PELESIRAN KE TANGKAHAN

Tak perlu jauh-jauh dan ngeluarin doku habis-habisan jika ingin berwisata ke daerah keren tapi hemat, fresh, dan wonderful. Datang saja ke Tangkahan. Kita bisa mengelilingi hutan Tangkahan sambil melihat-lihat gajah dan orangutan. Cukup packing dengan dua atau tiga potong pakaian, uang secukupnya, dan bekal makanan, sampailah di area yang menyajikan panorama alam dan juga merupakan ‘paru-paru’ dunia ini.

Bahh… Masih belum tau juga? Baca terus tulisan saya yang akan diikut sertakan dalam kontes ‘Sumatera Utara Ini’ ya kawans.

Mengenal Tangkahan

Mungkin ada sebagian yang masih asing dengan tangkahan. Okey, no problemo. Sebab gaung tangkahan belum membahana kemana-mana, minim publikasi oleh pemerintah setempat. Jangankan di Indonesia, di Sumatera Utara sendiri Tangkahan masih merupakan tempat yang jarang didengar orang, kecuali untuk orang-orang yang bergerak dalam bidang konservasi.
So, wajar saja klo tangkahan gak up date di mata dan telinga.

Daerah ini memiliki hamparan hutan hujan tropis dataran rendah yang sangat luas dan kaya akan keanekaragaman hayati। Hutan Tangkahan berada di lahan seluas 792.675 hektar, diketinggian 3404 meter di atas permukaan laut dengan temperatur udara 21° – 28° C. Hutan Tangkahan masih merupakan bagian dari Kawasan Ekosistem Leuser. Kawasan hutan ini merupakan salah satu habitat asli dari Orangutan dan Gajah Sumatera. Sayangnya, sebagai habitat Orangutan dan gajah, data-data yang menjelaskan mengenai keberadaan dua satwa di lokasi ini masih sangat kurang.

Informasi penting, Tangkahan pun menyajikan hutan sangat lebat. Ber-khas hutan pantai dan hutan hujan tropika, hutan ini pun masih perawan. Di dalamnya terdapat beberapa sungai, sumber air panas, lembah, dan air terjun. Ekosistem alamnya sangat indah dan beragam, meliputi dataran rendah (pantai) hingga pengunungan. Terdapat banyak jenis satwa langka yang dilindungi, seperti kucing hutan, harimau Sumatera, rangkong, orang utan, siamang, ular, kupu-kupu, burung, gajah Sumatera, kambing hutan, dan rusa sambar. Selain itu, ditemukan juga tumbuhan pencekik (ara) dan tumbuhan langka lainnya, seperti bunga raksasa “Rhizanthes zippelnii” yang berdiameter 1,5 meter, bunga raflesia, dan daun payung raksasa. Yang lebih istimewa lagi di hutan Tangkahan ini adalah Gajah dan Tangkaran kupu, air terjun dan sungainya yang sering dijadikan sebagai arena Arum Jeram bagi youngers yang gemar tantangan alam.

Lokasi dan Transportasi

Tangkahan merupakan lokasi ekowisata yang letaknya berada di Desa Namo Sialang, Kec. Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Medan yang minim dengan ekowisata, menjadikan Tangkahan sebagai salah satu tempat wisata ideal yang menyegarkan mata bagi keluarga. Dibutuhkan waktu tempuh kurang lebih 7 sampai 8 jam dengan mengendarai mobil atau sepeda motor dari kota Medan untuk mencapai daerah ini. Memang, jarak dari kota Medan menuju Tangkahan relatif dekat yaitu 180 km. Berdasarkan pengalaman saya dan kawan-kawan yang sudah duluan kesana, jalan-jalan yang ada pada umumnya sudah rusak berat, sementara jembatan-jembatannya juga banyak yang sudah runtuh, sehingga untuk sampai ke kawasan itu kita harus rela menyeberang dengan memasuki tiga sungai yang salah satu diantaranya memiliki kedalaman hingga 1 meter. Medan yang ditempuh bisa mengocok perut. Karena masih banyak jalan bolong, berlumpur dan gak beraspal. Jadi, siap-siap mental saja kalau ingin segera meluncur ke te-ka-pe.

