Haruskah Saya (juga) Melupakan Prata

Haruskah Saya (juga) Melupakan Prata

Salah satu hidangan sarapan paling populer di Singapura adalah Roti Prata, di Malaysia dikenal dengan nama Roti Canai, kemudian di Indonesia bertransformasi menjadi Roti Cane sesuai dengan lidah orang Indonesia tentunya.

Roti prata berevolusi dari resep panekuk asli dari Pakistan dan India, dan menjadi favorit di Singapura. Meskipun bernama roti Prata (berarti “datar”), sebenarnya hidangan ini lebih menyerupai panekuk yang dibuat dari adonan yang agak manis dengan sedikit rasa, sangat sedap untuk disantap. Umumnya disajikan tawar dengan saus kari atau dhal. Tapi sekarang ini, Prata semakin membumi. Biasa disajikan dengan gula atau susu. Apalagi ditambah dengan Teh tarik atau kopi tarik. Maknyoss…

Dan lupakan sendok dan garpu ketika menyantapnya. Cara terbaik untuk merasakan keajaiban prata adalah dengan mencelupkannya ke dalam saus kari (biasanya berbahan daging kambing atau ikan) atau susu dengan menggunakan jari. Hanya dengan cara ini kawan-kawan akan memahami sepenuhnya istilah Amerika, “Finger licking good!” Rasanya, adjib, benar-benar  nikmat.

Jika di Singapura, tempat biasa saya mengunyah Prata adalah di Little India. Di Petaling Street, Malaysia, adalah lokasi dimana saya habiskan Roti Prata favorit. Bersama sepupu saya tentu saja.  Sedangkan di Medan, Sumatera Utara, bisa ditemukan Roti Prata di Killiney Medan Fair atau Killiney Sun Plaza.

Nah, dimanakah sumber masalahnya kenapa Prata akan saya lupakan padahal saya benar-benar merasakan manisnya kelezatan?

Lagi-lagi makhluk satu itu penyebabnya (dalih semena-mena ^_^).  Karena,  sayalah yang mengenalkan Roti Prata padanya kali pertama.  Karena saya pula  ia bisa dan biasa melahap Roti Prata pakai susu dan segelas Teh Tarik. Intinya, dimana ada Prata, disitu ada saya dan dia.

Sebagaimana telah saya jelaskan di catatan sebelumnya bahwa melupakan merupakan hal sulit , maka, hendak saya lupakan pula hal-hal yang berkaitan dengannya. Salah satunya Prata. Tapi, saya tidak yakin bisa melupakan Roti ini. Karena saya begitu tergila-gila padanya, begitu pula ia pada saya. Roti ini seakan-akan memanggil untuk menemani saya ngemil.

Saya masih ingat, begitu cepat jari dan tangan sang koki melakukan gerakan, melempar ke udara, lalu menampar dan memukul Prata sesaat sebelum disajikan untuk membuatnya empuk. Keren..!

Tapi, apa gara-gara ingin melupakan dia membuat saya harus (juga) melupakan Prata?

Tentu tidak jawabannya. Demi Prata, saya siap melakukan apa saja. (maniak ya saya ^_^). Bahkan jika harus dan terpaksa mengingat makhluk itu, saya rela.

Inilah tips yang saya lakukan ketika saya memakan Prata (lagi) setelah saya coba untuk tidak menyantapnya dalam waktu cukup lama:

sewaktu saya menggigit Prata, saya bayangkan bahwa saya turut pula menggigitnya.

Hahahahaaa… Sedikit kejam ya..the great prata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s