“Garang sikit kita dulu sama dunia ni” (di ucapkan dengan gaya batak dan dialek Medan)

“Garang sikit kita dulu sama dunia ni”
(di ucapkan dengan gaya batak dan dialek Medan)

Komentar itu yang aku dapat ketika join ke status teman maya ku, Dina Lubis. Malam lalu, dalam status facebook nya kalau tidak salah ia tuliskan seperti ini: “baiklah, kita memasuki waktu Indonesia bagian galau. Banyaknya orang mengeluh, mengalirnya kata-kata nasehat, sedih dan putus asa”. Sebenarnya aku tidak begitu setuju dengan statusnya, itu sebab kemudian aku jawab dengan mengutip ayat Filosop Baruch Spinoza: “ketika aku mendapati sikap dan tingkah laku manusia, aku tak akan menertawainya, tidak akan menangisinya, juga tidak akan mengatainya. Tetapi aku akan membandingkannya pada diriku untuk mengambil pelajaran di dalamnya”. Lantas, ia jawab pula: “Garang sikit kita dulu sama dunia ni. Sorry dinn, aku lagi ada masalah”.

Nah, disinilah aku coba mengerti kenapa statusnya tertulis demikian, walau tak seharusnya kita mengatai apa yang dilakukan seseorang bukan? Akan tetapi, adakalanya disaat kita mengalami penurunan semangat, sedih dengan keadaan, dan terhimpit masalah, kita tidak ingin orang di sekitar kita turut meramaikan suasana sedih itu. Ikut menyemarakkan hidupnya dengan penuh duka dan lara. Sekalipun itu dalam dunia maya yaitu Facebook. Memang, disinilah letak kedewasaan dan kesabaran kita diuji dalam menimbang sesuatu dan segala hal. Misalnya ada rekan FB ku menulis seperti ini: ‘masih memikirkannya, aku mencintainya, apa dia juga mencintaiku ya’, atau ‘capek deh baru pulang kerja. Mana belom makan, uuhhh’, atau juga: ‘gimanalah nasib ni. Aku masih pengangguran dan pacar pun gak ada eaa…, dan lain sebagainya. Sejujurnya, aku juga geli-geli risih dengan berbagai status pilu, putus asa dan merintih-rintih tersebut. Pernah ada seorang rekan fb ku menulis: ‘cinta, kenapa kau terus saja menghantuiku’. Lalu aku komentari seperti ini: ‘hantui lagi lah. Jadi kuntil, pocong, suster ngesot atau apalah gitu. Kan banyak jenis hantu di Indonesia’. Haahh…

Tapi apa boleh buat, manusia punya hak mutlak menuliskan apa yang dia rasakan, terlepas dari lebay atau alay, buruk atau kemaruk, jelek atau brengsek. Kita hanya bisa mengamati, mengomel diam-diam dalam hati, dan tindakan bijaksana adalah log out, alias pamit undur dari FB.

Seperti yang pernah aku tuliskan bahwa, sifat manusia itu menular. Maka, bisa saja status pilu tersebut menular pada orang yang membacanya. Karena manusia punya sifat latah dalam dirinya. Oleh karena itu, kita harus menghadapi hal buruk tadi dengan menyemangati diri sendiri. Karena dalam diri kitalah kunci semangat itu ada.

Kenapa aku selalu mengatakan ini: dinna is great, keren, dan charming, tak lain tak bukan adalah untuk memberi semangat pada diriku sendiri agar tidak luntur dan latah terkena virus pilu. Begitu juga dengan ucapan teman mayaku Dina Lubis: “Garang sikit kita dulu sama dunia ni”. Ucapan biasa dari seorang yang biasa, tapi jika perkataannya diselami hingga ke akar-akarnya, bisa ditemukan cambukan kekuatan untuk menambah semangat mengarungi kehidupan.

(Thanks din, you’re rock, man..!! Mari bersama kita teriakkan: “Garang sikit kita dulu sama dunia ni” (dengan gaya batak dan dialek Medan tentu saja), untuk mengusir virus pilu yang kian mewabah.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s