Oya, untuk menjelajah kesana, selain menggunakan kendaraan pribadi, seperti sepeda motor atau mobil, youngers juga bisa menaiki bus penumpang, Pembangunan Semesta (PS) jurusan Sawit Seberang. Rutenya mulai dari Kampung Lalang, Binjai, Stabat dan Masuk Ke Desa Sawit seberang dan terakhir menuju Desa Namo Sialang, Kec. Batang Serangan. Ongkosnya sekitar Rp 30.000,-/pp. Bus ini stand by masing-masing satu dari Medan dan satu dari Tangkahan dan beroperasi sebanyak dua trip per-harinya. Saat ini, Cuma bus PS sih yang bisa kamu gunain kesana. Sebab belum banyak travel agent yang membuat paket ke Tangkahan karena fasilitas akomodasinya belum terlalu lengkap.

Recommended and Most Wanted

Diapit oleh Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang, secara geografis Tangkahan berada di 030˚ 41’ 01’’ LU, dan 980˚ 4’, 28,2’’ BT। Menawarkan pemandangan indah dan udara segar yang menyejukkan, kita bisa menjadikan Tangkahan sebagai tempat pelarian melepas lelah dan penat di kota.

Obyek wisata yang menjadi andalan di Tangkahan adalah air terjun, pemandian air panas, gua-gua dan hutan alami. Selain itu, kamu tidak sekedar melihat, Gajah yang biasa dipergunakan untuk berpatroli menjaga hutan dari berbagai ancaman praktek pembalakan liar, kini juga bisa mengantarkan youngers berkeliling hutan dan tentunya membayar lebih dulu। Coz, hasil dari pembayaran itu akan digunakan untuk melestarikan alam dan memelihara satwa-satwa disana agar berkembang biak dan tak punah.

Dialiri Sungai Batang Serangan dan Kuala Bulu, di samping memberikan keindahan alam untuk dinikmati, Tangkahan juga berpotensi sebagai tempat penelitian। Misalnya klo kamu mau meneliti spesis langka atau mengamati prilaku satwa-satwa disana. Yang pastinya, daerah ini most wanted untuk segala bidang baik itu jalan-jalan, pendidikan, atau meditasi. Why? Soalnya, kita bisa menikmati alamnya yang asri dan hutannya yang masih alami, tanpa perlu takut terganggu polusi dan suara bising kenderaan.

Meski medan yang ditempuh cukup menyesakkan, namun banyak surga-surga alam yang tersembunyi dibalik Hutan Tangkahan. Dijamin tidak terasa letih ketika sudah menikmati panorama Alam Tangkahan yang begitu indah. Untuk penginapan, kita harus menyeberangi sungai yang begitu deras dengan menggunakan Rakit. Pastinya, gak terrible horrible deh buat yang doyan berpetualang. Penginapan di sana baru berjumlah sekitar 40 kamar, dan semuanya sederhana dengan tarif antara Rp 50.000 sampai Rp 100.000 per malam. Sebaiknya musti memesan lebih dulu pada para pengelola penginapan untuk menghindari kemungkinan kamar penuh.

Biasanya sih, pengunjung yang datang ke Tangkahan pada umumnya adalah masyarakat lokal ditambah wisatawan mancanegara a.k.a bule’. Mereka datang pada hari libur dan hari-hari besar nasional. Tapi, kalau mau mampir kesana di hari-hari biasa juga oke kok. Ngomong-ngomong nih, sebelum beraksi, kita harus melapor dulu ke pos Team Rangger (pengawas) yang selalu siaga di tempat ya. Supaya lebih safety.

Baiklah tuan-tuan danpuan-puan, seperti yang udah diingatin ke kamu, sebaiknya membawa bekal makanan ringan ke Tangkahan. Sebab di Tangkahan belum ada tempat makan sekelas restoran। Yang jualan makanan juga warga setempat, So bisa dibayangin makanan yang mereka siapkan ala kadarnya dan sederhana. Rasanya biasa-biasa saja, kecuali jika kalian mau berburu ikan baung bersama para ranger di malam hari, dan membakarnya sendiri di pinggir sungai yang jernih dan bersih.

Recommended sangat untuk back to nature.

awalnya setitik

Awalnya cuma setitik. Tumbuhnya di dagu. Manis kelihatannya. Sampai semua orang yang lihat jadi gemes dan berdoa, berharap mereka juga ingin punya setitik saja, di dagu. Apalagi kalau yang melihat itu orang-orang dulu. “idiihhh… manisnya ni anak” begitu kata mereka.

