’ mendidik. Atau lebih parahnya lagi, berprofesi sebagai guru karena sudah tidak ada pekerjaan lain untuk dan bisa didapatkan (baca: sebagai alternatif terakhir atau pekerjaan hina yang dilakukan atas dasar ‘mau tak mau’). Jadi guru atau tenaga pendidik, karena pekerjaannya paling ‘gampang’; cakap-cakap, ngasi pe-er, dan selanjutnya selesai. Habis perkara. Miris memang. Sebab metode mengajar semakin memprihatinkan. Sebagian guru tak memandang penting arti pendidikan.

Apa boleh buat, guru juga perlu ‘materiil’ untuk menghidupi diri dan keluarganya. Berusaha seirit mungkin mengeluarkan uang. Belum lagi uang kontrakan rumah dan segala uang bulanan lainnya. Memikirkan kemapanan ekonomi yang entah kapan bisa didapat. Mungkin hanya mimpi. Utopis. Lihat saja, gaji kecil masih diperkecil dengan pajak penghasilan. Terkadang, membeli buku untuk ‘mencharge’ otak saja ‘berat’. Banyak pertimbangan. Melihat harga buku lebih mahal dari harga sembako, jadi, baiknya saja sejengkal perut lebih diutamakan.

Tapi bukan berarti bisa menjadi pembenaran untuk harus mengorbankan siswa demi kepentingan pribadi kan? Hendaknya, guru atau tenaga pendidik juga mempertimbangkan adanya ultimates value yang terpendam dalam dunia pendidikan. Mencoba memaknai kembali lirik hymne guru ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ meski hanya setiap hari guru di ‘koor-kan’ .

Mengutip perkataan St. kartono, seorang pengamat pendidikan dan juga tenaga pendidik, “Guru, tenaga pendidik, harus mau ‘menghidupi’ pendidikan, bukan yang ‘numpang hidup’ dari pendidikan”.

Menjadi guru, sebenarnya adalah profesi membanggakan. Apa sebab? Karena sejatinya, guru adalah penerang dalam gulita, sosok andil dalam mencerdaskan anak bangsa. Guru berperan besar dalam menghasilkan pemimpin masa depan. Perofesi sebagai guru adalah bakti yang tak terukur.

Selamat jadi guru, untuk semua guru Indonesia, dimanapun membaktikan ilmunya, baik pada instansi negeri maupun swasta, dan apapun gelar serta golongannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s