Bagaimana kanda, masih ingin menagih cinta?

Bagaimana kanda, masih ingin menagih cinta?

Kanda, masih segar dalam ingatan ketika kanda menanyakan “siapa pemilik adinda” di saat kita bersama membahas agenda tentang negara. Negara  boneka  tepatnya.  “Tuhan”, adinda jawab demikian.

Tersenyum kanda kala itu. Indahnya.. Nyaris saja membawa dinda pada alam ketidaksadaran, meruntuhkan benteng pertahanan rasa yang sengaja dinda beton jauh hari sebelumnya. Segera dinda tepis, meski hilangnya tidak sempurna.

Keadaan genting, siaga I, sebab Negara Boneka di ancam bahaya. Kita dan kawan-kawan sibuk menyusun rencana penanganan pertama.  Masukan demi masukan bermunculan tak beraturan bahkan terkesan tak masuk akal dan mengada-ada. Interupsi demi interupsi berkelebatan di ruangan. Memantul-mantul di segala penjuru, timur, barat, selatan, hingga utara.  Begitupun, 20 menit skor sidang kanda pergunakan menyampaikan kata: “Dimana ada cinta yang besar, disana akan ada keajaiban”. Untung saja skor sidang berakhir masih lama, dinda yang pada saat itu menduduki posisi sebagai pimpinan sidang, bisa mengambil jeda menjawabnya: “silakan menunggu keajaiban, sejauh mana sanggup bertahan”.

Tak menyerah rupanya, mulai lagi kanda bersuara. Kali ini, melantunkan ayat cinta Gibran:

‘Pabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia, walau jalannya sukar dan curam. Dan pabila sayapnya memelukmu menyerahlah kepadanya. Walau pedang tersembunyi di antara hujung-hujung sayapnya bisa melukaimu. Dan kalau dia berbicara padamu percayalah padanya. Walau suaranya bisa menggetar mimpi-mimpimu bagai angin utara membinasakan taman. Kerana sebagaimana cinta memahkotai engkau, demikian pula dia akan menghukummu’.

Terharu aku mendengarnya ketika dengan sungguh-sungguh cinta itu kanda nyatakan. Namun, aku biarkan Rumi bernyanyi, untuk kanda nikmati: ‘Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan’.

Kanda terduduk dalam diam, dinda serahkan selembar coretan hitung-hitungan, agar kanda lebih paham.

Kanda yang baik.. Inilah kalkulasi cinta dinda:

Cinta pada Allah 60%, cinta pada Rasulullah 20%, cinta pada Ayah 6%, cinta pada keluarga 4%, cinta pada bangsa 3%, cinta kepada tulisan 5%. Dan sisa cinta dinda tinggal 2% saja.

Jadi, bagaimana kanda? Masih ingin menagih cinta?

Hening..  Kanda lesu dan membisu. Tak (belum) ada jawaban..

Skor berakhir, sidang di lanjutkan, kembali pada titik persoalan.

cinta
cinta?

Satu pemikiran pada “Bagaimana kanda, masih ingin menagih cinta?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s