Masih ingat Rano Karno kan? Pemeran utama film Si Doel Anak Sekolahan, anaknya si Babe Benyamin S? Nah, bang Rano juga punya setitik di dagu. Rada besar, jadi kelihatan sangat jelas. Makanya orang-orang pada bilang kalau saya mirip bang Rano. Maksa kan?
Ada juga yang bilang kalau saya pasang susuk pengasih atau pemikat.

Haisshh… komentar beginian yang bikin saya agak repot menjelaskannya. Yang jelas, saya memang manis tanpa susuk apapun. Baik itu susuk pemikat, susuk pemanis, susuk ibu, susuk gigi, atau susuk sate.

Tahi lalat saya ini memang selalu jadi kontroversial. Iya, tahi lalat. Padahal setitikpun dari tahi lalat saya tak pernah mengganggu mereka. Tapi herannya, kenapa mereka merasa resah dan gelisah dengan tahi lalat saya. Selalu ada saja ejekan dan jadi bahan tertawaan. Mereka bilang WC lalat, tumor jinak, juga tato. “cuci pakai Rinso” ujar salah seorang teman yang bercandanya sampai tak tahu diri. “oohh… pakai kertas pasir saja, biar mulus”, kata teman yang terjangkiti virus psikopat ala film SAW.

Sebenarnya saya masih bisa memaklumi bercanda yang sama sekali tidak lucu itu. Tapi kalau terjadi tiap hari, bosan juga saya mendengarnya. Bahkan saking seringnya bercanda, agar minder juga saya dibuatnya. Sodara-sodara, rasanya ingin sekali-kali saya sumbat muncung mereka pakai high heel, biar tak berisik lagi.

Sekarang, tahi lalat saya bertambah setitik demi setitik hingga keseluruhannya (setelah saya hitung ulang) menjadi 15 titik. Itu hanya di bagian wajah saja. Belum lagi tahi lalat di daerah tersembunyi yang tak sempat saya hitung.

Namun, tidakkah mereka tahu bahwa tahi lalat membuat awet muda? Saya pernah membaca desas desus mengenai tahi lalat di salah satu berita. Para peneliti Inggris baru saja menemukan bahwa orang yang memiliki banyak tahi lalat ternyata dilindungi secara genetik dari banyak kerusakan akibat waktu, dan cenderung akan memperlambat proses penuaan.

Penelitian baru ini juga mengatakan bahwa orang bertahi lalat banyak tak hanya akan menunda keriput dalam usia matang, tetapi juga memiliki tulang yang lebih kuat, dan otot yang lebih kencang.

Kesimpulan ini diperoleh setelah peneliti dari King’s College London mengambil sampel 1.200 kembar perempuan identik dan tidak identik berusia 18-79 tahun. Dari jumlah tersebut, mereka yang memiliki lebih dari 100 tahi lalat di tubuh mereka ternyata memiliki tulang yang lebih kuat, sehingga kecenderungan untuk mengidap osteoporosis menurun 50 persen dibanding perempuan yang tahi lalatnya kurang dari 25.

Tahi lalat dibentuk oleh sel-sel yang memecah dengan cepat, yang mulai memproduksi titik-titik pigmen gelap pada anak-anak mulai usia empat tahun, dan akhirnya lenyap sekitar usia 40. Meskipun begitu, pada sebagian orang tahi lalat ini juga terus menyebar ketika usia bertambah. Pada saat itu Anda akan merasakan kulit yang bebas keriput dan mulus, yang membuat Anda jadi terlihat tujuh tahun lebih muda dari usia sebenarnya.

“Sampai sekarang, setiap orang masih mengabaikan tahi lalat,” kata pakar genetik Profesor Tim Spector. “Kebanyakan tahi lalat mulai hilang pada usia 40, tapi kami tahu bahwa orang-orang yang tidak terlihat tua dan baby face pada usia 60 cenderung memiliki banyak tahi lalat.”

Keuntungan lain dari memiliki banyak tahi lalat adalah otot yang lebih kencang, serta mata dan jantung yang lebih sehat. Hal ini lebih berarti daripada risiko kanker kulit, yang bisa berkembang menjadi melanoma maligna akibat paparan sinar matahari.

Maka, setelah membaca penelitian tadi, berbanggalah saya. Sebab banyak juga rupanya manfaat tahi lalat ini, meskipun jumlahnya menyemut di pipi. Dan saya semakin menyadari, Allah memang memberikan anugerah-anugerah keren buat saya.

ini foto saya. tahi lalat saya banyak kan ^_*

yuph..

ditinggal nikah

Pertama lihat dia langsung jatuh hati. Orangnya tampan, keren, berkulit coklat, dewasa, suaranya bagus, rapi, elegant, smart and nice looking. Menurut saya, dia itu idaman sebagian besar wanita keren dan berwawasan kedepan.

Saya mengenalnya saat masih kuliah di salah satu Universitas ber-flat merah di Sumatera Utara. Namanya Prabu Revolusi. Dulunya, dia berprofesi sebagai anchor di Trans Tv. Setelah itu, Prabu pindah ke Metro Tv dan menjadi anchor di berbagai program Metro Tv. Disitu, Prabu kelihatan semakin matang dan mempesona. Sehingga membuat saya juga semakin menyukainya. Bahkan saya pernah berkhayal ketemu Prabu. Dan parahnya lagi, saya telah jadi pacarnya dalam khayalan saya itu. Bolehlah disebut berharap.

Setelah lulus dengan mengesankan dari kampus, kira-kira setahun kemudian saya diajak tepatnya diminta oleh ‘orang pusat’ untuk menjadi koordinator kelahiran sebuah partai politik yang nantinya menjadi sangat popular dan bergengsi.

Singkat kata, salah seorang Ketua di Partai politik (bang Fadli Zon) diundang menjadi pembicara/debat di studio Metro Tv Jakarta. Otomatis saya dan rekan-rekan dari Partai Politik ikut menghadiri dan meramaikan acara debat tadi. Disitulah secara tak sengaja saya bertemu dan berpapasan dengan Prabu Revolusi. Feels like flying without wings sebab harapan saya untuk bertemu dengannya jadi kenyataan. Faktanya, lebih tampan yang asli dari yang di Tv. Saya pun semakin terkesima…

Desas-desus yang beredar (sebenarnya sih karena saya mengorek-ngorek informasi), Prabu telah menikah dan punya seorang anak. “sebelum jadi anchor dia juga sudah merit” kata teman yang punya info akurat tentang Prabu. Seketika itu juga, pupuslah niat saya ingin menggodanya. Maka, dengan segala kekuatan yang masih tersisa, saya berusaha bersikap professional yang segala daya upaya hingga berhujung kepada norak level lima.

Jadi rekonstruksinya begini,

Kami berpapasan muka, bertatapan mata, dan saling tersenyum. Setelah itu ia berlalu, saya ge-er terpaku, sambil berjalan tanpa melihat ke depan, kaki tersandung bangku.

Hasilnya, semua rekan-rekan yang ada di studio menertawai saya.
Sama sekali tidak keren. Bayangkan kalau kalian ada di posisi saya. Dengan gaya yang dipaksa elegant, berlagak politisi masa kini (sok kritis, suka ngomong meski ngawur, dan sok serius biar dikatain fokus), serta dada membusung bak model papan atas, akhirnya, berakhir pada kejadian memalukan. Sakit pula. Haaisshh…, malunya sampai ke ubun-ubun.

Meski demikian, sampai sekarang sosok Prabu bagi saya masih mempesona. Masih saya tungguin juga appearance-nya di Metro Tv , walaupun kadang-kadang terlewatkan. Masih saya cari juga informasi tentangnya di google. Dan tadi, saya dapatkan kabar kalau Prabu sudah melaksanakan akad nikah dengan Zeee Zee Shahab, pesinetron sekaligus panelis dalam acara Democrazy di Metro Tv.

Rupanya setelah sekian lama tak bertemu dan tak ada kabar, Prabu sudah divorce dari istrinya. Saya sih kurang tau mantan istrinya siapa, dan gak tahu juga kapan doi divorce. Saya juga sudah cari tentang profil lengkap dia di google, tapi gak ketemu. Tapi yang pasti, saya sedih ditinggal kawin sama Prabu Revolusi. Dan itu dikarenakan kekuranglihaian saya mendekatkan diri dengan orang yang saya sukai.

Mungkin saja sewaktu ‘masa duda’, si Prabu mencari-cari saya. Tapi karena gak ketemu-ketemu, lantas dia nyerah dan berlabuh pada Zee Zee.

Ya ampun…
Gak nyangka, saking ngebetnya saya jadi pinter buat cerita kayak sinetron Indonesia.

si Ungu punya pemilik baru

Tadi pagi, tak sengaja saya melihat jam tangan ungu dipakai oleh adik kecil saya, Arra. Jam tangan yang saya sukai dan hanya saya gunakan pada acara-acara penting. Jam tangan tersebut saya beli di Jakarta. Harganya cukup ekonomis daripada jam tangan lainnya yang harganya lebih mahal seperti Breitling, Seiko, Citizen, Rado hingga Westar.
Namun, si ungu tadi memiliki nilai sejarah ‘lebih’ dari jam tangan lainnya. Warnanya ungu metalik, bentuknya bulat simpel dan ke-12 angka di dalamnya tertulis utuh dan besar. Di berbagai kesempatan mulai dari tidak formal hingga agak formal, si Ungu lah yang menemani detik-detik yang terjadi dalam kehidupan saya. Sedang teman-temannya, saya simpan dalam kotak.

Sebetulnya, saya lebih nyaman menggunakan si Ungu. Mengenakannya di tangan kecil ini, tak pernah membuat saya was-was saat kemanapun pergi. Tak takut dibuntuti perampok, tak khawatir jika ia terkena sinar matahari dan saya juga tak pernah malu mengenakannya di event-event keren dan bergengsi. (Pssstt…, si Ungu ini ‘tak ber-merk’). Dari situ saya membuat kesimpulan bahwa, materi tak menjamin kebahagiaan hakiki.

So, apa pasal?

Si Ungu pindah lokasi. Semestinya ia berbaring manis dalam kotak putih transparan, tiba-tiba ia melingkar di tangan mungil Arra. Sewaktu melihatnya disitu, hati saya mencelos sampai ke perut. Mendadak kaki saya lemas, berkeringat dingin, dan mata pun panas. Rasanya seperti salah minum obat dimana ketika kau sakit gigi, tapi kau malah meminum obat pencahar.

Sebenarnya saat itu saya hendak menginterogasi Arra. Tapi segera saya urungkan niat tadi. Alangkah memalukan sekali sebab Arra tak tahu menahu perkara si Ungu. Adik kecilku itu hanya memakai saja, sisanya, ayah yang membuat semuanya jadi kacau.

Rupanya ayah memaksa si Ungu keluar dari tempat rehatnya. Diam-diam, tanpa sepengetahuan saya. Tanpa bicara, tanpa permisi, tanpa bertanya. Jadilah si Ungu berada di tangan Arra. Sungguh, saya kecewa pada ayah. Tak ada kata yang bisa saya tulis untuk mewakilkan rasa kesal dan kecewa. Maksud saya, bukan hendak menjadi Malin Kundang. Hanya saja, begitu banyak jam tangan yang tersimpan dalam kotak transparan itu, mengapa ayah harus mengambil si Ungu…

Tadinya ingin saya pinta, tapi, secepatnya saya sadar dan mengendalikan gejolak emosi. Karena apabila si Ungu saya ambil kembali, maka perang dunia pasti akan terjadi. Akibatnya, saya dan ayah akan bersitegang, saya dan ibuk (ibu tiri) akan semakin ribut, dan semua keluarga akan bersinggungan.

Akhirnya…, setelah mengingat, menimbang dan memutuskan…
Mungkin, persahabatan saya dengan si Ungu hanya sampai segitu dan disitu. Semoga ia baik-baik saja di tangan pemilik baru, di tangan kecil Arra. Lagipula berbagi rezeki sangat bagus bagi nutrisi jiwa. Seperti kata ulama, selama barang yang telah diberikan (dengan ikhlas) masih digunakan, maka, selama itu pula pahala akan tetap Allah berikan.

Ya, ditambah lagi belakangan ini saya selalu berusaha untuk berpikir praktis, dengan tidak mempersoalkan suatu masalah, akan tetapi lebih kepada merenungi masalah kemudian mencari solusinya. Saya tak ingin memperumit pikiran, tak ingin pula mempersempit sekeping hati.
Saya percaya, suatu hari nanti, saya akan mendapatkan jam tangan ungu yang lain lagi. Yang lebih keren, lebih bagus, lebih okey dan lebih berkah. Whatever, saya sayang Ayah, saya sayang Arra, dan saya sayang pada keutuhan keluarga saya.

Well, saya baik kan? Huhh…, tidak juga. Saya bisa melakukan tindakan ‘mulia’ (ikhlas) itu setelah menangis kecil, berusaha meredam-redam amarah, dan berkali-kali memikirkan alur dan akibatnya.

Terimakasih Ungu, telah setia menemani hari-hari saya, meski dalam waktu yang boleh dibilang amat singkat, namun worth it sangat.

selamat jalan philip

Akhirnya, kebersamaanku dan Philip hanya sehari saja. Setelah di suatu malam dingin dimana seorang anak kecil menjatuhkan Philip ke tanganku, kemudian dengan waktu yang amat cepat ia dijemput sang pemilik takdir menuju tempat baru. Meski pertemuan itu beberapa saat, hanya 24 jam, tapi merupakan suatu hal menyedihkan jika kau tak lagi bisa melihat orang yang kau sayangi. Dan itu, untuk selamanya.

Masih ingat dengan tulisanku tentang semut itu kan? Hewan yang sangat aku benci, menyebalkan serta hewan tidak sopan yang kerap mengakuisisi kopi? Nah, makhluk memuakkan itu yang melakukannya.

Kira-kira pukul delapan malam, Philip yang kutempatkan di dalam kotak bersama sepiring susu dan bubur roti, rupanya sudah dikerumuni semut kecil. Lalu segera kubersihkan seluruh tubuhnya dari semut-semut tadi. Kubalut ia dengan kain kecil agar tak kedinginan. Setelah itu Philip kumasukkan ke sangkar burung murai. Maksudku, supaya ia bisa bergerak nyaman dan leluasa. Karena sangkar burung murai itu cukup lebar dan tinggi.

Sebenarnya, hati nurani mengatakan bahwa keadaan Philip tidak akan aman bila ditinggal sendirian. Tapi, aku ini hampir selalu mengabaikan hati nurani. Aku sering tidak mempercayainya, padahal pada kenyataannya, jika hati nurani berfatwa, seringkali betul ada kejadiannya.

Nah, kepergian Philip ini cukup menyedihkan bagiku. Orang lain mungkin menganggapku lebay. Baru satu hari memiliki, tiba kehilangan, sudah nyelenehnya demikian. Ah, peduli amat. Aku memang mudah menaruh simpati, empati dan rasa kasihan terhadap sesama makhluk, tak terkecuali pada hewan. Apalagi Philip sudah mengerti dan mengenal orang yang mengasuhnya. Seperti ketika aku mengelusnya, matanya tertutup seperti tertidur. Philip juga mau minum susu dan bubur roti dari tanganku. Aku sayang Philip. Begitulah, sifat alamiah memang tak bisa disembunyikan. Tapi satu yang pasti, kesedihan karena kehilangan Philip masih bisa kuatasi dengan mengingat, bahwa ia kembali ke tempat Tuhan, tempat yang lebih baik dari tempatku tentunya.

Dua jam kemudian, aku pulang ke rumah dan menyempatkan diri mengintip Philip di sangkar burung murai. Kuperhatikan, kuamati, tapi Philip diam. Sangkar murai yang tergantung di besi kanopi kuturunkan. Dan Philip, telah berakhir di tangan semut-semut bangsat itu. Keadaannya menyedihkan, laksana mutilasi. Bulunya rontok, matanya bolong dan kaki mungilnya putus…

Tengah malam itu juga Philip kubersihkan. Kubungkus ia dengan koran bekas. Kuletakkan di teras samping rumah. Aku ingin proses ‘ritua’ terhadap Philip terjadi secara normal dan wajar. Coba pikirkan. Tak ada orang yang melakukan ritual terhadap jenazah pada tengah malam kan? Tak seorangpun yang ingin itu terjadi. Kecuali bandit atau penjahat yang berbuat tindak kriminal.

Keesokan paginya, aku bergegas menuju teras samping rumah untuk menjalankan prosesi. Namun Philip hilang. Ia tak ada lagi…

Philip, bertahanlah…

Malam itu, seorang anak membawa seekor burung kecil berwarna hitam di tangannya. Burung super mini, matanya belum terbuka dan belum bisa terbang pula.

“bukan kuambil dari sarangnya kak. Burung ini aku temukan di pinggir jalan, mungkin terjatuh dari pohon” ujarnya agak cemburut saat ia kuinterogasi tentang burung tersebut. Kemudian ia pun berlalu sambil menyodorkan burung kecil itu ke tanganku, “nih, untuk kakak saja”.

Syahdan, burung itupun menjadi milikku (sementara). Suaranya riuh dan kencang. Kubelai perlahan dengan tanganku yang cukup kasar. Kasihan sekali, bulunya belum tumbuh betul, tubuh mungilnya masih lemah dan ia kedinginan. Pasti Philip butuh belaian dan dekapan ibunya. Lalu kumasukkan ia ke dalam sangkar burung murai milik ayah. Kututupi dengan rumput gajah varigata, biar ia merasa hangat. Untungnya, mereka bisa hidup harmonis.

Oya, aku menamainya Philip, meski sampai sekarang aku belum tahu ordo dan jenis kelamin burung tersebut. Nama Philip kuambil dari dari nama His Royal Highness The Duke of Cambridge, William Philip Louis. Beliau adalah raja Inggris yang diinginkan oleh rakyatnya. Menurut sejumlah survey yang dilaksanakan jauh sebelum pernikahan William, telah menempatkannya menjadi calon raja yang diinginkan rakyat Inggris. Jadi bila besar nanti, si Philip bisa seperti Raja Inggris yang dicintai seluruh makhluk dunia. Dicintai dan dikasihi, bisa terbang bebas kemanapun ia mau, tanpa gangguan dari tangan-tangan usil penghuni bumi.

Tapi, Philip juga punya nama yang sama dengan merk bohlamp, dengan slogannya yang terkenal ‘terus terang Philip terang terus’. Semoga begitu juga dengan nasib si Philip.

Pagi ini, Philip aku tempatkan di dalam kotak bekas minuman ringan nutri jeruk. Jadilah ia punya rumah baru. Sebelumnya, kotak itu kulapisi dengan koran dan lebih banyak rumput gajah verigata. Kucoba membuatnya lebih nyaman agar ia bertahan.

Karena aku tidak tahu persis makanan baby bird, kuberi saja Philip minum susu dan bubur roti. Senangnya, Philip mau meminum susu serta mengunyah bubur roti tadi dari jari telunjukku. Mungkin terpaksa kali ya… Makanya ia ‘ngoceh’ terus. Atau apa kelakuan baby bird memang begitu?

Ohh…, sayang sekali di kota kecil ini tidak ada Dokter Hewan. Seandainya ada, segera Philip kutitipkan di klinik agar terawat dengan baik. Setidaknya Dokter hewan mengerti mimik muka, suara dan gerak tubuh hewan. Malangnya, mereka, Dokter Hewan itu, tidak begitu diperlukan oleh penduduk kampung kami. Penduduk disini memiliki sifat kanibal dan tak kenal mengasihani sesama makhluk. Sudah sering kuperhatikan penduduk kampungku menyiksa hewan. Seperti menendang kucing kecil, memakan ayam peliharaan sendiri, membiarkan ikan mas koki hidup tersiksa di aquarium yang airnya berlumut, mengikat kaki kumbang kelapa dan menerbangkannya bak layang-layang, juga membunuh kepik dan mengubur belalang hidup-hidup.

Tuhan, tolong jaga Philip ya. Jika Philip mulai besar, sehat, dan semakin kuat, ia akan kulepas ke alam bebas.

kamar sepi

I
Kanda,
pada kamar sepi ini,
ingin aku bertanya,
Bumi manakah
Yang tak pernah basah
Bila hujan mencurah?
Demikian jugalah cinta,
pasti letak silap dan salah

II
Pada kamar sepi ini,
Ingin aku bertanya,
Oleh sebab satu musabab,
Retakkah jalinan asmara?
Oleh cela yang tak sengaja,
Rusakkah cinta yang di bina?

III
Tengok pada kisah,
Urai pada makna,
Beribu cerita terbingkai indah
Oleh karena cela,
Segala hancur musnah

IV
Pada kamar sepi ini,
Kini,aku sendiri…